Tampilkan postingan dengan label Reviews. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reviews. Tampilkan semua postingan

IKEA Indonesia and Swedish Meatballs

I actually like IKEA. Not so much though, because I know I can't buy the things I like from the store. Some I can't afford, some I don't need, some others I can afford and need but have no place to put in my house. Those fluffy sofas, for example, are too inviting to sit on. Unfortunately, they're too bulky for this tiny nest.

Sebagian orang berbondong-bondong mengunjungi IKEA sejak toko ini resmi dibuka sejak 2 bulan lalu. Gue sebenarnya sempat menjadi salah satu orang yang ingin sekali segera mengunjunginya. It is wondrous, though, how this desire dissapeared in a blink of a moment due to some personal reasons. Diajak berkali-kali pun gue selalu menggelengkan kepala.

Sampai ketika seorang teman menghubungi dan mengatakan dia sedang mengalami burn out. Dia salah satu perempuan tangguh yang pernah gue kenal dan jarang sekali mengeluh, jadi ketika dia memakai kata burn out, gue tau dia sudah benar-benar ada di titik terberat. Saat itu dia hanya berkata dia butuh hiburan yang bisa dilakukan dalam satu hari dan, kalau bisa, hiburannya jalan-jalan ke IKEA. I laughed so hard. Burn out kok ya masih bisa milih mau jalan kemana :p Anyway, there we went on a weekday. Gue gak mau ke IKEA di akhir pekan. Pegel nyetirnya dan nggak sanggup lihat lautan manusia memenuhi dalam toko itu.

Singkat cerita, kami tiba di IKEA. Gue berusaha menetapkan hati untuk tidak membeli barang-barang yang tidak terlalu diperlukan sebenarnya. Tapi yang terjadi adalah gue keluar dengan menenteng satu tas besar berisikan barang-barang yang.....nggak terlalu perlu sebenarnya *sigh* In my defense, they're too cute to pass. After all, I might not go there again within a short period. Yari yari yara....

Datang ke IKEA pasti nggak lengkap tanpa makan Swedish meatballs toh? Dari IKEA lain yang pernah gue kunjungi, Swedish meatballs - versi halal - yang mereka jual cukup menyenangkan indera perasa gue. Tidak terlalu mencengangkan rasanya, tapi cukup membuat tenang. Comfort food, it is. Ini pula yang menjadi patokan gue ketika merelakan diri antri selama 15 menit sebelum bisa sampai ke counter tempat mengambil sepiring Swedish Meatballs - isi 10 butir - dan salad. Dan chocolate cake. Dan siomay goreng. Dan satu cake lagi. Dan satu lagi.....

Keanehan pertama sebenarnya sudah gue rasakan ketika melihat warna meatballs ini. Pucat tidak menggairahkan. Ketika diletakkan dalam piring dan diberikan sausnya kemudian gue merasa ada yang kurang. Apa ya? Aha! Where's the cranberry sauce? Sadly, petugasnya mengatakan, "Kami tidak menyajikan cranberry sauce-nya, mbak". Yaaahhh.. gimana jadinya ini? Singkat cerita, kami duduk dan siap menikmati makanan. In high anticipation I grabbed my fork and took one meatball and shoved it into my wide gaping mouth. Damn.... it's bland. Jadi ya saudara-saudara, meatballs ini sepertinya dibuat dengan standar meatballs Indonesia alias bakso abang-abang. Masa iya sih yang terasa cuma terigunya. Rasa dagingnya seperti menguap entah kemana. Padahal aslinya meatballs itu kan dagingnya yang lebih dominan. Penggunaan terigu hanya sedikit sebagai alat bantu merekatkan dagingnya supaya bisa dibulatkan. Ah, payah nih...

Terus karena penasaran, gue coba potong sedikit somay gorengnya. Hiks, nggak ada rasanya juga. Ya sudahlah terpaksa pelan-pelan dimakan walaupun sama sekali nggak menikmati.

Setelah selesai makan, coba cake yang atasnya putih itu. Itu Almond Cake, yang gue pikir bakal enak. Ternyata oh ternyata, rasanya manis bangeettt.... Sakit gigi rasanya begitu makan sesuap. I stopped eating it. Bukannya mau buang makanan tapi gue lebih sayang gigi dan kadar gula darah. Kue yang coklat itu lumayan enak walaupun nggak istimewa. Bisa deh menutup kekecewaan sedikit.

Dengan gontai kemudian kami membereskan baki makanan, memuat kembali botol bekas, tisu, dan dan piring bekas makan kami kemudian meletakkannya di bagian penyimpanan baki kotor. Hal ini yang masih belum disadari oleh banyak pengunjung. IKEA menerapkan sistem siapapun yang makan harus mengembalikan sendiri semuanya ke tempat peralatan kotor tersebut. Namun, gue melihat masih banyak meja yang berisikan peralatan kotor. Bukan cuma peralatannya, tapi mejanya pun kotor berantakan remah makanan dan tetesan air. Memang ini belum membudaya, tapi semoga pelan-pelan kita bisa mengubahnya.

Jadi kesimpulannya, kalau nggak terpaksa banget ke sana karena mau beli perabot, sepertinya gue nggak akan kembali ke IKEA dalam waktu dekat, Selain makanannya nggak enak, hati ini pun teriris sembilu kalau harus sering-sering ke Alam Sutera *curcol dikit sebagai penutup*







Seigo Dakgalbi

Gue bukan penyuka produk Korea, mau itu artisnya, musik, film, bahkan makanannya. Sekitar 3 tahun lalu, gue pernah pergi berdua seorang teman untuk makan di sebuah restoran Korea di Setiabudi. Awalnya semua berjalan dengan baik, makan ini itu dengan enak tanpa ada keluhan dan tanpa berlebihan. Setelah makan, kami duduk-duduk sebentar sambil ngobrol dan menurunkan makanan di perut. Tiba-tiba perut gue bergejolak dan mengakibatkan mual, seperti mendorong semua makanan tadi kembali ke kerongkongan. Untungnya, restoran ini letaknya berdekatan dengan toilet. Setelah keluar dan agak berlari gue berhasil mencapai toilet dalam waktu 2 menit, mendorong pintu, dan langsung terjadilah proses pengosongan perut yang menjijikkan. Semuanya keluar tanpa sisa. Habis...

Sejak saat itu gue merasa mungkin memang gue tidak cocok dengan bumbu-bumbu yang dipakai dalam masakan Korea dan memilih untuk menjauhinya. Sampai beberapa saat lalu ketika bertemu dengan teman-teman kuliah dan bingung mau makan di mana. Entah kenapa gue punya ide gila untuk masuk ke sebuah rumah makan Korea yang ada di gedung itu. "Uji nyali", itu yang ada di pikiran gue.

 Ketika kami masuk ke restoran, lalu duduk, dan diberikan menu, kami hanya saling memandang sambil senyum-senyum. Empat orang perempuan yang tidak bisa akrab dengan produk Korea dan mencoba membaca menu yang tulisan nama makanannya semua dalam bahasa Korea tanpa penjelasan dalam bahasa
Indonesia sepertinya bisa menjadi pemandangan yang lucu. Setelah puas melihat-lihat gambarnya, kami memutuskan memanggil seorang pelayan untuk membantu menjelaskan. Sang pelayan dengan senang hati menjelaskan ini itu tentang beberapa hidangan yang menurut kami menarik gambarnya. Sayang sekali, gue lupa total apa nama masakan-masakan ini. Nggak ada niat untuk mencatat nama makanannya saat itu karena memang sedang malas ngeblog. Jadi, inilah yang kami pesan.

Mulai dari foto kiri atas, kalau nggak salah ini Toppoki, semacam appetizer. Menurut gue sih ini cuma cilok ala Korea aja. Teksturnya liat dan agak gurih, persis seperti cilok. Bedanya, cilok dimakan dengan bumbu kacang, Toppoki dimakan dengan semacam saus tomat yang dicampur saus sambal dan ditaburi keju mozzarela lalu dipanggang sebentar sampai kejunya meleleh. Harganya kalau nggak salah sekitar 50 ribu Rupiah.

Foto kanan atas itu bibimbap yang isinya adalah nasi, irisan wortel, lettuce, jagung pipil, daging iris tipis yang diberi sesendok sambal ghojuchang dan dibakar kemudian ketika akan dimakan kita aduk sendiri agar semua bumbunya tercampur. Porsi ini sepertinya cukup mengenyangkan untuk dimakan sendirian. Layak dengan harganya yang 55 ribu Rupiah.

Foto kiri bawah, lupa namanya. Ini semacam shabu-shabu tapi dengan kuah yang asam pedas (tapi beda dari tomyam). Kami pesan porsi besar waktu itu, dan sepertinya cukup untuk 5-6 orang. Isinya ada berbagai sayuran, jamur, tahu, dan bakso. Cukup enak. Agak lupa harganya, mungkin sekitar 200 ribu Rupiah.

Foto kanan bawah, ini makanan penutup. Isinya es serut disiram cairan putih lalu diberi toping buah-buahan, bulatan mutiara dan es krim. Ketika teman gue pesan ini gue pikir gue nggak akan suka karena kelihatannya manis sekali. Ternyata gue salah, tingkat kemanisannya pas dan enak, dan dari yang niatnya mencicip sesendok ternyata malah gue minta segelas kecil. Sambil makan gue bilang, "Ini enak banget sih es. Gurih gini. Pakai susu apa ya". Dan, dengan santai teman gue menjawab, "Kok susu sih. Ini kan whipcream cair yang bercampur es krim, ya jelas enak banget". Demi mendengar ini gue langsung meletakkan sendok dan berhenti makan. Whipcream?? Iya pantesan enak, tapi lemaknya banyaaakkkk :))


Lokasi: Tebet Green, lantai 2

Marugame, a treasure worth keeping



Di sekitar awal tahun 2000 ada seorang teman di Bandung yang memang jago masak dan pernah tinggal di Jepang sehingga bisa mempelajari beberapa masakan langsung dari sumbernya kemudian membuka rumah makan mungil di wilayah Setiabudi. Orang ini yang pertama kali memaksa gue untuk makan sushi dan sashimi yang saat itu buat gue amit-amit banget untuk disentuh. Di rumah makannya ini salah satu menunya adalah Udon. Entah kenapa waktu mencicipi udon masakannya, buat gue itu adalah udon terenak yang  pernah gue dapat. Sayangnya karena kesibukannya, rumah makan itu tutup sekitar setahun kemudian. Akibatnya gue mengalami kesulitan untuk mendapatkan udon yang enak lagi.

Sampai dengan sebulan lalu gue menjalani pencarian udon yang bisa menandingi masakan teman gue itu. Hasilnya nihil. Udon yang gue makan 10 tahun lalu itu tetap udon terenak.

Nah sebulan lalu ceritanya lagi ngumpul sama pasukan 3LA di Kota Kasablanka dan dapat info di lantai bawah baru dibuka gerai udon langsung dari Jepang yang sudah terkenal. Marugamen namanya. Dengan agak skeptis karena merasa tetap tidak akan bisa mengalahkan yang dulu, gue setuju untuk makan di sana.

Menu pertama yang gue cicipi sesuai rekomendasi adalah Niku Udon, yaitu semangkok udon dengan kuah bening yang hangat. Hal yang menarik dari gerai ini adalah setiap porsi udon ditimbang supaya sesuai standarisasi, begitu juga jumlah kuah dan dagingnya yang ditakar menggunakan semacam sendok sayur. Setelah mendapatkan udon dan sebelum sampai ke kasir ada counter untuk berbagai macam gorengan. Gorengan gitu loh, as unhealthy as it always is, gue pasti ambil. Kali ini pilihannya adalah Kakiage atau sayuran iris goreng. Bakwan Jepang lah :p



Saudara-saudara sebangsa setanah air... ternyata ini adalah akhir penantian gue. Pertama kali kuah udon itu menyentuh lidah gue, rasanya seluruh titik perasa di situ melonjak-lonjak kegirangan. This is it! Ini udon yang akhirnya bisa mengalahkan masakan teman gue. Sampai terharu makannya wkwkwk... Tentu saja akhirnya mangkok pertama gue habiskan sampai tandas, sampai titik kuah terakhir.

Menu lainnya yang sudah gue coba adalah beef curry udon. Gue adalah pecinta kari. Dan gue cukup picky when it comes to curry. Marugame’s beef curry is just like the best of all Japanese resto in Jakarta.
Terlebih lagi, waktu itu gue coba gorengan lainnya yaitu beef croquette. Dang! Endang gulindang!



Minggu depannya karena udah ngidam lagi, gue ajak nyokap makan di situ. Kali ini gue coba yang mentai kaketama (mudah-mudahan nggak salah namanya) yaitu udon basah panas yang dituangi telur ikan terbang dan telur ayam dengan kuning telur yang masih mentah. Mentah? Iya. Jijik? Nggak lah wong gue suka banget telur setengah matang. Nah, sebenarnya ini asiknya. Udon yang disajikan hangat harus cepat-cepat diaduk dengan kuning telur itu. Yang terjadi kemudian adalah kuning telur menjadi matang, persis kalau kita makan bubur ayam Sukabumi J. Rasanya? Unik dan enak banget.




 I can't say enough deh tapi pokoknya kalau suka dan bisa makan udon, this one is really to die for. Selain di KoKas, Marugame ada di Gandaria City dan Mall Taman Anggrek.
Lucky me, kalo lagi pengen ya tinggal jingkring naik bajaj ke situ. Masih ada beberapa menu lain yang belum gue coba. Salah satu yang menarik yaitu udon yang disajikan dengan kuah kaldu dan bakso ayam. Hhhmmm....



Lokasi: Kota Kasablanka, lantai LG

Ikuze

Hiruk pikuk kesibukan Jakarta seringkali membuat penduduknya tidak lagi punya banyak waktu untuk sering berjumpa dengan teman lama. Jadwal yang sering bentrok, kemalasan menembus macet, atau kelelahan seringkali menghalangi niat.

Waktu mendadak ada teman lama -yang sudah sangat lama nggak bertemu walaupun jarak rumah kami kurang dari 5 kilometer- mengajak bertemu, tentu gue sambut dengan gembira. Niat awal bertemu hanya bertiga, tapi ternyata bertambah 3 orang dan 2 krucil lagi. Rame :D

Kali ini pilihan jatuh ke mal yang sepi, dan dekat rumah banget, supaya bisa nyaman ngobrol. Epicentrum. Ketika sampai di sana, mal ini benar-benar nampak lengang sehingga membuat leluasa memilih tempat makan.

Dan pilihannya jatuh ke Ikuze, makanan Jepang (lagi). Entah kenapa waktu melihat foto makanan di menu yang diletakkan di luar, gue merasa ini pasti enak. Masuklah kami ke situ dan langsung ganas meneliti daftar menu. We need something quick! Lapaaaarrr.....


Ronde pertama dibuka dengan Chef Tri Fushion Roll, yaitu gulungan panjang sushi dipotong menjadi 6 bagian dengan isi ketimun dan crispy tempura flour dilapisi di bagian atas dengan salmon mentah dan rumput laut. Perasaan gue soal restoran ini memang benar. Sushi pertama ini enak banget,
memberi kesan segar, sampai kemudian kami memesan 1 porsi lagi. Dan tetap enak alias konsistensi rasanya terjaga.

Oiya, sebenarnya ada Gyoza yang kami pesan sebagai makanan pembuka tapi entah kenapa kok malah datang belakangan. Gyozanya juga gue rekomendasikan. Rasanya seimbang antara gurih dan asin, dengan bumbu rendaman yang menarik. Cukup enak biarpun belum bisa menandingi buatannya pemilik blog Somamiko lah.

Menu berbagi lainnya adalah King Shake Gyu Roll yang berisikan belut, salmon matang dan bagian atas dilapisi dengan lelehan mozarella dan mayonaise. Sebenarnya cukup enak, tapi tidak sesegar rasa menu pertama.

Ternyata dua sushi roll dan satu gyoza belum cukup untuk kami. Sasaran berikutnya adalah Beef Miso Ramen dengan satu versi pedas dan satu tidak pedas. Ramen ini datang dalam keadaan, menurut gue, kurang panas mengepul. Versi pedas jauh lebih enak dari non pedas karena ternyata rasa miso (tauco) dalam kuahnya terlalu kuat sehingga membuat rasanya sangat asin ketika tidak dipadukan dengan cabai. Daging sapi dalam ramen ini enak banget. Empuk, juicy dan berbumbu sedap. Rekomen juga deh untuk yang ini.

Sebenarnya dua orang diantara kami memesan Beef Nabeyaki Udon dan Shabu Wagyu tapi dikarenakan kehebohan krucil yang disebabkan tante Dian gak sengaja mengakibatkan jarinya bocah kejepit *hiks* jadinya lupa mau gerecokin nyicip.

Sebagai penutup, sebagai pecinta ogura, gue merayu yang lain untuk share 1 cup es krim ogura. Dan, nggak rugi pesan ini. Enak juga. Tingkat kemanisannya juga rendah, sesuai selera gue. Just right.
Secara keseluruhan acara makan ini menyenangkan. Makanan enak, resto sepi, ngobrol leluasa sampai bisa ngakak, harga nggak juga bikin kantong jebol. Suatu hari pasti gue balik lagi ke sini

Mika

Minggu lalu gue ketemuan dengan beberapa teman kuliah yang bekerja di beberapa bagian Jakarta dan, kebetulan, kemudian sepakat memilih Kota Kasablanka sebagai tempatnya. Beruntung gue dong ya yang tinggal jingkring ke situ :D

Seperti biasa, gue tiba lebih dulu dan artinya gue berhak memilih tempat pertemuan. Ada satu resto yang memang sudah sejak sekitar sebulan lalu gue incar untuk didatangi; Mika.

Satu hal yang membuat gue tertarik untuk memasuki Mika adalah dekorasinya yang berkesan nyaman dengan sofa besar dan berbagai buku yang diletakkan di meja dan rak dinding sehingga membawa otak gue memikirkan enaknya menikmati waktu luang dengan duduk di situ minum kopi sambil pegang Kindle.

Sambil menunggu gue memutuskan untuk memesan Teriyaki Salad dan Iced Latte. Pelayan cukup ramah dan kembali ke meja gue untuk menghidangkan makanan dalam waktu kurang dari 10 menit. Ok, satu nilai bagus.
Waktunya mencicipi tumpukan lembaran daun rocket, lettuce dan lainnya (yang gue gak tau namanya :p) setelah disiram saus kental berwarna coklat. Oh la la... Rasa sausnya sangat segar, nggak bikin mblenger, dan merupakan perpaduan asin teriyaki dengan sedikit asam dan miso yang tipis. Dedaunan yang segar menimbulkan sensasi krenyes ketika dikunyah. Jempol.  Iced lattenya, sesuai perkiraan, nggak terlalu pekat. Cukup aja lah.



  Oiya, kemudian gue pesan Chawan Mushi yang datang dalam mangkuk agak besar sementara harganya hanya 15 Ribu. Enak sih, tapi nggak terlalu gue rekomendasikan.
Seorang teman kemudian tiba dan langsung memesan makanannya. Kelaparan berat mungkin ya :D Dengan dalih makan bareng, dia memesan Fish Katsu with Egg Mayo yang sebenarnya adalah fish and chips versi fushion, dan Salmon Tataki. Kedua makanan kembali disajikan dalam waktu kurang dari 10 menit. Fish Katsu ini rasanya sederhana banget tapi menurut gue justru itu yang membuatnya enak. Rasa lada dan garam yang seimbang, digoreng dengan kematangan yang pas, dimakan disertai dengan egg mayo. Dua jempol.

Salmon tataki disajikan dalam piring panjang berisi 4 buah sushi dengan topping salmon mentah dicampur dengan bumbu seperti mustard tapi tidak keras dan sesuatu beraroma miso. Ini....enak banget juga. Tiga jempol.


Menurut informasi pelayan, sebenarnya menu unggulan resto ini adalah Omu Rice tapi sayangnya waktu itu kami sama sekali tidak berminat makan nasi, jadi terpaksa harus dilewatkan dulu.

Setelah yang lain tiba dan sudah puas ngobrol, kami memesan satu menu penutup untuk dimakan bersama. Bukan pelit, perutnya udah begah. Pilihan jatuh pada Choco Lava dengan green tea ice cream. Hhhmmm... Gini ya.... Choco lava ini adalah menu yang gampang banget ditemui di berbagai resto. Hampir semua resto di mall punya menu ini. But, I have to tell you this: choco lava di Mika uenak buanget! Ketauan bahwa mereka pakai merek coklat yang bagus jadi walaupun sederhana, rasanya nendang. Langsung lima jempol! 

Malam itu menjadi malam yang menyenangkan, diisi dengan obrolan dari gak penting sampai penting banget, dan ketawa-ketawa gak jelas. Makanan yang enak dan memuaskan juga jadi penyumbang kebahagiaan hehehe...




Oiya, beberapa hari setelahnya gue kembali ke KoKas bareng teman-teman 3LA. Dan, gue menggiring mereka ke Mika juga hehehe... Kali ini gue pesan spagheti Pesto (you who know me well would say, "yeah right..." :p). Overall, spaghetinya al dente dan pestonya enak. Hanya saja, gue kurang suka kacang dalam pesto itu nggak digiling terlalu halus jadi masih brindilan. Tapi bukan masalah besar lah.


Waktu itu pesan minum yang namanya My Sister's Favorite yang merupakan campuran jus strawberry, syrup granadine dan sprite. Enak sih, tapi memang lidah gue nggak suka minuman manis ya.

Kesimpulannya, resto ini menyajikan makanan yang layak untuk dicicipi. Jangan berpikir enaknya makanan di sini seperti enaknya makanan yang disajikan dengan tema fine dining. This is more like comfort food yang membuat mood langsung gembira ketika suapan pertama masuk ke mulut. Gue pun suatu hari akan balik lagi, dengan mempersiapkan diri pas lapar, untuk coba Omu Rice. Barengan yuk!



The Playground

So, last night we had another meeting for coming three events and this time I jumped ahead of the others and picked the place. It's a place I eyed a month ago and had read about a couple of times.

Frankly, I haven't had a striking dish lately. Don't take me wrong, I have had delicious meals but nothing beyond imagination that makes me wanna beg to come back. I'm searching for a dish that sorta gives me a punch. Perhaps, a five Michelin dish? :p

We went to The Playground at 4th floor of Plaza Indonesia extension which, according to some recommendations, serves good food. There were 12 of us so we really tasted the whole page of the menu. Except for the four-legged section.

I ordered Queyaki Chicken which is basically a grilled chicken breast served with bbq sauce and potato croquette. The serving size is okay, but it just tastes so-so. People around me ordered Fish n chips, which is very nice -yeah a restaurant of that calibre must at least serve good fish n chips, spagheti cooked in Japanese taste with lots of chili flake (this is also so-so), and a kind of spagheti bed topped with chicken katsu. Then, there's another portion of chicken breast with pesto. Being a big fan of pesto, I automatically tried it right from my friend's plate. The pesto was mixed with yoghurt which, in my opinion, leaves a sweet after taste. Not something I fancy. I prefer the classic pesto with lots and lots of basil leaves. Two of us ordered fried Dory fish wish some kind of tangy and super-hot-with-fresh-chili sauce, and another ordered chili dog.

Apparently, I would like to differ from many other people out there who have praised this restaurant. It is a good place with good vibe to hang out, but if you're looking for foods that'll make you feel that it's worth going through the nerve-wrecking and V-power-fuel consuming traffic just to eat there, it's not the place

Pedasnya sambalku

Semua orang sudah tau bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dengan berbagai jenis rempah-rempah. Portugis dan Belanda aja dulu menjajah negara kita karena mau menguasai rempah-rempah itu kan?

Di tangan banyak orang kreatif rempah-rempah itu terolah menjadi berbagai makanan super lezat dan kaya unsur. Gak mungkin lah ada orang Indonesia yang nggak bangga dengan kekayaan kuliner yang sebegitu besar dari Sabang sampai Merauke.

Ada satu ciri khas yang gue temukan hampir sama di semua wilayah Indonesia yang pernah gue datangi. Apapun makanannya, pasti ada pelengkapnya. Sambal... Iya, sambal. Namanya boleh berbeda-beda di tiap daerah, tapi tetap aja bentuknya sambal. Dan gue beruntung sekali dibesarkan sebagai orang yang bisa melahap makanan sepedas apapun tanpa harus khawatir ada  masalah di perut. Asal tau diri aja sih kapan harus berhenti.

Beberapa tahun lalu ketika gue ada di wilayah Mamuju (sumpah gue gak tau lagi sekarang masuk di propinsi mana kabupaten ini, yang pasti di Sulawesi, pokoknya gue ingetnya jumlah propinsi 27 aja sama kaya waktu SD :p) untuk urusan pekerjaan dan mampir di sebuah warung makan. Di mejanya tersedia sepiring kecil cabe rawit kecil-kecil. Supir yang mengantar kami mengatakan, "Mbak, makin ke timur Indonesia, makin pedas cabenya. Mbak coba cabe ini dan bandingkan dengan cabai di Jawa sana". Dengan tingkat PD yang 2 juta tingkat, gw ambil satu cabe rawit sepanjang 1cm itu dan memakannya beserta sesendok nasi. Yang terjadi detik berikutnya adalah gue menenggak segelas penuh air putih. Puedes!! Sejak itu gue berusaha membuktikan teori ini, dan ternyata makin sering gue temui kebenarannya. Cabe di wilayah Timur Indonesia memang nendang banget rasanya.

Bicara tentang aneka ragam sambal rasanya gue pengen ngobrolin beberapa macam sambal yang jadi favorit gue dan harus selalu ada menyertai makanan yang gue santap. Apa aja ya?

1. Sambal terasi

Rasanya ini sambal paling standar yang hampir pasti pernah mampir di sebagian besar dapur rumah tangga di Indonesia. Gue gak gitu yakin sih dengan saudara-saudara kita di Papua, mereka makan sambal terasi nggak. Kecuali kalau mereka makan di warung yang penjualnya pendatang, pasti sudah kenal sambal ini.
Bahan dari sambal terasi ya cuma cabai, bawang merah, bawang putih, garam, sedikit gula kalau mau, dan sang bintang... Terasi.
Ada berbagai versi yang memenangkan terasi dari Cirebon, Surabaya, Lombok dan sebagainya. Buat gue mah gak penting terasi asalnya dari mana, yang penting wuenak.

2. Sambal Bawang putih

Hhhmmm... sejujurnya lidah gue langsung basah oleh liur membayangkan ini. Di rumah gue, sejak kecil, ini sambal darurat kalo nyokap lagi malas masak. Tinggal tumis sedikit cabai, ulek bersama banyak bawang putih dan garam. Sajikan bersama nasi panas dan telor dadar. Saudara-saudara sekalian, nikmat mana lagi yang mau kita dustakan.

3. Sambal Matah

 (Maaf fotonya ngambil dari internet soalnya nggak ada arsip)

Ketika mulai beranjak dewasa dan menjelajah makanan negri ini, berkenalanlah gue dengan si cantik yang bernama sambal matah ini. Matah artinya sih sebenarnya mentah. Biasanya nemu sambal ini kalau diajak makan di restoran masakan Bali. Belakangan kalau ke Bali bela-belain ke Bebek Bengil bukan karena kepengen bebeknya, tapi karena sambal matah yang menemani bebek itu enak banget. Gue bisa minta tambah satu piring sambal matah aja dan habis tuntas gue makan tanpa harus nambah nasi atau lauk lagi.
Irisan bawang merah mentah, cabe, sereh dan tetesan air jeruk nipis ini hanya butuh guyuran minyak kelapa panas untuk bisa mendapatkan rasa maksimal. Kunci kenikmatannya memang di minyak kelapa asli. Sudah beberapa kali gue makan sambal matah yang memakai minyak goreng biasa, rasanya kurang oke.

4. Sambal Mangga

Mangga muda aja udah bikin ngences sampai tumpah, apalagi ditambah sambal yang pedas. Coba bayangin ya, duduk di bawah pohon rindang, pegang Kindle, baca buku favorit, sambil nyocolin gorengan apapun ke sambal mangga. Nyaaaammm.... *elap ences*

Oiya, setelah kepedasan minumnya es pencit alias es mangga muda asam manis. Wooohhhooo..... adem deh


5. Sambal Dabu-Dabu

Gak aci deh ngomongin makanan pedas dan sambal kalo nggak ngomongin makanan Menado. Di Jakarta jagoan buat makanan Menado pasti Beautika dong ya. Gak ada yang ngalahin lah buat gue. Tapi pedasnya makanan di Beautika masih gak ada apa-apanya dibanding di tempat aslinya di Menado sana. Ampuuuunnn pedesnya sampe kulit kepala itu rasanya gatal semua biarpun baru makan sesuap. Jadi untuk yang perutnya nggak kuat banget mendingan makannya cukup sup branebon aja lah :p Nah makanan Menado nggak akan lengkap tanpa sambal dabu-dabu. Potongan tomat hijau segar, bawang merah, cabe dan irisan jeruk nipis. Ambil seujung sendok, taruh di atas sesendok nasi, tambahkan secuil lauk, suapkan ke mulut... Enak kan? Pasti lah enak!
6. Sambal colo-colo

Nah baru-baru ini gue pergi kerja di Kendari. Malam pertama gak bisa makan blas karena stres *curcol*. Baru di hari ke dua setelah lega gue bisa makan. Langsung diajak makan ikan bakar di suatu tempat bernama Alamo yang konon terkenal karena makanannya enak. Sampai di sana gue males banget rasanya makan ikan. Akhirnya 5 teman yang lain pesan ikan, gue pesan cumi dan udang. Sebelum makanan dihidangkan, pelayan mengantarkan beberapa porsi racikan sambal ke meja.

Masing-masing orang juga diberikan piring kecil untuk meracik sambal ini. Urutannya gini, ambil tomat merah dan kuning di sudut kiri dengan jumlah yang kita mau, tambahkan bawang merah mentah kalo mau (gue nggak), tuangi sambal kacang di sudut kanan, aduk. Kemudian ambil cabe rawit dan potong-potong memakai sendok sambil agak digerus supaya pedasnya merata (gue pakai 4 bibir udah jeding kepedesan). Bagian terakhir adalah memeras beberapa buah jeruk nipis dan diaduk lagi. Oiya, Kendari terkenal dengan bawang gorengnya yang enak banget (Btw, sambil nunggu gue nemu ada setoples kecil bawang goreng di meja yang memang dijadikan pelengkap. Gue cemilin aja itu bawang goreng. Habis bis bis licin satu toples penuh :)) :p ) terus gue campur sedikit bawang goreng untuk menggantikan bawang mentah yang gue gak suka. Setelah itu gue cicip untuk tau perlu tambah apa. Perfecto! That dinner was awesome dengan tambahan sambal racikan sendiri ini.

7. Sambal Roa

Gue agak ragu sebenarnya ini masuk kategori sambal beneran atau nggak mengingat dominasi ikan roa itu sendiri. Buat gue sambal roa ya udah jadi lauk tersendiri bukan kondimen seperti sambal lainnya. Coba aja deh sambal roa dimakan bareng nasi panas. Udah deh itu mah... Sebakul juga abis

8. Sambal Peda

Ini juga serupa dengan sambal roa. Sambal dari cabai hijau, terasi, bawang putih dan banyak ikan peda yang diulek halus. Campur nasi panas, telor ceplok. Maaaaaaakkkkkkk... Ada pak lurah lewat juga cuekin aja dah.

Itu memang cuma sekelumit dari berbagai jenis sambal yang ada di ranah kuliner Indonesia. Yakin banget masih banyak jenis sambal yang harus gue coba dan jelajahi.

Nyok berburu sambal...

Tahu Petis Semarang Yudhistira

This is a lazy Sunday in deed and neither me or mom intended to cook any meals. Off we all went out to lunch and groceries shopping at Grand Lucky.

Dalam perjalanan menuju wilayah SCBD tiba-tiba gue teringat akan melewati wilayah Santa dimana terdapat penjual kudapan yang sudah lama nggak gue kunjungi. Sebenarnya "kisah cinta" gue dengan kudapan ini cukup aneh.

Nyokap gue berasal dari Semarang namun sayangnya waktu kecil gue jarang dibawa mudik ke sana karena eyang dari pihak nyokap meninggal waktu gue  masih SD dan kebanyakan pakde bude om tante tinggal di Jakarta. Kunjungan terakhir gue ke Semarang setahun sebelum eyang perempuan meninggal. Gue masih ingat banget pada suatu malam om gue pulang ke rumah eyang dengan membawa sebungkus besar makanan. Begitu dibuka gue melihat tumpukan tahu goreng yang diisi sesuatu berwarna hitam. Saat itu baru gue ketahui bahwa ini yang disebut sebagai tahu petis. Semua orang dewasa yang hadir saat itu berusaha membujuk gue untuk mencicipinya. Dan gue sukses muntah setelah gigitan pertama. Amis!

Ketika mulai bekerja di sebuah serikat pekerja negara kakek Sam, seringkali gue diharuskan melakukan perjalan ke Semarang. Suatu ketika, beberapa sejawat dari kantor membawa gue jalan kaki ke suatu tempat dan ternyata mereka membeli tahu petis. Awalnya tentu gue menolak mencoba karena trauma dengan pengalaman muntah, tapi bujuk rayu kelompok 4L (laper lagi laper lagi) memang dahsyat. Akhirnya dengan berat hati gue mengambil sebuah tahu dengan perjanjian kalau gue gak suka, harus ada yang bersedia menghabiskan sisanya. Ajaib, ketika gue menggigitnya, gue suka rasanya. Gigitan kedua makin suka. Gigitan ke tiga, gue secara resmi menganggap tahu petis Semarang sebagai salah satu kudapan wajib beli ketika bertandang ke sana.

Sayangnya pekerjaan gue di kantor tersebut harus berhenti dan pindah ke kantor lain yang wilayah kerjanya tidak termasuk Semarang. Bertahun-tahun gue harus menahan keinginan mendalam untuk makan tahu petis lagi. Sudah coba berbagai macam tahu petis di beberapa kota atau propinsi tapi nggak cocok. Tahu petis Semarang memang beda deh.

Suatu hari perjalanan hidup membawa seorang sahabat untuk memperkenalkan gue dengan sahabatnya ketika kuliah. Berawal dari seringnya ngopi-ngopi dengan orang ini dan istrinya, yang ternyata orang Semarang, tercetuslah kata bahwa gue merindukan tahu petis. Pernah tau pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba? Ini persis yang gue alami. Ternyata teman ini, namanya Wieke, baru saja memulai bisnis berjualan tahu petis Semarang di mal Ambassador. Langsung pula menjanjikan membawakan beberapa buah untuk mencoba kalau gue belum sempat ke Ambas. Well, namanya juga gue, demi makanan malas pun dihadang. Besoknya gue ke Ambas khusus untuk beli tahu ini.

 Ketika itu kemasannya belum seperti ini, masih kertas coklat bertuliskan mereknya saja. Gue ingat persis gue langsung pesan tiga buah untuk dimakan di tempat. Ketika tahu-tahu itu sampai ke hadapan, rasanya gue menarik nafas panjang. This is it, the long agony of waiting is over. I'm about to savor the tahu petis again. Dan pandangan pertama gue tidak salah. Rasa tahu dan petisnya persis sis sis sis tahu petis yang ada di Semarang. Enak banget tahunya, dan petisnya juga royal sampai meleleh-leleh ke sisi tahunya. Simple pleasure...


Sejak saat itu gue mentasbihkan tahu petis yudhistira sebagai tahu petis Semarang paling otentik di Jakarta. Bukan hanya karena yang punya adalah seorang teman, tapi memang rasanya patut diberi acungan jempol. Sejak itu seringkali gue beli untuk dibawa pulang dan bokap nyokap bertanya-tanya gimana bisa anaknya yang dulu muntah karena tahu petis sekarang jadi semaniak ini. People do change :)

Hari ini gue kembali membeli sepuluh buah tahu petis diiringi pesan, petisnya yang banyak. Dan benar saja, diberikan petis sampai meleleh jatuh ke kotaknya. Dari Santa sampai SCBD gue nyetir sambil ngemil tahu ini. Anggap aja sarapan ya :D




Well, dear Wieke dan Doni, terima kasih banyak ya. Inovasi dan kerja keras kalian untuk membawa tahu petis ke Jakarta benar-benar menjadi kenikmatan tersendiri buat gue. Gak perlu jauh-jauh lagi ke Semarang, cukup ke Ambas atau Santa dan gue sudah bisa menikmati salah satu makanan to die for ini. Tujuan gue sekarang cuma satu, bikin bule-bule suka sama makanan ini. Selama ini kalau gue tawarin mereka selalu menolak karena gak tahan sama warna dan bau petisnya padahal udah gue rayu dengan bilang ini adalah makanan yang dibuat di surga :))




Loobie Lobster

I always know one thing; a good marketing can sell a lame product. No pun intended :)


Sejak dua tahun terakhir penduduk Jakarta banyak terbuai dengan hadirnya warung-warung steak murah yang menyajikan wagyu dengan harga miring. Salah satunya adalah Holycowsteak. Gue akui steak yang mereka sajikan cukup enak untuk kisaran harga segitu, dan gue adalah salah satu pengunjung tetap yang kesana secara rutin.

Berangkat dari kesuksesan Holycowsteak sang pemilik, pasangan Lucy Wiryono dan Afit, yang memang punya latar belakang dunia marketing yang mumpuni, membuka tempat makan baru bernama Loobie. Loobie mengedepankan menu Lobster berharga murah. Siapa yang tidak tergoda mendengar Lobster dan harga murah. Seperti trik terdahulu, mereka memanfaatkan Twitter untuk menyebarkan berita promosi. Dan tentu saja antusiasnya mencengangkan.

Gue termasuk salah satu orang yang tergoda. Setelah beberapa bulan menunggu, akhirnya kemarin berkesempatan untuk datang ke Jl, Gunawarman 32, Jaksel, markas Loobie ini. Tempatnya kecil, hanya dapat menampung 20 orang, dan waktu gue datang jam 16.45 gue adalah orang pertama. Tapi sekitar 20 menit kemudian ada dua atau tiga kelompok lagi yang datang untuk mulai mengantri sebelum Loobie mulai beroperasi di jam 17.00. Seperti yang juga sudah gue bayangkan, tempatnya bersih, ringkas, dan pelayanannya cepat serta ramah. Good job.

So, I ordered Whole Lobster for 95k with sambal matah and my friend ordered Half Lobster with Garlic sambal for 55k. I was still wondering how it would turn out because this is the cheapest I have ever paid for lobster, and calamary and rice on a plate. Oya, gue pesan ice green tea seperti biasa. Harganya 12.500 tanpa refill tapi gelasnya gede banget. Dijamin begah hehehe...

After 15 minutes, the food finally came. Two half lobster about 20-cm long and a handful of calamary, rice, and a small plate of sambal matah. Bisa tebak yang gue serang pertama kali yang mana? Hahaha... the sambal of course. I LOVE sambal matah. Kalau di Bebek Bengil bisa nambah sambalnya terus :p

First impression, sambal matah ini tidak memakai minyak kelapa yang dibuat sendiri sehingga kurang terasa medok. Ya iyalah di Jakarta susah bikin minyak kelapa, tapi kalau mau mengangkat keotentikan sambalnya, it would worth the effort :) Sambalnya juga nggak pedas sama sekali bahkan ketika gue menggigit cabe rawitnya. Hhhhmmm... ini pasti mengurangi kenikmatan. Kemudian gue nyocol sambal garlic di piring teman gue. Penampakannya lebih mirip saus ABC. Rasanya? Sudahlah, lupakan saja.

Kemudian tentu saja karena prinsip "save the best for last" gue langsung mengambil satu calamary, menyocolnya ke dalam sambal matah, dan memasukkan ke mulut. Oooo ooowww... Calamarynya alot :( Seperti sudah digoreng satu jam sebelumnya dan disajikan dalam keadaan dingin. Padahal rasa tepung pembalutnya lumayan enak tapi sayang sekali kalah oleh rasa alotnya.

Antusiasme gue mulai melemah. Sambal udah kurang, calamary kurang. Semoga lobsternya enak. With huge deal of anticipation, gue potong itu lobster dan memasukkannya ke mulut tanpa sambal karena ingin merasakan bumbunya. Sodara-sodara, anyep....

Gue nggak tau apa yang terjadi, bumbunya memang terasa sih tapi tetap anyep. Ya gak jelek-jelek amat rasanya tapi gak sesuai dengan antisipasi gue. Lobster adalah makanan yang sudah cukup enak bahkan ketika hanya dibakar dengan diolesi air garam. Biarkan juice dari dalam dagingnya membasahi permukaan dan terasa di lidah ketika disajikan. Lobster di resto ini sepertinya agak terlalu lama dibakar sampai juice nya sudah hilang semua. Sayang banget.

Dan gue tau kenapa harganya bisa murah. Dari lobster sepanjang 20cm itu hanya sekitar 10cm daging dari masing-masing sisi yang bisa dimakan. Sisanya kan hanya cangkang dan kepalanya. I'm not complaining, no. Gue tau persis berapa harga lobster yang bisa memuaskan selera gue. Dan gue salut sama pasangan ini karena berhasil membuat banyak orang ngidam makan di sini :D

Selera memang tidak dapat diperdebatkan. Banyak orang yang suka sekali Loobie dan bahkan kembali makan di sana berkali-kali. Gue? Boleh sih balik kalau diajak, tapi gak akan niat banget bela-belain ke sana hanya untuk makan lobsternya lah :)




D'omelette

Ketika kemarin memasuki Kota Kasablanka, gue cukup kaget juga. Ternyata sudah hampir satu bulan tidak mendatangi mal ini. Untuk orang lain mungkin hal ini agak lebay, tapi mengingat Kota Kasablanka terletak hanya 5 menit dari rumah dan biasanya sedikit-sedikit gue ke sana, tidak ke sana selama satu bulan itu cukup mengherankan hehehe...

Kali ini kunjungan ke Kota Kasablanka didorong oleh kepentingan untuk meeting bersama beberapa orang penting yang akan membantu 3 Little Angels. But that should be another story.

Setelah meeting selesai jarum pendek jam sudah menunjuk angka 3, artinya lagi-lagi makan siang gue terlambat. Akhirnya memaksa teman-teman untuk makan dulu. Pilihan jatuh ke resto yang sudah sekitar dua bulan buka tapi belum sempat gue coba, D' Omelette.

Melihat namanya langsung terbayang sajian terbuat dari berbagai telur. Benar saja, restoran ini menyajikan beberapa sajian all-day breakfast yang secara umum terdiri dari omelet, beef bacon, sosis, buah kering manis dan beberapa variasi lainnya. Sayangnya karena kelaparan berat gue berpikir porsi sarapan itu tidak akan cukup. Akhirnya gue memilih memesan Pan fry dory fish with mushroom and sauteed vegetables. Somehow ketika membaca namanya gue merasa ikan ini akan disajikan semacam fish and chips tapi ditemani banyak sayuran. Melihat harganya gue berpikir porsinya akan cukup mengenyangkan. Here's what I got...

This fish was not fried at all. It's wrapped in the aluminium foil and steamed on a pan. Yeaaayyy... Healthier version of what I already thought a good food. Jadi ketika disajikan, aluminium foilnya itu tertutup rapat. Waiter datang meletakkan piring kemudian menggunting aluminium foil sampai terbuka, mengeluarkan aroma sedap dari berbagai rempah bumbunya. Cukup enak, penuh rasa, tapi sayang porsinya kecil :)) Buat gue, ikan dory yang begitu lembut harusnya disajikan dalam jumlah besar. Porsi ini hanya mengisi sudut kiri atas perut :D

Setelah mencicip piring sendiri tentu saja harus mencicip makanan teman dong. Remember, I always say That's What Friends Are For: To Share Good Food With. Mari kita melihat ke sisi kiri, ada apa di sana.
Sweet Waffle is what my friend is having. She said she's been consuming too much fatty food, yet, she ordered this greasy waffle :P

Harus diakui, Pancious Pancake memang menempatkan standar tinggi untuk berbagai jenis sajian wafel dan pancake di restoran. Dan wafel ini nanggung banget, jauh dari standar enak yang ada. Kurang manis, kurang lembut, kurang gurih. Yah gitu lah pokoknya..



Having not satisfied with the food on my left side, I eyed the one on the right side. You know, I ALWAYS AND WILL ALWAYS have a soft spot for fresh pasta. Ketika piring sebelah disajikan gue langsung bilang ke teman gue ini, "Damn you man, it's fresh pasta you got there". Dan dia bengong karena dia bahkan dia gak tau apa bedanya fresh pasta sama pasta yang dibuat dari pasta kering :)) Mata gue memang sangat tajam kalau melihat kilau dan kelenturan pasta yang baru selesai digiling dan langsung dicelupkan ke dalam air panas sampai al dente.




Perpaduan antara rich cream dengan aroma garlic dan fresh oregano dengan fresh salmon di piring ini benar-benar maksimal. Gue bahkan bisa menelan salmon matang yang biasanya akan membuat gue menutup hidung karena baunya. Smooth, tanpa sisa aroma amis sama sekali, langsung lumat dalam balutan sausnya. Perfecto. Among the four of us, this is surely the best dish.

I will surely come back for those all-day breakfast menu. Closest friends know how bitchy I can and will be about my eggs. They gotta be careful because I will either be their biggest fan and give high compliments if they can serve my eggs right, or the bitchiest bitch complaining to the chef :))

My Kopi - O!

Ada waktu-waktu dalam kehidupan gue dimana gue merasa Alam Sutera adalah wilayah yang ingin sekali gue datangi tapi jaraknya terlalu jauh untuk dijajaki. Godaan dari berbagai tulisan yang meliput berbagai tempat wisata kuliner di seputaran Alam Sutera dan Serpong ternyata tidak begitu berhasil menggugah hati untuk mengarahkan kemudi menempuh jarak 35 kilometer dari rumah. Kedua wilayah ini hanya bisa gue sambangi kalau ada teman yang mengajak dan bersedia menyupiri.

Ternyata benar apa kata banyak orang, jarak hanya terasa jauh karena tidak terbiasa dijalani. Coba saja lewati jarak itu beberapa kali, pasti tidak terasa jauh lagi. Dan itu sudah gue buktikan. Dua bulan terakhir ini rasanya sering sekali harus bolak balik Alam Sutera untuk beberapa urusan. Dan ternyata perjalanan ke sini cukup menyenangkan karena bisa lewat tol yang (mungkin bergantung dari jam berapa lewatnya) relatif cukup lancar. Jarak 35 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 45 menit saja.

Pagi ini gue sudah kembali duduk manis di Living World, salah satu mal di Alam Sutera, yang dulu sempat membuat gue berpikir "Kapan ya gue bisa main ke situ". Dengan perut yang meronta-ronta kelaparan dan kepala yang tidak berpikir jernih, melangkahlah gue memasuki My Kopi - O! di lantai dasar dengan harapan secangkir kopi dan sekerat roti bisa menenangkan.

Iced kopi tarik dan Kopi - O! beef sandwich menjadi pilihan. Kenapa sandwich? Karena di samping nama menu tersebut ada tanda yang menunjukkan ini adalah menu andalan. Gak salah dong kalau gue mau mencoba?

Es kopi tarik dihidangkan dalam waktu yang relatif cepat, sekitar 5 menit setelah pesanan selesai diambil oleh seorang pelayan yang sangat ramah. Ketika melihat permukaannya, entah kenapa, langsung gue yakin rasanya tidak akan senikmat yang gue harapkan. Nggak, gue bukan cenayang. Gue hanya pecinta sajian kopi di kopitiam yang biasanya selalu kental dan sarat rasa. Sementara kopi ini cenderung encer seperti kekurangan bubuk kopi dalam seduhan awalnya, dan semakin encer karena jumlah es yang cukup banyak.





Sementara itu beef sandwich yang memberi kesan seperti menu andalan pun agak mengecewakan, Disajikan di atas roti yang dipanggang dan diolesi bbq sauce, kemudian selembar lettuce, parutan wortel dan ketimun segar, beef patty yang tebal dan telur mata sapi yang menggoda mata ternyata tidak memuaskan indera pencecap. Beef patty terasa nyaris hambar, padahal cukup juicy. Andai saja ditambahkan sedikit lagi garam, lada dan cincangan halus bawang bombay atau bubuk rosemary pasti rasanya akan lebih nikmat. French fries-nya sebenarnya cukup enak, but hey, it's the sandwich that should be the rock star.

Porsinya memang besar dan sepertinya bukan untuk sarapan. Jadi kali ini kembali harus mohon ampun karena menyia-nyiakan makanan karena cuma sejumput fries dan patty serta telur mata sapi yang sanggup gue masukkan ke dalam perut. Kopinya? Hmmm... entah bisa dihabiskan atau tidak




Little Taiwan? No, please

Ketika ada mall baru dibuka di dekat rumah, dan kategori mall besar, ada perasaan yang saling bersilangan. Satu sisi senang karena dengan jarak jalan kaki pun bisa sampai ke tempat yang menyediakan semua barang yang gue butuhkan. Mind you, gue tinggal di perkampungan padat yang mau nyetir mobil ada gak bisa lebih dari 10km per jam, jadi mall ini benar-benar keliatan wah. Di sisi lain, memikirkan para pedagang kecil yang ada di wilayah sekitarnya. Mana mampu mereka bersaing dengan mall itu?

Anyway, salah satu hal yang sering gue lakukan adalah MAKAN. Pasti setiap hari kita butuh makan, dan di mall baru ini ternyata banyak restoran yang belum pernah gue temukan di tempat lain. Being food adventorous me, gue berniat mencoba semua restoran yang ada di sana. Malam itu gue memutuskan untuk mencoba makan di Little Taiwan.

Jenis makanan yang tertera di menu tidak banyak, jadi kami memutuskan memesan yang cukup standar: Udang goreng tepung, Beef goreng garing, Tahu masak saus apa gitu *lupa*, dan dua porsi cah sawi. Pesanan datang dalam waktu 15 menit. Begitu diletakkan, beginilah tampilannya.
Hhhmmm... cukup mencurigakan. Tampilannya sama sekali tidak membuat air liur menetes. Mengalir aja nggak apalagi sampai menetes. Kemudian datang sajian ke dua; Udang.
I was like, "What is this??" Tapi karena belum mencicip, masih mencoba berharap rasanya akan berbanding terbalik dengan penampilannya.
Unfortunately, my instinct was right. Kedua makanan ini sama sekali gak ada rasanya. Total bland. Hambar. Asin aja nggak. Benar-benar gak bisa dimakan. Berusaha keras memaksa diri untuk mengunyah, tapi kami berhenti di suapan ke lima. It was that bad.

Sayangnya gak sempat ambil foto hidangan tahu dan sayur yang gak kalah asal-asalan penyajiannya. Waiter berasalan, signature dish mereka adalah lamien. Ya memang kami gak pesan lamien tapi walaupun itu signature dish-nya apa berarti makanan lain boleh disajikan dengan rasa tidak enak?

Untuk minuman gue pesan milk tea. Tampilannya cukup menggemaskan.
Rasanya? Ya biasa aja. Gak berasa tehnya. Cuma jelly di dalamnya yang enak.
Teman gue pesan teh bunga ini. Enak sih dan menarik untuk dilihat. Tapi teh itu kan kita juga bisa beli di toko dan seduh sendiri di rumah.
Dengan total pembayaran 280ribu Rupiah kami merasa seperti "dirampok". Makanan-makanan itu sama sekali tidak layak saji. So, DO NOT EVER GO THERE, I'm warning you.





Sere Manis

Semua orang pasti punya dan pernah merasakan memiliki dan berada dalam comfort zone. Gue juga. Salah satu comfort zone yang pernah gue lalui, dan kemudian tinggalkan sejak 3 tahun lalu, adalah sebuah kantor LSM internasional di wilayah Hang Lekir, Senayan. It was so comfortable because everybody was friendly, no intrigue at all, everybody was happy with their own work. Another plus point from this workplace is: EVERYBODY loves to eat. Jadi, yang masuk ke kantor ini berat badannya akan bertambah minimal 5 kilogram per tahun :)) Eh ada anomali sih, dua orang bernama Ade dan Keri *miss you, muah muah* yang tetap dengan porsi tubuh kutilangnya.

Now that everybody fled from the organization and makes career elsewhere, we try to meet every now and then. Agendanya udah pasti makan-makan dan ngobrol gak jelas. Ada satu tempat yang biasa kami datangi untuk yang berkantor di wilayah Sudirman, Thamrin dan sekitarnya.

Sere Manis, berlokasi di ujung jalan Sabang, persis di sebelah Kopitiam Oey dan di atas The Baked Goods. Sere Manis menyajikan makanan Indonesia dengan sedikit sentuhan modern tetapi masih mempertahankan gagrak tradisionalnya. Menu seperti rujak cingur, gado-gado, bubur ketan hitam, pempek (gak terlalu enak kalo yang ini), tongseng, dan semacamnya ada lengkap di sana. Porsinya cukup mengenyangkan dan harganya sangat wajar.

 Terakhir kali ke sana sudah malam sekali dan perut nggak terlalu lapar. Akhirnya memutuskan untuk hanya memesan beberapa macam cemilan. Gambar di samping ini adalah favorit gue sepanjang masa, baik di restoran ini atau di tempat lain. Tape bakar keju :) Di Sere Manis mereka menyajikannya dengan cocolan saus gula merah cair. Tidak ada yang harus dibanggakan sebenarnya kecuali bahwa mereka memilih pemasok tape yang bagus sehingga bisa mendapatkan tape yang manis. Kandungan gula tape yang manis menghasilkan lapisan karamel tipis di permukaannya ketika dibakar. Dan bagian karamel itu lah yang menurut gue bagian terenak.


Yang ini juga pasti gak asing lagi. Singkong goreng keju. Ingat nggak jaman dulu kita jajan singkong di tukang gorengan yang renyah dan mrepul pecah ketika digigit. Nah singkong goreng ini seperti itu. Mereka rebus dulu singkongnya beserta bumbu, baru kemudian digoreng. Penghitungan waktu perebusan mereka cukup tepat nih sepertinya karena singkongnya cukup renyah untuk digigit tapi tidak sampai harus hancur berjatuhan ketika disuap. Hal sepele, tapi sangat gue perhatikan.

Tiba-tiba Widya, si jago makan, menyarankan gue untuk mencoba pangsit rebusnya. Katanya a must try. Berhubung selera dia memang bisa diandalkan, nurut lah gue. Dan udah pasti dia benar. Pangsit kuahnya ini enak banget. Asli enak banget. Segar tanpa rasa lemak kaldu menempel di lidah, dengan taburan daun bawang krenyes yang menambah kenikmatan makan.

Satu lagi yang juga gue pesan malam itu untuk Gendis adalah puding mangga. Gue pikir ini bocah pasti suka puding mangga. She did like it. Tapi cuma dimakan 3 suap karena tergoda pesanan tante Widya dan om Dede. Tebak apa? PISANG GORENG!!! Dan Gendis melahap tiga potongan besar pisang goreng keju coklat dalam tempo sesingkat-singkatnya *sigh*. Gendis seperti menemukan surga dalam makanan yang I WILL NEVER EVER ORDER NOR EAT. Liat pisang aja bisa mual, apalagi mesan. Mungkin malam itu Gendis berdoa dalam hati, "Ya Tuhan, semoga lain kali makan bareng om dan tante ini lagi supaya aku bisa makan pisang goreng lagi".

Anyway, ini gambar puding mangganya. Rasanya biasa aja. Gak terlalu menarik untuk dipesan lagi di kesempatan berikutnya.
Sere Manis akan selalu jadi salah satu restoran pilihan untuk ngumpul-ngumpul. Tempatnya luas walaupun dengan dekorasi seadanya. Kursi dan meja juga nyaman untuk duduk berlama-lama. Untuk gerombolan 4L, semakin lama kami duduk, semakin panjang daftar makanan yang dipesan. That's what friends are for. To enjoy food :)







Caprese, on my birthday


Biasanya di hari ulang tahun gue sudah akan merencanakan perjalanan ke luar kota ke tempat yang belum pernah didatangi. Tahun ini entah kenapa semangat itu menguap terhirup panasnya cuaca Jakarta. Sampai tanggal 20 Oktober sama sekali gak ada ide mau kemana, artinya I had to stay in town.

Berada di Jakarta bukan berarti gak bisa bersenang-senang. Food is always the one that cheers me up in any situation. Especially when it's shared with precious people. So, there we went to a huge new shopping mall just around the corner from my house venturing for a new restaurant. And we found it. Caprese.

Suasana di dalam restoran ini yang sebenarnya menggerakkan kaki gue untuk berbelok dan memeriksa daftar menu yang disediakan di muka. Italian food. Lovely. Comfortable sofas and cushions attracted me even more.

Salmon carpaccio
Yang kami lakukan kemudian adalah bersepakat untuk memesan makanan yang namanya paling sulkt dilafalkan dan belum pernah kami coba. Untungnya nama makanan disertai dengan penjelasan singkat bahan-bahan pembuatnya. So, here is what we ordered: Salmon carpaccio and rocket salad for appetizer. Fotonya di atas itu. Fresh and cold slices of best salmon, topped with cruchy rocket leaves and tangy cream. Dang! Mata langsung terbuka lebar. Having this good appetizer I was sure that the rest of the food will be awesome. We also ordered Cobb Salad to share. Waktu saladnya datang, lumayan terpesona oleh warnanya yang cerah menggoda menandakan kesegaran tiap bagiannya. And the dressing.. Oh wow. So yummy, tapi gak bisa nebak isinya apa.


For my main course I ordered Melanzane Parmagiana. Sebenarnya ini adalah lasagna versi vegetarian dengan lapisan terong dan saos tomat ditutup dengan lapisan keju mozarella. Biasanya gue selalu merasa gak akan gampang terpesona oleh makanan semacam ini, karena gue mampu bikin sendiri :)

Kali ini gue termakan omongan sendiri. This simple dish is oh-so-good I wanted to lick off all the sauce. Sebenarnya bumbu yang mereka pakai standar sekali, tapi fresh. Itu yang membuat rasa yang keluar begitu kuat. I enjoyed every spoonful of this portion. No hurry, only fulfillment.

My two friends decided to share a steak thinking that it would be too big to eat alone. Yeah, they're prolly on diet (boo!). Mereka pesan satu steak, yang *dengan sangat menyesal, hiks* gue lupa namanya. Udah coba cari-cari kwitansi makannya tapi gak ketemu. Rasanya sempat catat entah di mana tapi nggak ketemu juga. Anyway, ini steaknya.


Ternyata potongannya kecil banget :)) Cantik tampilannya waktu disajikan. So, this is a very soft and JUICY steak, served with to-die-for mushroom sauce, and a lot of champignon mushroom. Di bagian bawahnya ada tumpukan cacahan tomat segar yang rasanya hanya di-sautee sebentar dalam olive oil, ditaburi garam dan oregano. Lagi-lagi bumbu sederhana yang justru mengeluarkan rasa segar dari tomat dan mengimbangi rasa daging dan sauce yang untuk sebagian orang mungkin terasa "berat".


Having our eight-pack tummy filled and enjoying our drinks, we were thinking of a dessert. Tapi kapasitas perut sepertinya tidak akan bisa menampung satu dessert untuk satu orang. Let's do it Indonesian way. Pesan satu dan makan ramai-ramai :)


We decided on Mille Feuille. Nyam... Those never ending layers, and satin-smooth cream cheese that just melt in your tounge. Heaven... I didn't wanna it to end. Tapi jelas habis dong satu slice itu :)) No regret over extra calories, though.

This restaurant is VERY RECOMMENDED. The price range makes sense too. Next time you're at Kota Kasablanka, make sure you try it. Don't forget to invite me. It takes me only 10 minutes from home to go there :D