Tampilkan postingan dengan label Services. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Services. Tampilkan semua postingan

Seigo Dakgalbi

Gue bukan penyuka produk Korea, mau itu artisnya, musik, film, bahkan makanannya. Sekitar 3 tahun lalu, gue pernah pergi berdua seorang teman untuk makan di sebuah restoran Korea di Setiabudi. Awalnya semua berjalan dengan baik, makan ini itu dengan enak tanpa ada keluhan dan tanpa berlebihan. Setelah makan, kami duduk-duduk sebentar sambil ngobrol dan menurunkan makanan di perut. Tiba-tiba perut gue bergejolak dan mengakibatkan mual, seperti mendorong semua makanan tadi kembali ke kerongkongan. Untungnya, restoran ini letaknya berdekatan dengan toilet. Setelah keluar dan agak berlari gue berhasil mencapai toilet dalam waktu 2 menit, mendorong pintu, dan langsung terjadilah proses pengosongan perut yang menjijikkan. Semuanya keluar tanpa sisa. Habis...

Sejak saat itu gue merasa mungkin memang gue tidak cocok dengan bumbu-bumbu yang dipakai dalam masakan Korea dan memilih untuk menjauhinya. Sampai beberapa saat lalu ketika bertemu dengan teman-teman kuliah dan bingung mau makan di mana. Entah kenapa gue punya ide gila untuk masuk ke sebuah rumah makan Korea yang ada di gedung itu. "Uji nyali", itu yang ada di pikiran gue.

 Ketika kami masuk ke restoran, lalu duduk, dan diberikan menu, kami hanya saling memandang sambil senyum-senyum. Empat orang perempuan yang tidak bisa akrab dengan produk Korea dan mencoba membaca menu yang tulisan nama makanannya semua dalam bahasa Korea tanpa penjelasan dalam bahasa
Indonesia sepertinya bisa menjadi pemandangan yang lucu. Setelah puas melihat-lihat gambarnya, kami memutuskan memanggil seorang pelayan untuk membantu menjelaskan. Sang pelayan dengan senang hati menjelaskan ini itu tentang beberapa hidangan yang menurut kami menarik gambarnya. Sayang sekali, gue lupa total apa nama masakan-masakan ini. Nggak ada niat untuk mencatat nama makanannya saat itu karena memang sedang malas ngeblog. Jadi, inilah yang kami pesan.

Mulai dari foto kiri atas, kalau nggak salah ini Toppoki, semacam appetizer. Menurut gue sih ini cuma cilok ala Korea aja. Teksturnya liat dan agak gurih, persis seperti cilok. Bedanya, cilok dimakan dengan bumbu kacang, Toppoki dimakan dengan semacam saus tomat yang dicampur saus sambal dan ditaburi keju mozzarela lalu dipanggang sebentar sampai kejunya meleleh. Harganya kalau nggak salah sekitar 50 ribu Rupiah.

Foto kanan atas itu bibimbap yang isinya adalah nasi, irisan wortel, lettuce, jagung pipil, daging iris tipis yang diberi sesendok sambal ghojuchang dan dibakar kemudian ketika akan dimakan kita aduk sendiri agar semua bumbunya tercampur. Porsi ini sepertinya cukup mengenyangkan untuk dimakan sendirian. Layak dengan harganya yang 55 ribu Rupiah.

Foto kiri bawah, lupa namanya. Ini semacam shabu-shabu tapi dengan kuah yang asam pedas (tapi beda dari tomyam). Kami pesan porsi besar waktu itu, dan sepertinya cukup untuk 5-6 orang. Isinya ada berbagai sayuran, jamur, tahu, dan bakso. Cukup enak. Agak lupa harganya, mungkin sekitar 200 ribu Rupiah.

Foto kanan bawah, ini makanan penutup. Isinya es serut disiram cairan putih lalu diberi toping buah-buahan, bulatan mutiara dan es krim. Ketika teman gue pesan ini gue pikir gue nggak akan suka karena kelihatannya manis sekali. Ternyata gue salah, tingkat kemanisannya pas dan enak, dan dari yang niatnya mencicip sesendok ternyata malah gue minta segelas kecil. Sambil makan gue bilang, "Ini enak banget sih es. Gurih gini. Pakai susu apa ya". Dan, dengan santai teman gue menjawab, "Kok susu sih. Ini kan whipcream cair yang bercampur es krim, ya jelas enak banget". Demi mendengar ini gue langsung meletakkan sendok dan berhenti makan. Whipcream?? Iya pantesan enak, tapi lemaknya banyaaakkkk :))


Lokasi: Tebet Green, lantai 2

Ikuze

Hiruk pikuk kesibukan Jakarta seringkali membuat penduduknya tidak lagi punya banyak waktu untuk sering berjumpa dengan teman lama. Jadwal yang sering bentrok, kemalasan menembus macet, atau kelelahan seringkali menghalangi niat.

Waktu mendadak ada teman lama -yang sudah sangat lama nggak bertemu walaupun jarak rumah kami kurang dari 5 kilometer- mengajak bertemu, tentu gue sambut dengan gembira. Niat awal bertemu hanya bertiga, tapi ternyata bertambah 3 orang dan 2 krucil lagi. Rame :D

Kali ini pilihan jatuh ke mal yang sepi, dan dekat rumah banget, supaya bisa nyaman ngobrol. Epicentrum. Ketika sampai di sana, mal ini benar-benar nampak lengang sehingga membuat leluasa memilih tempat makan.

Dan pilihannya jatuh ke Ikuze, makanan Jepang (lagi). Entah kenapa waktu melihat foto makanan di menu yang diletakkan di luar, gue merasa ini pasti enak. Masuklah kami ke situ dan langsung ganas meneliti daftar menu. We need something quick! Lapaaaarrr.....


Ronde pertama dibuka dengan Chef Tri Fushion Roll, yaitu gulungan panjang sushi dipotong menjadi 6 bagian dengan isi ketimun dan crispy tempura flour dilapisi di bagian atas dengan salmon mentah dan rumput laut. Perasaan gue soal restoran ini memang benar. Sushi pertama ini enak banget,
memberi kesan segar, sampai kemudian kami memesan 1 porsi lagi. Dan tetap enak alias konsistensi rasanya terjaga.

Oiya, sebenarnya ada Gyoza yang kami pesan sebagai makanan pembuka tapi entah kenapa kok malah datang belakangan. Gyozanya juga gue rekomendasikan. Rasanya seimbang antara gurih dan asin, dengan bumbu rendaman yang menarik. Cukup enak biarpun belum bisa menandingi buatannya pemilik blog Somamiko lah.

Menu berbagi lainnya adalah King Shake Gyu Roll yang berisikan belut, salmon matang dan bagian atas dilapisi dengan lelehan mozarella dan mayonaise. Sebenarnya cukup enak, tapi tidak sesegar rasa menu pertama.

Ternyata dua sushi roll dan satu gyoza belum cukup untuk kami. Sasaran berikutnya adalah Beef Miso Ramen dengan satu versi pedas dan satu tidak pedas. Ramen ini datang dalam keadaan, menurut gue, kurang panas mengepul. Versi pedas jauh lebih enak dari non pedas karena ternyata rasa miso (tauco) dalam kuahnya terlalu kuat sehingga membuat rasanya sangat asin ketika tidak dipadukan dengan cabai. Daging sapi dalam ramen ini enak banget. Empuk, juicy dan berbumbu sedap. Rekomen juga deh untuk yang ini.

Sebenarnya dua orang diantara kami memesan Beef Nabeyaki Udon dan Shabu Wagyu tapi dikarenakan kehebohan krucil yang disebabkan tante Dian gak sengaja mengakibatkan jarinya bocah kejepit *hiks* jadinya lupa mau gerecokin nyicip.

Sebagai penutup, sebagai pecinta ogura, gue merayu yang lain untuk share 1 cup es krim ogura. Dan, nggak rugi pesan ini. Enak juga. Tingkat kemanisannya juga rendah, sesuai selera gue. Just right.
Secara keseluruhan acara makan ini menyenangkan. Makanan enak, resto sepi, ngobrol leluasa sampai bisa ngakak, harga nggak juga bikin kantong jebol. Suatu hari pasti gue balik lagi ke sini

D'omelette

Ketika kemarin memasuki Kota Kasablanka, gue cukup kaget juga. Ternyata sudah hampir satu bulan tidak mendatangi mal ini. Untuk orang lain mungkin hal ini agak lebay, tapi mengingat Kota Kasablanka terletak hanya 5 menit dari rumah dan biasanya sedikit-sedikit gue ke sana, tidak ke sana selama satu bulan itu cukup mengherankan hehehe...

Kali ini kunjungan ke Kota Kasablanka didorong oleh kepentingan untuk meeting bersama beberapa orang penting yang akan membantu 3 Little Angels. But that should be another story.

Setelah meeting selesai jarum pendek jam sudah menunjuk angka 3, artinya lagi-lagi makan siang gue terlambat. Akhirnya memaksa teman-teman untuk makan dulu. Pilihan jatuh ke resto yang sudah sekitar dua bulan buka tapi belum sempat gue coba, D' Omelette.

Melihat namanya langsung terbayang sajian terbuat dari berbagai telur. Benar saja, restoran ini menyajikan beberapa sajian all-day breakfast yang secara umum terdiri dari omelet, beef bacon, sosis, buah kering manis dan beberapa variasi lainnya. Sayangnya karena kelaparan berat gue berpikir porsi sarapan itu tidak akan cukup. Akhirnya gue memilih memesan Pan fry dory fish with mushroom and sauteed vegetables. Somehow ketika membaca namanya gue merasa ikan ini akan disajikan semacam fish and chips tapi ditemani banyak sayuran. Melihat harganya gue berpikir porsinya akan cukup mengenyangkan. Here's what I got...

This fish was not fried at all. It's wrapped in the aluminium foil and steamed on a pan. Yeaaayyy... Healthier version of what I already thought a good food. Jadi ketika disajikan, aluminium foilnya itu tertutup rapat. Waiter datang meletakkan piring kemudian menggunting aluminium foil sampai terbuka, mengeluarkan aroma sedap dari berbagai rempah bumbunya. Cukup enak, penuh rasa, tapi sayang porsinya kecil :)) Buat gue, ikan dory yang begitu lembut harusnya disajikan dalam jumlah besar. Porsi ini hanya mengisi sudut kiri atas perut :D

Setelah mencicip piring sendiri tentu saja harus mencicip makanan teman dong. Remember, I always say That's What Friends Are For: To Share Good Food With. Mari kita melihat ke sisi kiri, ada apa di sana.
Sweet Waffle is what my friend is having. She said she's been consuming too much fatty food, yet, she ordered this greasy waffle :P

Harus diakui, Pancious Pancake memang menempatkan standar tinggi untuk berbagai jenis sajian wafel dan pancake di restoran. Dan wafel ini nanggung banget, jauh dari standar enak yang ada. Kurang manis, kurang lembut, kurang gurih. Yah gitu lah pokoknya..



Having not satisfied with the food on my left side, I eyed the one on the right side. You know, I ALWAYS AND WILL ALWAYS have a soft spot for fresh pasta. Ketika piring sebelah disajikan gue langsung bilang ke teman gue ini, "Damn you man, it's fresh pasta you got there". Dan dia bengong karena dia bahkan dia gak tau apa bedanya fresh pasta sama pasta yang dibuat dari pasta kering :)) Mata gue memang sangat tajam kalau melihat kilau dan kelenturan pasta yang baru selesai digiling dan langsung dicelupkan ke dalam air panas sampai al dente.




Perpaduan antara rich cream dengan aroma garlic dan fresh oregano dengan fresh salmon di piring ini benar-benar maksimal. Gue bahkan bisa menelan salmon matang yang biasanya akan membuat gue menutup hidung karena baunya. Smooth, tanpa sisa aroma amis sama sekali, langsung lumat dalam balutan sausnya. Perfecto. Among the four of us, this is surely the best dish.

I will surely come back for those all-day breakfast menu. Closest friends know how bitchy I can and will be about my eggs. They gotta be careful because I will either be their biggest fan and give high compliments if they can serve my eggs right, or the bitchiest bitch complaining to the chef :))

My Kopi - O!

Ada waktu-waktu dalam kehidupan gue dimana gue merasa Alam Sutera adalah wilayah yang ingin sekali gue datangi tapi jaraknya terlalu jauh untuk dijajaki. Godaan dari berbagai tulisan yang meliput berbagai tempat wisata kuliner di seputaran Alam Sutera dan Serpong ternyata tidak begitu berhasil menggugah hati untuk mengarahkan kemudi menempuh jarak 35 kilometer dari rumah. Kedua wilayah ini hanya bisa gue sambangi kalau ada teman yang mengajak dan bersedia menyupiri.

Ternyata benar apa kata banyak orang, jarak hanya terasa jauh karena tidak terbiasa dijalani. Coba saja lewati jarak itu beberapa kali, pasti tidak terasa jauh lagi. Dan itu sudah gue buktikan. Dua bulan terakhir ini rasanya sering sekali harus bolak balik Alam Sutera untuk beberapa urusan. Dan ternyata perjalanan ke sini cukup menyenangkan karena bisa lewat tol yang (mungkin bergantung dari jam berapa lewatnya) relatif cukup lancar. Jarak 35 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 45 menit saja.

Pagi ini gue sudah kembali duduk manis di Living World, salah satu mal di Alam Sutera, yang dulu sempat membuat gue berpikir "Kapan ya gue bisa main ke situ". Dengan perut yang meronta-ronta kelaparan dan kepala yang tidak berpikir jernih, melangkahlah gue memasuki My Kopi - O! di lantai dasar dengan harapan secangkir kopi dan sekerat roti bisa menenangkan.

Iced kopi tarik dan Kopi - O! beef sandwich menjadi pilihan. Kenapa sandwich? Karena di samping nama menu tersebut ada tanda yang menunjukkan ini adalah menu andalan. Gak salah dong kalau gue mau mencoba?

Es kopi tarik dihidangkan dalam waktu yang relatif cepat, sekitar 5 menit setelah pesanan selesai diambil oleh seorang pelayan yang sangat ramah. Ketika melihat permukaannya, entah kenapa, langsung gue yakin rasanya tidak akan senikmat yang gue harapkan. Nggak, gue bukan cenayang. Gue hanya pecinta sajian kopi di kopitiam yang biasanya selalu kental dan sarat rasa. Sementara kopi ini cenderung encer seperti kekurangan bubuk kopi dalam seduhan awalnya, dan semakin encer karena jumlah es yang cukup banyak.





Sementara itu beef sandwich yang memberi kesan seperti menu andalan pun agak mengecewakan, Disajikan di atas roti yang dipanggang dan diolesi bbq sauce, kemudian selembar lettuce, parutan wortel dan ketimun segar, beef patty yang tebal dan telur mata sapi yang menggoda mata ternyata tidak memuaskan indera pencecap. Beef patty terasa nyaris hambar, padahal cukup juicy. Andai saja ditambahkan sedikit lagi garam, lada dan cincangan halus bawang bombay atau bubuk rosemary pasti rasanya akan lebih nikmat. French fries-nya sebenarnya cukup enak, but hey, it's the sandwich that should be the rock star.

Porsinya memang besar dan sepertinya bukan untuk sarapan. Jadi kali ini kembali harus mohon ampun karena menyia-nyiakan makanan karena cuma sejumput fries dan patty serta telur mata sapi yang sanggup gue masukkan ke dalam perut. Kopinya? Hmmm... entah bisa dihabiskan atau tidak




Mr. Curry, Grand Indonesia

Lagi males tulis karena bete. Nyampein berita yang buat orang lain bisa berkaca-kaca bahagia eh si makyak cuma lempeng dot com ajah. Well, maybe she needs to sink it in.

Nih tadi makan di Mr. Curry, pesannya Beef Hamburg Black Curry, dengan tingkat kepedasan Very Spicy. Harganya 65ribu. Enak sih buat gue, tapi nyonyah Amy gak suka. Beda selera lagi kita. Potonya jelek karena hitam, tapi rasanya gak sejelek fotonya.

Nasinya banyak banget. Biasanya kalo porsi nasi segitu gue gak abis. Tapi berhubung karinya enak, ludes deh tuh nasi. Liat nih buktinya



Selesai makan langsung rasanya gak bisa bergerak. Begah abis. Oiya, meja sebelah pesanannya banyaaakkk banget. Kalo satu porsi aja gue begah, gimana mereka yang satu orang bisa satu porsi plus appetizer dan dessert ya?



Oiya, sempet sebel tadi. Waktu selesai liat-liat menu, gue manggil waitress untuk ambil pesanan kan. Dia lihat jelas gue melambaikan tangan dan dia langsung menghampiri. Setengah jalan ke meja gue, ada meja lain minta bill. Eh dia berhenti ngurus bill itu dulu. Tujuh menit gue nunggu masih gue diamkan. Setelah itu dia menuju meja gue, gue nunjuk sesuatu di buku menu mau nanya itu apa, eeeehhh meja sebelah manggil karena mau pindah meja. Dia ngurus dulu yang pindah meja. Haduh haduh.... Piye tho? Yang manggil kan gue. It took her another five minutes to deal with that group. Pas sampe meja langsung dong gue sedikit marahin. Gue bilang, "Mbak tuh yang manggil saya, terus mbak urus dulu bill orang itu, abis itu saya lagi ngomong nanya menu mbak ninggalin gitu aja ngurus mereka. Gimana sih" Then, she simply said sorry. Untung lagi baik hati. Kalo lagi bete pasti keluar kata-kata pamungkas: "Panggil manager kamu ke sini. SEKARANG."

Hotel Novus, Cimacan - Puncak

Gue rasa 90% dari teman-teman gue tau persis soal kebawelan gue terhadap para pengusaha penyedia jasa. Kebawelan itu biasanya berkisar di soal kebersihan, layanan, dan rasa makanan (kalau jasa-nya restoran). Tentu saja kebawelan itu tidak akan keluar begitu saja tanpa pertimbangan. Maksudnya, di kelas rumah makan murah hampir tidak mungkin gue ngomel soal layanan yang lambat, tapi kalau biaya makan per orang di sebuah restoran bisa lebih dari 100ribu rupiah rasanya wajar kalau ada sesuatu yang terasa tidak pas maka gue akan langsung bertanya. Cara bertanya gue juga pasti bertahap, dari pertanyaan dengan nada baik dan senyum lebar sampai nada pedas dan meminta manager mendatangi meja gue. Malah pernah ada kejadian manager restoran curhat balik ke gue. Nah loh?!?!

Seperti pernah gue tulis di Note sebelumnya, resiko pekerjaan membawa gue untuk bisa mencicipi layanan, penginapan dan restoran dari berbagai kelas, tingkatan dan lokasi. Kali ini gue berkesempatan menginap di sebuah hotel di kawasan Cimacan - Puncak, yang sempat gue dengar namanya dari seorang teman. Hotel Novus. Sepanjang perjuangan gue dibawa bekerja di Puncak baru kali ini akhirnya kesampaian menginap di sana.

Hari minggu itu kami, gue dan partner kerja, memutuskan berangkat dari Jakarta jam 7 malam supaya tidak harus menunggu arus turun satu arah. Daripada terjebak mending ngopi dulu lah di Coffee Bean. Alasan lain kami memutuskan untuk berangkat malam hari adalah karena kebodohan kami yang tidak mengecek terlebih dahulu letak hotel ini, dengan asumsi "ah namanya di Puncak masa iya gak ketemu, sejam juga nyampe". Sayangnya kami menyadari kebodohan itu terlalu lama, setelah melewati belokan Taman Safari sekitar 3km tapi belum nampak tanda-tanda hotel itu akhirnya gue mencoba menghubungi hotel untuk menanyakan lokasi tepatnya. Seorang staf perempuan dengan ramah menjawab telepon dan memberitahu "Oh masih jauh mbak dari situ, 17km lagi ke hotel kami". Heeehhh... jauh amat?? Ternyata hotel ini sudah melewati Puncak Pass kemudian turun lagi menuju Cipanas. Letaknya sekitar 500m dari RSUD Cimacan. Haduh... Jauh amat. Walhasil sampailah kami di hotel pada pukul 21.00 karena ternyata macet juga jalan ke sana.

Kelelahan dalam perjalanan terbayar dengan keramahan petugas hotel yang menyambut kami. Seperti biasa seorang staf penyambut (greeter) menawarkan untuk membawakan tas, tapi gue tolak karena toh gue pikir dekat. Ternyata si mas ini langsung memberi tahu, "Mbak, kamarnya masih turun ke sana, lumayan jauh. Tapi karena sudah malam dan mungkin mbak dan mas capek, silakan makan dulu saja mumpung makanan masih hangat. Ada bakso lho". Duuuhh senang ya kalo ada staf hotel seramah itu. Baiklah, setelah melapor ke resepsionis, kami langsung menuju tempat makan. Makananannya cukup enak kok dan banyak macamnya. Intinya, malam itu sukses lah makannya.

Setelah makan karena supir kami malas terjebak macet parah arus turun akhirnya kami berbincang-bincang di lobby sampai jam 11 malam. Lobby ini menarik, diisi kursi-kursi dan meja-meja bernuansa etnik yang sangat nyaman. Meja-meja itupun ternyata berfungsi ganda, karena permukaannya bisa dipakai untuk permainan papan seperti catur, halma dan ludo. Perlengkapannya ada di laci di bawahnya. Seru ya.

Setelah mata tidak sanggup lagi terbuka terpaksa lah kami menggeret tubuh ke kamar. Gue pikir, ya kamarnya standar seperti hotel lain di Puncak lah. Ternyata tidak. Kamarnya cantik banget, lantainya dari batu, dekorasinya menggabungkan antara etnik dan minimalis. Looovvveee it!! Gambar kamar yang gue tempat bisa dilihat di sini:

gambar kamar deluxe


Buat gue konsepnya hotel ini sangat menarik. Jadi mereka punya beberapa cluster kamar, di mana di setiap cluster itu ada ruang pertemuan. Gue masuk di cluster Mentari, yang merupakan cluster terdekat dengan lobby. Alhamdulillah banget dapat di situ. Kenapa? Karena tekstur komplek hotel ini berbukit-bukit. Jadi kalau dapat cluster yang di bawah, setiap pagi harus naik ke lobby untuk sarapan dengan jalan kaki dua tanjakan dua turunan. Gak bohong gue. Enak banget kalau untuk olahraga, tapi kalau kaya gue yang bangunnya selalu kesiangan jadinya ngos-ngosan banget :)) Keuntungan dari ruang pertemuannya yang di depan kamar adalah, kalau mau pipis gue bisa langsung ke kamar, gak di toilet umum. Ini konsep yang gue juga acungi jempol. Lobby kecil tempat duduk-duduk saat rehat kopi pun nyaman sekali.

 Nih liat sofanya aja empuk banget

Now come the best part. Sumpah ya gue sampe terharu banget waktu pagi pertama mau ke tempat sarapan ada petugas lagi nyapuin daun-daun kering. Bapak itu berhenti menyapu dan menyapa, "Selamat pagi mbak" dengan senyum yang tulus banget. Gue nggak gila hormat, gak perlu dihormati cuma karena gue tamu. Tapi kan senang aja ya di pagi cerah seperti itu ada orang dengan senyum tulus menegur. Setelah gue lewat dan membalas sapaannya baru dia melanjutkan menyapu. Dan ini terjadi sepanjang minggu, bukan cuma si bapak tukang sapu, tapi dari SEMUA staf. Ampun deh beneran gue sampe geleng-geleng kepala takjub. Hebat pemilik hotel ini menanamkan keramahan di seluruh pegawainya.Gini ya, saking seringnya gue ke berbagai hotel, gue bisa membedakan berbagai senyum: senyum sok manis terpaksa, senyum ramah tapi hanya karena sopan santun, dan senyum ramah tulus banget. Gue bisa kasih contoh hotelnya untuk nemu senyum macam masing-masing itu, dan gue bisa pastikan senyum staf hotel Novus masuk golongan terakhir. Oiya, di hari ke tiga gue masuk kamar saat petugas housekeeping sedang ada di depan kamar sebelah gue. Gue jalan sambil nyedot2 ingus gitu lah, petugas ini langsung tanya, "Ibu, sepertinya sedang sakit? Butuh obat?" My God... Belum pernah nih ada petugas hotel yang segininya.

Ada lagi kejadian yang buat gue dahsyat juga ya. Hari ke dua di sana komputer gue crash. Asli crash gak bisa pake lagi MS Office-nya. Sempat agak bingung karena kerja di sana masih 4 hari lagi dan banyak kerjaan tulisan yang harus dikerjakan. Masa pinjam laptop orang terus? Tapi bukan Dian namanya kalau gitu aja panik (halah... blagu!). Gue cuma telpon hotel (waktu itu jam 5.10 sore) dan tanya bisakah petugas IT hotel bantu gue keesokan harinya untuk periksa komputer gue, dan tentu saja gue akan bayar. Petugas resepsionis mengatakan pasti bisa tapi harus menunggu besok karena petugasnya sudah pulang, and I'm fine with it. 20 menit kemudian petugas di ruang pertemuan menghampiri dan kasih tau ada telepon dari resepsionis buat gue. Oiya, ini juga bingung nih gue, SEMUA staf hotel tau nama gue Dian. Tau dari mana coba?? Partner kerja gue aja mereka gak tau namanya kok ya nama gue dihapal? Mungkin mereka bisa deteksi tamu yang kemungkinan gahar ya jadi dihapalin biar gue bisa lunak :)) Back to IT guy, petugas resepsionis yang namanya Andika (eh cakep banget loh di Andika ini, beneran) kasih tau bahwa petugas IT akan datang sore itu juga, tapi habis sholat Maghrib. Kaget lah gue. Gue bilang gak usah besok aja karena toh itu sudah waktu dia istirahat tapi katanya gak papa. Ya sudah gue iya-kan dan gue bilang tunggu di ruang makan/lobby.

Benar aja jam 6.45 sudah datang itu petugas IT, namanya Wildan, dan langsung tanya ada apa dengan komputer gue. Gue kasih tau masalahnya dan suruh bawa aja itu komputer. Sebelumnya, partner kerja gue yang cukup melek teknologi bilang ada kemungkinan hardisklaptop gue udah kena. Pasrah sih gue berhubung itu laptop udah 4 tahun juga, tapi kan kesayangan gue jadi masih berharap bisa diperbaiki. Mas Wildan ini bilang mau dikerjakan malam itu juga, dan walaupun gue udah bilang santai aja besok pagi aja, dia tetap bersikukuh. Ya udahlah gue biarkan, toh gue udah bilang gak keberatan menunggu.

Besok paginya jam 10.00 waktu rehat kopi mas Wildan datang bawa laptop gue. Benar aja ternyata hardisk laptop udah ada yang rusak tapi  karena dia punya peralatan lengkap dia bisa perbaiki. Wow! Secepat itu loh. Gue tanya dia tidur nggak, cuma senyum malu-malu bilang, "Tidur kok mbak, kan bisa ditinggal". Trus gue tanya lagi, "Berapa biayanya mas?" Yang terjadi kemudian adalah double wow. Dia bilang "Tidak ada biaya, ini kewajiban hotel membantu tamunya. Silakan dipakai lagi mbak, kalau masih ada masalah hubungi saya saja". Ya ampun... Baik banget gak sih tuh hotel. Bayangin kalo kejadiannya di hotel lain, pasti gue dikenain charge gak tau berapa deh. Karena percuma juga maksa-maksa nanya gak dijawab akhirnya gue cuma bilang "Ya sudah, nanti saya titipkan sesuatu di resepsionis ya". Akhirnya memang gue menitipkan sejumlah uang dalam amplop sebesar biaya yang harus gue bayar kalau seandainya gue bawa laptop itu ke Ambassador mal, misalnya. Udah tanya partner kerja katanya jumlah segitu udah lebih dari cukup lah.

Cerita asik lainnya juga berasal dari kebiasaan gue untuk ngobrol dengan orang-orang yang tidak biasa. Contoh hobi gue adalah ngobrol sama supir taksi atau bajaj. Di hotel ini gue ngobrol sama Chef dan petugas ruang pertemuan. Seru lho ngobrol sama mereka, suka dapat cerita-cerita di belakang layar :)

Satu hal lain yang gue suka dari hotel ini adalah konsepnya yang mempertahankan lingkungan asli. Jadi hotel ini dibangun dengan lanskap yang menjaga beberapa pohon yang gue yakin usianya lebih dari 30 tahun sehingga suasananya sangat teduh. Eh, serem juga sih kalo malam2 jalan ke lobby sendirian :)) Serunya lagi, balkon hotel gue menghadap ke "hutan" di belakang hotel. Ada peringatan di pasang di pintu ke balkon, jangan tinggalkan pintu dalam keadaan terbuka terlalu lebar. Kenapa? Karena banyak monyet liar. Gak heran waktu di hari pertama banyak peserta yang bilang sudah sempat bertemu monyet waktu jalan-jalan pagi.

Enam hari tinggal di hotel Novus semakin memperkuat kesan gue terhadap semua hal yang disajikan. Semuanya positif. Makanannya, biarpun karena udah satu bulan hidup gue dari hotel ke hotel jadi udah eneg banget sama makanannya, semua enak, despite the fact that I stopped eating on the third day :) Hari ke 4 gue geret-geret peserta makan sate kambing di luar, hari selanjutnya mulai buka bekal buah kiwi, yoghurt dan pilus untuk bertahan hidup dan berstrategi makan banyak di waktu sarapan supaya bertahan sampai malam. Gue juga harus ulang lagi pujian setinggi-tingginya untuk ketulusan semua stafnya, termasuk layanannya yang sigap dan sangat ramah. Belum lagi untuk keindahan kamar yang gak tanggung-tanggung.

Jadi, jarang-jarang nih, gue sangat rekomen siapapun untuk menginap atau bikin acara di Novus Hotel. Kalau gue punya 8 jempol gue akan kasih pujian sebesar 8 jempol untuk hotel ini. Silakan cek di websitenya http://www.novushotels.com/ untuk keterangan lebih lanjut.

Ini foto hotelnya dari jauh

Disclaimer: Gue gak dibayar Novus untuk promosi. Tulisan ini adalah murni tulisan konsumen yang biasanya sangat bawel tapi kali ini sangat puas atas layanan yang didapatkan.


PS: Kamarnya agak mahal, tapi the money is worth what you get. Enaknya gue, semua kehebatan ini gue dapatkan dengan gratis, plus malah gue dibayar sama yang punya acara :))