Review Asuransi Kendaraan
By Dee
on |
0
komentar
Dari pelajaran dalam sebuah kursus terkait perencanaan keuangan yang pernah gue ikuti beberapa tahun lalu disebutkan bahwa idealnya seseorang harus memiliki beberapa hal. Menurut berbagai definisi, asuransi artinya salah satu bentuk pengendalian risiko yang dilakukan dengan cara mengalihkan/transfer risiko dari satu pihak ke pihak lain, dalam hal ini adalah perusahaan asuransi. Mengapa butuh asuransi? Asuransi mengendalikan risiko yang seharusnya kita tanggung ketika ada berbagai ancaman dari luar, misalnya sakit atau kecelakaan. Tentu saja kita tidak ingin mengalami itu. Tetapi tentu lebih baik jika kita persiapkan segala sesuatunya, bukan?
Salah satu asuransi yang gue miliki adalah asuransi kendaraan. Ini adalah perusahaan asuransi ketiga yang gue pakai jasanya sejak mulai memiliki kendaraan atas nama gue pribadi. Perusahaan ini cukup membuat gue terkesan dengan pelayanannya selama hampir empat tahun, walaupun sempat ada adegan nyolot juga sih :))
Boleh sebut nama perusahaannya nggak sih? Boleh kali ya. Jadi, perusahaan yang gue pakai jasa asuransinya saat ini adalah Jaya Proteksi atau, sudah berganti nama, Asuransi Ace. Pilihan ini juga sebenarnya gue buat tanpa referensi yang memadai. Dua perusahaan asuransi yang gue pakai sebelumnya cukup baik tetapi agak kurang memuaskan, lalu gue mencari informasi tentang asuransi apa saja yang dipakai oleh beberapa orang teman dan kenalan. Beberapa memberikan masukan kelebihan dan kekurangannya masing-masing tetapi tidak ada diantara mereka yang pernah memakai Jaya Proteksi ini. Gue pikir, ya sudahlah mari kita coba satu tahun dulu. Toh mereka punya daftar bengkel rekanan yang cukup banyak dan beberapa gue ketahui sebagai bengkel yang cukup punya nama. Ternyata layanan mereka memuaskan dan ini tentu saja membuat gue terus memakai jasa mereka sampai sekarang, yang sudah masuk tahun keempat. Catatan: cara pemilihan seperti ini amat sangat tidak disarankan. Kebetulan aja alhamdulillah ini dapat yang bagus. Gimana kalau kebetulan dapat zonk perusahaan yang pelayanannya kurang bagus? Rugi kan.
Sempat sih ada masalah dengan perusahaan ini. Awalnya ketika masa perlindungan gue hampir habis, seorang staf pemasaran lewat telepon menghubungi gue menawarkan perpanjangan. Gue tanya ini itu ina inu, termasuk soal premi. Iseng gue tanya, "Bisa nggak sih preminya didiskon?". Dia memberikan jawaban tidak bisa karena nilai premi ditentukan oleh OJK bla bla bla. Tetapi, kalau gue tidak pernah klaim, sebenarnya gue bisa dapat cashback dalam bentuk diskon 10%. Lalu gue tanya lagi, "Lho, kalau gitu kenapa saya nggak pernah diberi informasi tentang hal in?". Nah, di sinilah jawaban yang dia berikan mulai berputar-putar kesana kemari nggak jelas. Akhirnya karena kesal, gue bilang, "Saya akan perpanjang tetapi tidak melalui anda. Saya akan hubungi staf lain". Beberapa hari kemudian gue hubungi call center dan minta perpanjangan. Ternyata, si staf pemasaran yang sama yang menghubungi gue lagi untuk menindaklanjuti permintaan gue lewat call center, dengan nada bicara yang cukup datar. Gue segera akhiri pembicaraan dan sampaikan gue tidak mau lagi berurusan dengan dia. Kembali gue hubungi call center dan minta dihubungi oleh staf lain. Siapa saja asal jangan staf yang tadi ini. Tunggu punya tunggu, sampai hampir seminggu gue nggak dapat kabar. Gue hubungi lagi call center, dan menurut mereka sudah ditindaklanjuti jadi ada keanehan mengapa gue belum ditelpon.
Otak konspirasi gue mulai jalan. Gue pikir, jangan-jangan para staf pemasaran yang lain mau mengerjai gue yang menolak temannya sehingga mereka juga nggak mau hubungi gue. Solidaritas kan pasti berlaku ya. Sayangnya mereka berurusan dengan orang yang nggak selalu pasrah. Gue langsung tulis surat keluhan ke alamat email kantor pusat mereka. Setelah itu, gue langsung telepon ke kantor pusat mengajukan keluhan yang sama. Voila. Keesokan harinya gue menerima dua telepon. Telepon pertama dari Team Leader divisi pemasaran di kantor pusat yang kemudian membantu proses perpanjangan premi gue sampai selesai - dan orang ini harus gue acungi jempol karena sabar banget menghadapi gue yang keburu ketus karena kesal dengan penundaan yang lama -, dan telepon kedua dari Customer Care Manager. Kepada yang kedua, gue sebut nama staf pemasaran dan perkiraan gue kenapa gue nggak dihubungi. Sekaligus juga gue sampaikan bahwa masalah gue sudah ditangani dengan baik oleh Team Leader. Akhirnya, masalah selesai dengan sangat memuaskan. Cara mereka menangani keluhan gue sangat profesional dan sigap.
Kembali ke aplikasi perlindungan asuransi kepada mobil gue, dua setengah tahun pertama gue memakai jasa mereka, tidak pernah ada klaim dari pihak gue. Mobil sih ada lah lecet-lecet sedikit, tapi nggak terlalu mengganggu. Seperti banyak saran umum, gue menunggu "mengumpulkan" lecet-lecet itu sebelum ditangani untuk menghemat biaya risiko sendiri yang harus gue tanggung (saat itu sebesar Rp. 200.000 per kejadian). Pada menjelang akhir tahun ketiga, akhirnya gue memutuskan untuk memasukkan mobil ke bengkel, maka dimulailah proses klaim itu.
Proses diawali dengan gue menghubungi Call Center. Keluhan gue dicatat dengan santun dan tanpa penjelasan bertele-tele. Mereka memberikan dua pilihan; gue mendatangi kantor asuransi agar mobil gue bisa segera dicek kerusakannya di mana saja dan Surat Perintah Kerja (kepada bengkel) akan diterbitkan tiga hari kemudian, atau, gue menunggu di rumah untuk didatangi petugas. Pilihan kedua disertai dengan keterangan bahwa mungkin membutuhkan beberapa hari untuk mencari jadwal kosong dari staf survey mereka. Mengingat tingkat kemalasan menerjang kemacetan yang tinggi, tentu saja pilihan kedua yang gue ambil. Ternyata gue pun nggak harus menunggu lama. Tiga hari setelah pembicaraan di telepon itu, petugas survey datang ke rumah. Seperti biasa petugas ini memeriksa di mana saja letak kerusakan, mengambil foto, dan meminta gue mengisi formulir serta menentukan bengkel mana yang akan gue pilih. Di situ petugas juga menginformasikan bahwa SPK akan diterbitkan dalam waktu tiga hari. Great. Oiya, karena nggak ada rujukan, gue pilih aja bengkel yang lokasinya terdekat dari rumah. Pilihan jatuh pada bengkel Pegasus yang beralamat di Jalan Kepu Selatan.
Tepat tiga hari kemudian gue dihubungi pihak bengkel yang menyatakan SPK sudah keluar. Mereka memberikan pilihan juga, apakah gue mau membawa sendiri mobil ke lokasi atau mereka mengirim supir untuk mengambil, dan kemudian mengantar kembali setelah selesai pengerjaan. You know me so well lah, so you know which option I made.Yup, second one it is. Gue dijanjikan proses pengerjaan akan selesai dalam waktu tiga atau empat hari. Persis tiga hari kemudian gue kembali dihubungi, bahwa mobil sudah beres pengerjaannya dan akan diantar. Sayangnya, hari itu gue sedang bekerja entah di mana, jadi gue minta mobil diantar saja keesokan harinya. Benar saja, besoknya sekitar jam 10 pagi mobil gue sudah kembali ke rumah dalam keadaan mulus.
Sekitar 2 bulan lalu gue sepertinya ada dalam keadaan yang membuat berkendara sebagai suatu hal yang harusnya gue hindari sebisa mungkin. Konsentrasi agak sulit ngumpul karena satu dan lain hal. Gue sadari itu tetapi gue pikir gue masih bisa atasi masalah ini. Ternyata gue salah. Dalam waktu dua hari gue menabrak dua kali. Alhamdulillah banget kerugiannya cuma terjadi di pihak gue. Nggak kebayang kalau sampai ada korban dari pihak lain.
Kejadian pertama, gue jemput nyokap di klinik dan posisi mobil dalam keadaan masuk menghadap ke dalam. Ketika akan keluar, ada tukang parkir yang kasih aba-aba, dan gue bergerak mundur. Entah kenapa, setelah mungkin 10 tahun gue sering antar jemput nyokap, baru kali ini gue menginjak gas terlalu kencang. Ya sudah, nabrak lah. Untungnya yang gue tabrak itu mobil bak terbuka yang juga keadaannya sudah coreng moreng menyedihkan. Gue cuma kebagian minta maaf dan mereka bilang nggak usah diganti apa-apa. Mobil gue? Lampu stop pecah, baret cukup dalam di beberapa tempat, bemper patah, lampu sein agak pecah.
Keesokan harinya gue harus keluar rumah sekitar jam 9. Baru jalan 200 meter, ada mobil Avanza dari arah berlawanan yang -mungkin dia rada gila ya- klakson berkali-kali suruh gue minggir. Walaupun mobil sudah mepet sekali ke pagar rumah orang di sebelah kiri gue, tapi dia tetap marah-marah. Padahal sebelah gue itu lega lho, masih bisa buat Innova lewat. Seperti biasa, sumbu gue tersulut. Buka jendela gue teriakin, "Itu sebelah kiri lo lega. T***L!!!" Nyebelin banget deh. Ndilalah karena masih emosi, setelah itu gue jalan lagi dan nggak sadar di ujung hidung mobil gue ada seorang ibu dengan motornya. Untungnya gue masih baru injak gas banget, jadi ibu itu cuma kesundul sedikit dan jatuh. Haduh...
Singkat cerita, dikarenakan dua kejadian tersebut, gue kembali mengajukan klaim ke Jaya Proteksi. Prosesnya kembali sama dengan di atas, tetapi beda uang pertanggungan risiko sendiri yang sekarang sudah menjadi Rp. 300.000 per kejadian sesuai ketentuan OJK, hanya dengan bengkel berbeda karena Pegasus pindah lokasi ke Cengkareng. Nggak mungkin dong gue tetap ngotot pilih mereka kalau jauh gitu. Petugas survey yang datang ke rumah memberikan satu opsi, Jaya Prima Motor, yang berlokasi di WTC Mangga Dua.
Bengkel kedua ini justru membuat gue lebih terkesan. Beberapa orang yang gue hubungi dan menghubungi gue untuk koordinasi soal bemper -yang harus nunggu beberapa hari untuk pengiriman dari Surabaya- sangat ramah,jelas dalam pemberian informasi dan sangat membantu. Mereka juga nggak keberatan kirim supir untuk jemput mobil gue di halaman sebuah hotel karena hari itu gue harus kerja di situ. Supirnya juga baik banget, sopan dan sabar nunggu gue beresin berbagai prepentilan yang tersebar di semua sudut dalam mobil. Oiya, gue nggak ingat bahwa ternyata di kantong uang parkir ada gue selipkan lembaran uang seratus ribuan yang tadinya mau gue pakai beli bensin, tapi justru pom bensinnya terlewat. Uang itu ada dalam jumlah utuh ketika mobil gue dikembalikan.
Kesimpulan dari curhatan di atas adalah, Jaya Proteksi a.k.a Asuransi Ace untuk kendaraan ini bisa gue rekomendasikan untuk dipakai. Penafian, ini penilaian murni gue dari dua klaim yang gue lakukan dan tidak (belum) memberikan rekomendasi untuk jenis asuransi lainnya yang mereka jual karena belum pernah pakai. Gue nggak dibayar oleh perusahaan ini. Gue menulis ini dengan tulus karena sangat sadar gue bisa sangat ribet dan banyak keluhan terhadap beberapa penyedia jasa. Kalau mau tau contoh keluhan ke penyedia jasa, duduklah di sebelah gue ketika gue menelepon penyedia jasa selular dan televisi berlangganan yang gue pakai. Dijamin kalian kesel karena gue judes banget :))))
Salah satu asuransi yang gue miliki adalah asuransi kendaraan. Ini adalah perusahaan asuransi ketiga yang gue pakai jasanya sejak mulai memiliki kendaraan atas nama gue pribadi. Perusahaan ini cukup membuat gue terkesan dengan pelayanannya selama hampir empat tahun, walaupun sempat ada adegan nyolot juga sih :))
Boleh sebut nama perusahaannya nggak sih? Boleh kali ya. Jadi, perusahaan yang gue pakai jasa asuransinya saat ini adalah Jaya Proteksi atau, sudah berganti nama, Asuransi Ace. Pilihan ini juga sebenarnya gue buat tanpa referensi yang memadai. Dua perusahaan asuransi yang gue pakai sebelumnya cukup baik tetapi agak kurang memuaskan, lalu gue mencari informasi tentang asuransi apa saja yang dipakai oleh beberapa orang teman dan kenalan. Beberapa memberikan masukan kelebihan dan kekurangannya masing-masing tetapi tidak ada diantara mereka yang pernah memakai Jaya Proteksi ini. Gue pikir, ya sudahlah mari kita coba satu tahun dulu. Toh mereka punya daftar bengkel rekanan yang cukup banyak dan beberapa gue ketahui sebagai bengkel yang cukup punya nama. Ternyata layanan mereka memuaskan dan ini tentu saja membuat gue terus memakai jasa mereka sampai sekarang, yang sudah masuk tahun keempat. Catatan: cara pemilihan seperti ini amat sangat tidak disarankan. Kebetulan aja alhamdulillah ini dapat yang bagus. Gimana kalau kebetulan dapat zonk perusahaan yang pelayanannya kurang bagus? Rugi kan.
Sempat sih ada masalah dengan perusahaan ini. Awalnya ketika masa perlindungan gue hampir habis, seorang staf pemasaran lewat telepon menghubungi gue menawarkan perpanjangan. Gue tanya ini itu ina inu, termasuk soal premi. Iseng gue tanya, "Bisa nggak sih preminya didiskon?". Dia memberikan jawaban tidak bisa karena nilai premi ditentukan oleh OJK bla bla bla. Tetapi, kalau gue tidak pernah klaim, sebenarnya gue bisa dapat cashback dalam bentuk diskon 10%. Lalu gue tanya lagi, "Lho, kalau gitu kenapa saya nggak pernah diberi informasi tentang hal in?". Nah, di sinilah jawaban yang dia berikan mulai berputar-putar kesana kemari nggak jelas. Akhirnya karena kesal, gue bilang, "Saya akan perpanjang tetapi tidak melalui anda. Saya akan hubungi staf lain". Beberapa hari kemudian gue hubungi call center dan minta perpanjangan. Ternyata, si staf pemasaran yang sama yang menghubungi gue lagi untuk menindaklanjuti permintaan gue lewat call center, dengan nada bicara yang cukup datar. Gue segera akhiri pembicaraan dan sampaikan gue tidak mau lagi berurusan dengan dia. Kembali gue hubungi call center dan minta dihubungi oleh staf lain. Siapa saja asal jangan staf yang tadi ini. Tunggu punya tunggu, sampai hampir seminggu gue nggak dapat kabar. Gue hubungi lagi call center, dan menurut mereka sudah ditindaklanjuti jadi ada keanehan mengapa gue belum ditelpon.
Otak konspirasi gue mulai jalan. Gue pikir, jangan-jangan para staf pemasaran yang lain mau mengerjai gue yang menolak temannya sehingga mereka juga nggak mau hubungi gue. Solidaritas kan pasti berlaku ya. Sayangnya mereka berurusan dengan orang yang nggak selalu pasrah. Gue langsung tulis surat keluhan ke alamat email kantor pusat mereka. Setelah itu, gue langsung telepon ke kantor pusat mengajukan keluhan yang sama. Voila. Keesokan harinya gue menerima dua telepon. Telepon pertama dari Team Leader divisi pemasaran di kantor pusat yang kemudian membantu proses perpanjangan premi gue sampai selesai - dan orang ini harus gue acungi jempol karena sabar banget menghadapi gue yang keburu ketus karena kesal dengan penundaan yang lama -, dan telepon kedua dari Customer Care Manager. Kepada yang kedua, gue sebut nama staf pemasaran dan perkiraan gue kenapa gue nggak dihubungi. Sekaligus juga gue sampaikan bahwa masalah gue sudah ditangani dengan baik oleh Team Leader. Akhirnya, masalah selesai dengan sangat memuaskan. Cara mereka menangani keluhan gue sangat profesional dan sigap.
Kembali ke aplikasi perlindungan asuransi kepada mobil gue, dua setengah tahun pertama gue memakai jasa mereka, tidak pernah ada klaim dari pihak gue. Mobil sih ada lah lecet-lecet sedikit, tapi nggak terlalu mengganggu. Seperti banyak saran umum, gue menunggu "mengumpulkan" lecet-lecet itu sebelum ditangani untuk menghemat biaya risiko sendiri yang harus gue tanggung (saat itu sebesar Rp. 200.000 per kejadian). Pada menjelang akhir tahun ketiga, akhirnya gue memutuskan untuk memasukkan mobil ke bengkel, maka dimulailah proses klaim itu.
Proses diawali dengan gue menghubungi Call Center. Keluhan gue dicatat dengan santun dan tanpa penjelasan bertele-tele. Mereka memberikan dua pilihan; gue mendatangi kantor asuransi agar mobil gue bisa segera dicek kerusakannya di mana saja dan Surat Perintah Kerja (kepada bengkel) akan diterbitkan tiga hari kemudian, atau, gue menunggu di rumah untuk didatangi petugas. Pilihan kedua disertai dengan keterangan bahwa mungkin membutuhkan beberapa hari untuk mencari jadwal kosong dari staf survey mereka. Mengingat tingkat kemalasan menerjang kemacetan yang tinggi, tentu saja pilihan kedua yang gue ambil. Ternyata gue pun nggak harus menunggu lama. Tiga hari setelah pembicaraan di telepon itu, petugas survey datang ke rumah. Seperti biasa petugas ini memeriksa di mana saja letak kerusakan, mengambil foto, dan meminta gue mengisi formulir serta menentukan bengkel mana yang akan gue pilih. Di situ petugas juga menginformasikan bahwa SPK akan diterbitkan dalam waktu tiga hari. Great. Oiya, karena nggak ada rujukan, gue pilih aja bengkel yang lokasinya terdekat dari rumah. Pilihan jatuh pada bengkel Pegasus yang beralamat di Jalan Kepu Selatan.
Tepat tiga hari kemudian gue dihubungi pihak bengkel yang menyatakan SPK sudah keluar. Mereka memberikan pilihan juga, apakah gue mau membawa sendiri mobil ke lokasi atau mereka mengirim supir untuk mengambil, dan kemudian mengantar kembali setelah selesai pengerjaan. You know me so well lah, so you know which option I made.Yup, second one it is. Gue dijanjikan proses pengerjaan akan selesai dalam waktu tiga atau empat hari. Persis tiga hari kemudian gue kembali dihubungi, bahwa mobil sudah beres pengerjaannya dan akan diantar. Sayangnya, hari itu gue sedang bekerja entah di mana, jadi gue minta mobil diantar saja keesokan harinya. Benar saja, besoknya sekitar jam 10 pagi mobil gue sudah kembali ke rumah dalam keadaan mulus.
Sekitar 2 bulan lalu gue sepertinya ada dalam keadaan yang membuat berkendara sebagai suatu hal yang harusnya gue hindari sebisa mungkin. Konsentrasi agak sulit ngumpul karena satu dan lain hal. Gue sadari itu tetapi gue pikir gue masih bisa atasi masalah ini. Ternyata gue salah. Dalam waktu dua hari gue menabrak dua kali. Alhamdulillah banget kerugiannya cuma terjadi di pihak gue. Nggak kebayang kalau sampai ada korban dari pihak lain.
Kejadian pertama, gue jemput nyokap di klinik dan posisi mobil dalam keadaan masuk menghadap ke dalam. Ketika akan keluar, ada tukang parkir yang kasih aba-aba, dan gue bergerak mundur. Entah kenapa, setelah mungkin 10 tahun gue sering antar jemput nyokap, baru kali ini gue menginjak gas terlalu kencang. Ya sudah, nabrak lah. Untungnya yang gue tabrak itu mobil bak terbuka yang juga keadaannya sudah coreng moreng menyedihkan. Gue cuma kebagian minta maaf dan mereka bilang nggak usah diganti apa-apa. Mobil gue? Lampu stop pecah, baret cukup dalam di beberapa tempat, bemper patah, lampu sein agak pecah.
Keesokan harinya gue harus keluar rumah sekitar jam 9. Baru jalan 200 meter, ada mobil Avanza dari arah berlawanan yang -mungkin dia rada gila ya- klakson berkali-kali suruh gue minggir. Walaupun mobil sudah mepet sekali ke pagar rumah orang di sebelah kiri gue, tapi dia tetap marah-marah. Padahal sebelah gue itu lega lho, masih bisa buat Innova lewat. Seperti biasa, sumbu gue tersulut. Buka jendela gue teriakin, "Itu sebelah kiri lo lega. T***L!!!" Nyebelin banget deh. Ndilalah karena masih emosi, setelah itu gue jalan lagi dan nggak sadar di ujung hidung mobil gue ada seorang ibu dengan motornya. Untungnya gue masih baru injak gas banget, jadi ibu itu cuma kesundul sedikit dan jatuh. Haduh...
Singkat cerita, dikarenakan dua kejadian tersebut, gue kembali mengajukan klaim ke Jaya Proteksi. Prosesnya kembali sama dengan di atas, tetapi beda uang pertanggungan risiko sendiri yang sekarang sudah menjadi Rp. 300.000 per kejadian sesuai ketentuan OJK, hanya dengan bengkel berbeda karena Pegasus pindah lokasi ke Cengkareng. Nggak mungkin dong gue tetap ngotot pilih mereka kalau jauh gitu. Petugas survey yang datang ke rumah memberikan satu opsi, Jaya Prima Motor, yang berlokasi di WTC Mangga Dua.
Bengkel kedua ini justru membuat gue lebih terkesan. Beberapa orang yang gue hubungi dan menghubungi gue untuk koordinasi soal bemper -yang harus nunggu beberapa hari untuk pengiriman dari Surabaya- sangat ramah,jelas dalam pemberian informasi dan sangat membantu. Mereka juga nggak keberatan kirim supir untuk jemput mobil gue di halaman sebuah hotel karena hari itu gue harus kerja di situ. Supirnya juga baik banget, sopan dan sabar nunggu gue beresin berbagai prepentilan yang tersebar di semua sudut dalam mobil. Oiya, gue nggak ingat bahwa ternyata di kantong uang parkir ada gue selipkan lembaran uang seratus ribuan yang tadinya mau gue pakai beli bensin, tapi justru pom bensinnya terlewat. Uang itu ada dalam jumlah utuh ketika mobil gue dikembalikan.
Kesimpulan dari curhatan di atas adalah, Jaya Proteksi a.k.a Asuransi Ace untuk kendaraan ini bisa gue rekomendasikan untuk dipakai. Penafian, ini penilaian murni gue dari dua klaim yang gue lakukan dan tidak (belum) memberikan rekomendasi untuk jenis asuransi lainnya yang mereka jual karena belum pernah pakai. Gue nggak dibayar oleh perusahaan ini. Gue menulis ini dengan tulus karena sangat sadar gue bisa sangat ribet dan banyak keluhan terhadap beberapa penyedia jasa. Kalau mau tau contoh keluhan ke penyedia jasa, duduklah di sebelah gue ketika gue menelepon penyedia jasa selular dan televisi berlangganan yang gue pakai. Dijamin kalian kesel karena gue judes banget :))))
IKEA Indonesia and Swedish Meatballs
By Dee
on |
0
komentar
I actually like IKEA. Not so much though, because I know I can't buy the things I like from the store. Some I can't afford, some I don't need, some others I can afford and need but have no place to put in my house. Those fluffy sofas, for example, are too inviting to sit on. Unfortunately, they're too bulky for this tiny nest.
Sebagian orang berbondong-bondong mengunjungi IKEA sejak toko ini resmi dibuka sejak 2 bulan lalu. Gue sebenarnya sempat menjadi salah satu orang yang ingin sekali segera mengunjunginya. It is wondrous, though, how this desire dissapeared in a blink of a moment due to some personal reasons. Diajak berkali-kali pun gue selalu menggelengkan kepala.
Sampai ketika seorang teman menghubungi dan mengatakan dia sedang mengalami burn out. Dia salah satu perempuan tangguh yang pernah gue kenal dan jarang sekali mengeluh, jadi ketika dia memakai kata burn out, gue tau dia sudah benar-benar ada di titik terberat. Saat itu dia hanya berkata dia butuh hiburan yang bisa dilakukan dalam satu hari dan, kalau bisa, hiburannya jalan-jalan ke IKEA. I laughed so hard. Burn out kok ya masih bisa milih mau jalan kemana :p Anyway, there we went on a weekday. Gue gak mau ke IKEA di akhir pekan. Pegel nyetirnya dan nggak sanggup lihat lautan manusia memenuhi dalam toko itu.
Singkat cerita, kami tiba di IKEA. Gue berusaha menetapkan hati untuk tidak membeli barang-barang yang tidak terlalu diperlukan sebenarnya. Tapi yang terjadi adalah gue keluar dengan menenteng satu tas besar berisikan barang-barang yang.....nggak terlalu perlu sebenarnya *sigh* In my defense, they're too cute to pass. After all, I might not go there again within a short period. Yari yari yara....
Datang ke IKEA pasti nggak lengkap tanpa makan Swedish meatballs toh? Dari IKEA lain yang pernah gue kunjungi, Swedish meatballs - versi halal - yang mereka jual cukup menyenangkan indera perasa gue. Tidak terlalu mencengangkan rasanya, tapi cukup membuat tenang. Comfort food, it is. Ini pula yang menjadi patokan gue ketika merelakan diri antri selama 15 menit sebelum bisa sampai ke counter tempat mengambil sepiring Swedish Meatballs - isi 10 butir - dan salad. Dan chocolate cake. Dan siomay goreng. Dan satu cake lagi. Dan satu lagi.....
Keanehan pertama sebenarnya sudah gue rasakan ketika melihat warna meatballs ini. Pucat tidak menggairahkan. Ketika diletakkan dalam piring dan diberikan sausnya kemudian gue merasa ada yang kurang. Apa ya? Aha! Where's the cranberry sauce? Sadly, petugasnya mengatakan, "Kami tidak menyajikan cranberry sauce-nya, mbak". Yaaahhh.. gimana jadinya ini? Singkat cerita, kami duduk dan siap menikmati makanan. In high anticipation I grabbed my fork and took one meatball and shoved it into my wide gaping mouth. Damn.... it's bland. Jadi ya saudara-saudara, meatballs ini sepertinya dibuat dengan standar meatballs Indonesia alias bakso abang-abang. Masa iya sih yang terasa cuma terigunya. Rasa dagingnya seperti menguap entah kemana. Padahal aslinya meatballs itu kan dagingnya yang lebih dominan. Penggunaan terigu hanya sedikit sebagai alat bantu merekatkan dagingnya supaya bisa dibulatkan. Ah, payah nih...
Terus karena penasaran, gue coba potong sedikit somay gorengnya. Hiks, nggak ada rasanya juga. Ya sudahlah terpaksa pelan-pelan dimakan walaupun sama sekali nggak menikmati.
Setelah selesai makan, coba cake yang atasnya putih itu. Itu Almond Cake, yang gue pikir bakal enak. Ternyata oh ternyata, rasanya manis bangeettt.... Sakit gigi rasanya begitu makan sesuap. I stopped eating it. Bukannya mau buang makanan tapi gue lebih sayang gigi dan kadar gula darah. Kue yang coklat itu lumayan enak walaupun nggak istimewa. Bisa deh menutup kekecewaan sedikit.
Dengan gontai kemudian kami membereskan baki makanan, memuat kembali botol bekas, tisu, dan dan piring bekas makan kami kemudian meletakkannya di bagian penyimpanan baki kotor. Hal ini yang masih belum disadari oleh banyak pengunjung. IKEA menerapkan sistem siapapun yang makan harus mengembalikan sendiri semuanya ke tempat peralatan kotor tersebut. Namun, gue melihat masih banyak meja yang berisikan peralatan kotor. Bukan cuma peralatannya, tapi mejanya pun kotor berantakan remah makanan dan tetesan air. Memang ini belum membudaya, tapi semoga pelan-pelan kita bisa mengubahnya.
Jadi kesimpulannya, kalau nggak terpaksa banget ke sana karena mau beli perabot, sepertinya gue nggak akan kembali ke IKEA dalam waktu dekat, Selain makanannya nggak enak, hati ini pun teriris sembilu kalau harus sering-sering ke Alam Sutera *curcol dikit sebagai penutup*
Sebagian orang berbondong-bondong mengunjungi IKEA sejak toko ini resmi dibuka sejak 2 bulan lalu. Gue sebenarnya sempat menjadi salah satu orang yang ingin sekali segera mengunjunginya. It is wondrous, though, how this desire dissapeared in a blink of a moment due to some personal reasons. Diajak berkali-kali pun gue selalu menggelengkan kepala.
Sampai ketika seorang teman menghubungi dan mengatakan dia sedang mengalami burn out. Dia salah satu perempuan tangguh yang pernah gue kenal dan jarang sekali mengeluh, jadi ketika dia memakai kata burn out, gue tau dia sudah benar-benar ada di titik terberat. Saat itu dia hanya berkata dia butuh hiburan yang bisa dilakukan dalam satu hari dan, kalau bisa, hiburannya jalan-jalan ke IKEA. I laughed so hard. Burn out kok ya masih bisa milih mau jalan kemana :p Anyway, there we went on a weekday. Gue gak mau ke IKEA di akhir pekan. Pegel nyetirnya dan nggak sanggup lihat lautan manusia memenuhi dalam toko itu.
Singkat cerita, kami tiba di IKEA. Gue berusaha menetapkan hati untuk tidak membeli barang-barang yang tidak terlalu diperlukan sebenarnya. Tapi yang terjadi adalah gue keluar dengan menenteng satu tas besar berisikan barang-barang yang.....nggak terlalu perlu sebenarnya *sigh* In my defense, they're too cute to pass. After all, I might not go there again within a short period. Yari yari yara....
Datang ke IKEA pasti nggak lengkap tanpa makan Swedish meatballs toh? Dari IKEA lain yang pernah gue kunjungi, Swedish meatballs - versi halal - yang mereka jual cukup menyenangkan indera perasa gue. Tidak terlalu mencengangkan rasanya, tapi cukup membuat tenang. Comfort food, it is. Ini pula yang menjadi patokan gue ketika merelakan diri antri selama 15 menit sebelum bisa sampai ke counter tempat mengambil sepiring Swedish Meatballs - isi 10 butir - dan salad. Dan chocolate cake. Dan siomay goreng. Dan satu cake lagi. Dan satu lagi.....
Keanehan pertama sebenarnya sudah gue rasakan ketika melihat warna meatballs ini. Pucat tidak menggairahkan. Ketika diletakkan dalam piring dan diberikan sausnya kemudian gue merasa ada yang kurang. Apa ya? Aha! Where's the cranberry sauce? Sadly, petugasnya mengatakan, "Kami tidak menyajikan cranberry sauce-nya, mbak". Yaaahhh.. gimana jadinya ini? Singkat cerita, kami duduk dan siap menikmati makanan. In high anticipation I grabbed my fork and took one meatball and shoved it into my wide gaping mouth. Damn.... it's bland. Jadi ya saudara-saudara, meatballs ini sepertinya dibuat dengan standar meatballs Indonesia alias bakso abang-abang. Masa iya sih yang terasa cuma terigunya. Rasa dagingnya seperti menguap entah kemana. Padahal aslinya meatballs itu kan dagingnya yang lebih dominan. Penggunaan terigu hanya sedikit sebagai alat bantu merekatkan dagingnya supaya bisa dibulatkan. Ah, payah nih...
Terus karena penasaran, gue coba potong sedikit somay gorengnya. Hiks, nggak ada rasanya juga. Ya sudahlah terpaksa pelan-pelan dimakan walaupun sama sekali nggak menikmati.
Setelah selesai makan, coba cake yang atasnya putih itu. Itu Almond Cake, yang gue pikir bakal enak. Ternyata oh ternyata, rasanya manis bangeettt.... Sakit gigi rasanya begitu makan sesuap. I stopped eating it. Bukannya mau buang makanan tapi gue lebih sayang gigi dan kadar gula darah. Kue yang coklat itu lumayan enak walaupun nggak istimewa. Bisa deh menutup kekecewaan sedikit.
Dengan gontai kemudian kami membereskan baki makanan, memuat kembali botol bekas, tisu, dan dan piring bekas makan kami kemudian meletakkannya di bagian penyimpanan baki kotor. Hal ini yang masih belum disadari oleh banyak pengunjung. IKEA menerapkan sistem siapapun yang makan harus mengembalikan sendiri semuanya ke tempat peralatan kotor tersebut. Namun, gue melihat masih banyak meja yang berisikan peralatan kotor. Bukan cuma peralatannya, tapi mejanya pun kotor berantakan remah makanan dan tetesan air. Memang ini belum membudaya, tapi semoga pelan-pelan kita bisa mengubahnya.
Jadi kesimpulannya, kalau nggak terpaksa banget ke sana karena mau beli perabot, sepertinya gue nggak akan kembali ke IKEA dalam waktu dekat, Selain makanannya nggak enak, hati ini pun teriris sembilu kalau harus sering-sering ke Alam Sutera *curcol dikit sebagai penutup*
Two Stories - Bogor
By Dee
on |
0
komentar
It was supposed to be a happy day.
Nobody knew how devastated and heart-wrenched I was on that day. I put on the best smile I could, I laughed as loud as I could, I went craziest with everybody who was there.
No... nobody realized I was bleeding inside. It bled even worse when I came to realize it was only exactly a year ago when I felt like I was on top of the world. Now, I'm down at the dumps. Deepest and filthiest dump. Unsalvageable.
Anyway, we ended up at a cafe in Bogor. It's called Two Stories. It's on Jalan Pajajaran Indah V Np. 7, Bogor,near De Leuit. A warm and very nice ambience, price is very reasonable too. Unfortunately, service sucked. Three of our orders never showed up and nobody told us what was going on. It took almost 30 minutes for a glass of es teh tawar to come out. The owners were at a table right next to ours and,-- I really made sure they did--, for sure they were aware that we frowned and I was at the verge of yelling but did nothing.
Food was good but when it comes with such bad service, I wouldn't even consider to go back.
Nobody knew how devastated and heart-wrenched I was on that day. I put on the best smile I could, I laughed as loud as I could, I went craziest with everybody who was there.
No... nobody realized I was bleeding inside. It bled even worse when I came to realize it was only exactly a year ago when I felt like I was on top of the world. Now, I'm down at the dumps. Deepest and filthiest dump. Unsalvageable.
Anyway, we ended up at a cafe in Bogor. It's called Two Stories. It's on Jalan Pajajaran Indah V Np. 7, Bogor,near De Leuit. A warm and very nice ambience, price is very reasonable too. Unfortunately, service sucked. Three of our orders never showed up and nobody told us what was going on. It took almost 30 minutes for a glass of es teh tawar to come out. The owners were at a table right next to ours and,-- I really made sure they did--, for sure they were aware that we frowned and I was at the verge of yelling but did nothing.
Food was good but when it comes with such bad service, I wouldn't even consider to go back.
Top left: chicken wings, crispy skin, good sauce, good price. Top right: forgot the name but it's a kind of potato gratin. Quite good too.
Bottom left:Javanese nachos. It's basically cassava chips topped with mozzarella cheese and green chili. Not so good. Bottom right: lemon squash in pitcher, so-so
Seigo Dakgalbi
By Dee
on |
0
komentar
Gue bukan penyuka produk Korea, mau itu artisnya, musik, film, bahkan makanannya. Sekitar 3 tahun lalu, gue pernah pergi berdua seorang teman untuk makan di sebuah restoran Korea di Setiabudi. Awalnya semua berjalan dengan baik, makan ini itu dengan enak tanpa ada keluhan dan tanpa berlebihan. Setelah makan, kami duduk-duduk sebentar sambil ngobrol dan menurunkan makanan di perut. Tiba-tiba perut gue bergejolak dan mengakibatkan mual, seperti mendorong semua makanan tadi kembali ke kerongkongan. Untungnya, restoran ini letaknya berdekatan dengan toilet. Setelah keluar dan agak berlari gue berhasil mencapai toilet dalam waktu 2 menit, mendorong pintu, dan langsung terjadilah proses pengosongan perut yang menjijikkan. Semuanya keluar tanpa sisa. Habis...
Sejak saat itu gue merasa mungkin memang gue tidak cocok dengan bumbu-bumbu yang dipakai dalam masakan Korea dan memilih untuk menjauhinya. Sampai beberapa saat lalu ketika bertemu dengan teman-teman kuliah dan bingung mau makan di mana. Entah kenapa gue punya ide gila untuk masuk ke sebuah rumah makan Korea yang ada di gedung itu. "Uji nyali", itu yang ada di pikiran gue.
Ketika kami masuk ke restoran, lalu duduk, dan diberikan menu, kami hanya saling memandang sambil senyum-senyum. Empat orang perempuan yang tidak bisa akrab dengan produk Korea dan mencoba membaca menu yang tulisan nama makanannya semua dalam bahasa Korea tanpa penjelasan dalam bahasa
Indonesia sepertinya bisa menjadi pemandangan yang lucu. Setelah puas melihat-lihat gambarnya, kami memutuskan memanggil seorang pelayan untuk membantu menjelaskan. Sang pelayan dengan senang hati menjelaskan ini itu tentang beberapa hidangan yang menurut kami menarik gambarnya. Sayang sekali, gue lupa total apa nama masakan-masakan ini. Nggak ada niat untuk mencatat nama makanannya saat itu karena memang sedang malas ngeblog. Jadi, inilah yang kami pesan.
Mulai dari foto kiri atas, kalau nggak salah ini Toppoki, semacam appetizer. Menurut gue sih ini cuma cilok ala Korea aja. Teksturnya liat dan agak gurih, persis seperti cilok. Bedanya, cilok dimakan dengan bumbu kacang, Toppoki dimakan dengan semacam saus tomat yang dicampur saus sambal dan ditaburi keju mozzarela lalu dipanggang sebentar sampai kejunya meleleh. Harganya kalau nggak salah sekitar 50 ribu Rupiah.
Foto kanan atas itu bibimbap yang isinya adalah nasi, irisan wortel, lettuce, jagung pipil, daging iris tipis yang diberi sesendok sambal ghojuchang dan dibakar kemudian ketika akan dimakan kita aduk sendiri agar semua bumbunya tercampur. Porsi ini sepertinya cukup mengenyangkan untuk dimakan sendirian. Layak dengan harganya yang 55 ribu Rupiah.
Foto kiri bawah, lupa namanya. Ini semacam shabu-shabu tapi dengan kuah yang asam pedas (tapi beda dari tomyam). Kami pesan porsi besar waktu itu, dan sepertinya cukup untuk 5-6 orang. Isinya ada berbagai sayuran, jamur, tahu, dan bakso. Cukup enak. Agak lupa harganya, mungkin sekitar 200 ribu Rupiah.
Foto kanan bawah, ini makanan penutup. Isinya es serut disiram cairan putih lalu diberi toping buah-buahan, bulatan mutiara dan es krim. Ketika teman gue pesan ini gue pikir gue nggak akan suka karena kelihatannya manis sekali. Ternyata gue salah, tingkat kemanisannya pas dan enak, dan dari yang niatnya mencicip sesendok ternyata malah gue minta segelas kecil. Sambil makan gue bilang, "Ini enak banget sih es. Gurih gini. Pakai susu apa ya". Dan, dengan santai teman gue menjawab, "Kok susu sih. Ini kan whipcream cair yang bercampur es krim, ya jelas enak banget". Demi mendengar ini gue langsung meletakkan sendok dan berhenti makan. Whipcream?? Iya pantesan enak, tapi lemaknya banyaaakkkk :))
Lokasi: Tebet Green, lantai 2
Sejak saat itu gue merasa mungkin memang gue tidak cocok dengan bumbu-bumbu yang dipakai dalam masakan Korea dan memilih untuk menjauhinya. Sampai beberapa saat lalu ketika bertemu dengan teman-teman kuliah dan bingung mau makan di mana. Entah kenapa gue punya ide gila untuk masuk ke sebuah rumah makan Korea yang ada di gedung itu. "Uji nyali", itu yang ada di pikiran gue.
Indonesia sepertinya bisa menjadi pemandangan yang lucu. Setelah puas melihat-lihat gambarnya, kami memutuskan memanggil seorang pelayan untuk membantu menjelaskan. Sang pelayan dengan senang hati menjelaskan ini itu tentang beberapa hidangan yang menurut kami menarik gambarnya. Sayang sekali, gue lupa total apa nama masakan-masakan ini. Nggak ada niat untuk mencatat nama makanannya saat itu karena memang sedang malas ngeblog. Jadi, inilah yang kami pesan.
Mulai dari foto kiri atas, kalau nggak salah ini Toppoki, semacam appetizer. Menurut gue sih ini cuma cilok ala Korea aja. Teksturnya liat dan agak gurih, persis seperti cilok. Bedanya, cilok dimakan dengan bumbu kacang, Toppoki dimakan dengan semacam saus tomat yang dicampur saus sambal dan ditaburi keju mozzarela lalu dipanggang sebentar sampai kejunya meleleh. Harganya kalau nggak salah sekitar 50 ribu Rupiah.
Foto kanan atas itu bibimbap yang isinya adalah nasi, irisan wortel, lettuce, jagung pipil, daging iris tipis yang diberi sesendok sambal ghojuchang dan dibakar kemudian ketika akan dimakan kita aduk sendiri agar semua bumbunya tercampur. Porsi ini sepertinya cukup mengenyangkan untuk dimakan sendirian. Layak dengan harganya yang 55 ribu Rupiah.
Foto kiri bawah, lupa namanya. Ini semacam shabu-shabu tapi dengan kuah yang asam pedas (tapi beda dari tomyam). Kami pesan porsi besar waktu itu, dan sepertinya cukup untuk 5-6 orang. Isinya ada berbagai sayuran, jamur, tahu, dan bakso. Cukup enak. Agak lupa harganya, mungkin sekitar 200 ribu Rupiah.
Foto kanan bawah, ini makanan penutup. Isinya es serut disiram cairan putih lalu diberi toping buah-buahan, bulatan mutiara dan es krim. Ketika teman gue pesan ini gue pikir gue nggak akan suka karena kelihatannya manis sekali. Ternyata gue salah, tingkat kemanisannya pas dan enak, dan dari yang niatnya mencicip sesendok ternyata malah gue minta segelas kecil. Sambil makan gue bilang, "Ini enak banget sih es. Gurih gini. Pakai susu apa ya". Dan, dengan santai teman gue menjawab, "Kok susu sih. Ini kan whipcream cair yang bercampur es krim, ya jelas enak banget". Demi mendengar ini gue langsung meletakkan sendok dan berhenti makan. Whipcream?? Iya pantesan enak, tapi lemaknya banyaaakkkk :))
Hiatus
By Dee
on |
0
komentar
Entah kenapa 6 bulan terakhir ini tidak pernah ada keinginan untuk menyentuh blog. Menguap semua keinginan itu entah kemana.
Tetapi, ketika semalam mata ini sulit sekali terpejam dan akhirnya jari-jari ini bergerak menelusuri beberapa foto makanan yang entah sudah tersimpan berapa lama, ada sesuatu yang menggelitik untuk kembali membuka laman ini.
Here I am, back again. Cerita makan-makan lagi yuk!
Tetapi, ketika semalam mata ini sulit sekali terpejam dan akhirnya jari-jari ini bergerak menelusuri beberapa foto makanan yang entah sudah tersimpan berapa lama, ada sesuatu yang menggelitik untuk kembali membuka laman ini.
Here I am, back again. Cerita makan-makan lagi yuk!
Bebek Songkem
By Dee
on |
0
komentar
Biasanya setiap tahun di bulan Oktober gue akan mengusahakan
mendatangi satu tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya. Sampai
tahun kemarin, dan tahun ini, tempat baru itu diusahakan di dalam
Indonesia mengingat banyak sekali wilayah di dalam negeri tercinta ini
yang belum pernah gue lihat. Oktober tahun lalu gue berhasil
melaksanakan niat ini, sekaligus memenuhi keinginan yang sudah dipendam
sekitar 3 tahun, untuk menginjakkan kaki di Madura. Bahagianya pun makin
berlipat ratusan kali karena perginya bersama dengan mas bebep :)
Pecinta makanan yang tinggal di pulau Jawa, dan bagian lain Indonesia mungkin, pasti pernah dengar ketenaran bebek Sinjay. Begitupun gue. Ngebet banget pengen merasakan makan bebek Sinjay di tempat aslinya. Tapi cerita kali ini bukan tentang bebek Sinjay yang sudah banyak diulas. Ketika menginap di rumah seorang sanak saudara, yang bersangkutan berkali-kali menekankan untuk mencoba bebek Songkem, selain tentu saja bebek Sinjay. Penasaran, kami pun berpikir kalau memang ketemu tempatnya ya kita coba saja mumpung sedang di sana. Jarang-jarang kan bisa makan masakan asli Madura. Istilah bebek songkem muncul saat pertama kali masakan ini dibuat beberapa puluh tahun yang lalu. Konon masyarakat kota Sampang dengan notabene menjunjung dan menghormati Kyai, selalu membawa oleh - oleh bila hendak ke rumah sang Kyai untuk songkeman. Maka jadilah masakan bebek yang mereka bawa disebut bebek songkem.
Warung yang kami tuju nampaknya warung yang baru buka dan sedang gencar promosi. Sejak dari ujung akhir tol Suramadu, bendera merah berkibar di sepanjang jalan menunjukkan berapa meter lagi jarak kami dari bebek Songkem. Mulai dari 3 kilometer, terus mengecil sampai persis di depan warungnya. Warungnya cukup sederhana, cukup luas dan, yang terpenting, bersih. Begitu masuk kami langsung memesan di counter yang tersedia. Bebek goreng untuk mas bebep, bebek bakar buat gue. Satu hal menarik dari masakan ini adalah bebek yang disajikan dikukus terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut sesuai pilihan; goreng, bakar, bakar madu, atau tetap kukus. Warung ini menggadang bahwa dengan dikukus maka lapisan lemak di bawah kulit bebek akan luntur dan karena itu menjadikan bebeknya tidak berkolesterol tinggi. Perfecto!
Disajikan dalam potongan setengah ekor dan nasi dengan ukuran yang cukup banyak, air liur gue menetes begitu potongan dada bebek diletakkan di hadapan mata. OK, mesti atur strategi untuk perut karena setelah ini akan tetap ke bebek Sinjay. Gue memilih untuk hanya menyantap sedikit nasinya supaya masih ada Ruang nanti. Hal pertama yang gue lakukan, cicipi sambalnya. Aduh... sambil ngetik ini aja mulut gue berair lagi. Sambal matang sedikit berminyak dengan aroma lamat bawang putih dan irisan mangga asam manis. Pedasnya? Nendang! Langkah berikutnya, sobek daging bebeknya. Mengingat sudah dikukus, gue yakin nggak akan alot. Dan terkaan gue benar. Daging bebek bisa disuwir tanpa perlawanan sama sekali. Empuk maksimal. Satu hal yang gue langsung rasakan, ternyata benar tidak ada lapisan lemak di bawah kulit. Nyaris bersih. Kulitnya jadi tipis sekali dan terasa ringan. Dan begitu dicocol ke sambalnya, hhmmmmm..... langsung mikir, buka cabang di Jakarta gak sih? Gue nggak mencicipi bebek gorengnya karena terlalu asik menikmati porsi sendiri tapi dari penampakannya, kelihatan sama menariknya dengan punya gue. Buat gue bebek Songkem ini adalah jalan keluar dari kesukaan gue makan bebek tanpa harus khawatir sama kolesterolnya.
Andai ini buka cabang di Jakarta, gue yakin bisa menyaingi larisnya bebek "K" yang sekarang agak menurun rasanya itu. Jadi kalau ada kesempatan ke Madura, jangan coba bebek Sinjay aja. Bebek Songkem amat sangat layak dicoba. Ini namanya lengkap. Datang ke tempat baru yang diidamkan, dapat makanan super enak, dan makannya bareng mas bebep. Bahagia :)
Pecinta makanan yang tinggal di pulau Jawa, dan bagian lain Indonesia mungkin, pasti pernah dengar ketenaran bebek Sinjay. Begitupun gue. Ngebet banget pengen merasakan makan bebek Sinjay di tempat aslinya. Tapi cerita kali ini bukan tentang bebek Sinjay yang sudah banyak diulas. Ketika menginap di rumah seorang sanak saudara, yang bersangkutan berkali-kali menekankan untuk mencoba bebek Songkem, selain tentu saja bebek Sinjay. Penasaran, kami pun berpikir kalau memang ketemu tempatnya ya kita coba saja mumpung sedang di sana. Jarang-jarang kan bisa makan masakan asli Madura. Istilah bebek songkem muncul saat pertama kali masakan ini dibuat beberapa puluh tahun yang lalu. Konon masyarakat kota Sampang dengan notabene menjunjung dan menghormati Kyai, selalu membawa oleh - oleh bila hendak ke rumah sang Kyai untuk songkeman. Maka jadilah masakan bebek yang mereka bawa disebut bebek songkem.
Warung yang kami tuju nampaknya warung yang baru buka dan sedang gencar promosi. Sejak dari ujung akhir tol Suramadu, bendera merah berkibar di sepanjang jalan menunjukkan berapa meter lagi jarak kami dari bebek Songkem. Mulai dari 3 kilometer, terus mengecil sampai persis di depan warungnya. Warungnya cukup sederhana, cukup luas dan, yang terpenting, bersih. Begitu masuk kami langsung memesan di counter yang tersedia. Bebek goreng untuk mas bebep, bebek bakar buat gue. Satu hal menarik dari masakan ini adalah bebek yang disajikan dikukus terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut sesuai pilihan; goreng, bakar, bakar madu, atau tetap kukus. Warung ini menggadang bahwa dengan dikukus maka lapisan lemak di bawah kulit bebek akan luntur dan karena itu menjadikan bebeknya tidak berkolesterol tinggi. Perfecto!
Disajikan dalam potongan setengah ekor dan nasi dengan ukuran yang cukup banyak, air liur gue menetes begitu potongan dada bebek diletakkan di hadapan mata. OK, mesti atur strategi untuk perut karena setelah ini akan tetap ke bebek Sinjay. Gue memilih untuk hanya menyantap sedikit nasinya supaya masih ada Ruang nanti. Hal pertama yang gue lakukan, cicipi sambalnya. Aduh... sambil ngetik ini aja mulut gue berair lagi. Sambal matang sedikit berminyak dengan aroma lamat bawang putih dan irisan mangga asam manis. Pedasnya? Nendang! Langkah berikutnya, sobek daging bebeknya. Mengingat sudah dikukus, gue yakin nggak akan alot. Dan terkaan gue benar. Daging bebek bisa disuwir tanpa perlawanan sama sekali. Empuk maksimal. Satu hal yang gue langsung rasakan, ternyata benar tidak ada lapisan lemak di bawah kulit. Nyaris bersih. Kulitnya jadi tipis sekali dan terasa ringan. Dan begitu dicocol ke sambalnya, hhmmmmm..... langsung mikir, buka cabang di Jakarta gak sih? Gue nggak mencicipi bebek gorengnya karena terlalu asik menikmati porsi sendiri tapi dari penampakannya, kelihatan sama menariknya dengan punya gue. Buat gue bebek Songkem ini adalah jalan keluar dari kesukaan gue makan bebek tanpa harus khawatir sama kolesterolnya.
Andai ini buka cabang di Jakarta, gue yakin bisa menyaingi larisnya bebek "K" yang sekarang agak menurun rasanya itu. Jadi kalau ada kesempatan ke Madura, jangan coba bebek Sinjay aja. Bebek Songkem amat sangat layak dicoba. Ini namanya lengkap. Datang ke tempat baru yang diidamkan, dapat makanan super enak, dan makannya bareng mas bebep. Bahagia :)
Marugame, a treasure worth keeping
By Dee
on |
0
komentar
Di sekitar awal tahun
2000 ada seorang teman di Bandung yang memang jago masak dan pernah tinggal di
Jepang sehingga bisa mempelajari beberapa masakan langsung dari sumbernya
kemudian membuka rumah makan mungil di wilayah Setiabudi. Orang ini yang pertama
kali memaksa gue untuk makan sushi dan sashimi yang saat itu buat gue amit-amit
banget untuk disentuh. Di rumah makannya ini salah satu menunya adalah Udon.
Entah kenapa waktu mencicipi udon masakannya, buat gue itu adalah udon terenak
yang pernah gue dapat. Sayangnya karena
kesibukannya, rumah makan itu tutup sekitar setahun kemudian. Akibatnya gue
mengalami kesulitan untuk mendapatkan udon yang enak lagi.
Sampai dengan sebulan
lalu gue menjalani pencarian udon yang bisa menandingi masakan teman gue itu.
Hasilnya nihil. Udon yang gue makan 10 tahun lalu itu tetap udon terenak.
Nah sebulan lalu
ceritanya lagi ngumpul sama pasukan 3LA di Kota Kasablanka dan dapat info di
lantai bawah baru dibuka gerai udon langsung dari Jepang yang sudah terkenal.
Marugamen namanya. Dengan agak skeptis karena merasa tetap tidak akan bisa
mengalahkan yang dulu, gue setuju untuk makan di sana.
Menu pertama yang gue
cicipi sesuai rekomendasi adalah Niku Udon, yaitu semangkok udon dengan kuah
bening yang hangat. Hal yang menarik dari gerai ini adalah setiap porsi udon
ditimbang supaya sesuai standarisasi, begitu juga jumlah kuah dan dagingnya
yang ditakar menggunakan semacam sendok sayur. Setelah mendapatkan udon dan
sebelum sampai ke kasir ada counter untuk berbagai macam gorengan. Gorengan
gitu loh, as unhealthy as it always is, gue pasti ambil. Kali ini pilihannya
adalah Kakiage atau sayuran iris goreng. Bakwan Jepang lah :p
Saudara-saudara sebangsa
setanah air... ternyata ini adalah akhir penantian gue. Pertama kali kuah udon
itu menyentuh lidah gue, rasanya seluruh titik perasa di situ melonjak-lonjak
kegirangan. This is it! Ini udon yang akhirnya bisa mengalahkan masakan teman
gue. Sampai terharu makannya wkwkwk... Tentu saja akhirnya mangkok pertama gue
habiskan sampai tandas, sampai titik kuah terakhir.
Menu lainnya yang sudah
gue coba adalah beef curry udon. Gue adalah pecinta kari. Dan gue cukup picky
when it comes to curry. Marugame’s beef curry is just like the best of all
Japanese resto in Jakarta.
Terlebih lagi, waktu itu gue coba gorengan lainnya
yaitu beef croquette. Dang! Endang gulindang!
Minggu depannya karena
udah ngidam lagi, gue ajak nyokap makan di situ. Kali ini gue coba yang mentai
kaketama (mudah-mudahan nggak salah namanya) yaitu udon basah panas yang
dituangi telur ikan terbang dan telur ayam dengan kuning telur yang masih
mentah. Mentah? Iya. Jijik? Nggak lah wong gue suka banget telur setengah
matang. Nah, sebenarnya ini asiknya. Udon yang disajikan hangat harus
cepat-cepat diaduk dengan kuning telur itu. Yang terjadi kemudian adalah kuning
telur menjadi matang, persis kalau kita makan bubur ayam Sukabumi J. Rasanya? Unik dan enak banget.
I can't say enough deh tapi pokoknya kalau suka dan bisa makan udon, this one is really to die for. Selain di KoKas, Marugame ada di Gandaria City dan Mall Taman Anggrek.
Lucky me, kalo lagi pengen ya tinggal jingkring naik bajaj ke situ. Masih ada beberapa menu lain yang belum gue coba. Salah satu yang menarik yaitu udon yang disajikan dengan kuah kaldu dan bakso ayam. Hhhmmm....
Lokasi: Kota Kasablanka, lantai LG
Lokasi: Kota Kasablanka, lantai LG
Ikuze
By Dee
on |
0
komentar
Hiruk pikuk kesibukan Jakarta seringkali membuat penduduknya tidak lagi punya banyak waktu untuk sering berjumpa dengan teman lama. Jadwal yang sering bentrok, kemalasan menembus macet, atau kelelahan seringkali menghalangi niat.
Waktu mendadak ada teman lama -yang sudah sangat lama nggak bertemu walaupun jarak rumah kami kurang dari 5 kilometer- mengajak bertemu, tentu gue sambut dengan gembira. Niat awal bertemu hanya bertiga, tapi ternyata bertambah 3 orang dan 2 krucil lagi. Rame :D
Kali ini pilihan jatuh ke mal yang sepi, dan dekat rumah banget, supaya bisa nyaman ngobrol. Epicentrum. Ketika sampai di sana, mal ini benar-benar nampak lengang sehingga membuat leluasa memilih tempat makan.
Dan pilihannya jatuh ke Ikuze, makanan Jepang (lagi). Entah kenapa waktu melihat foto makanan di menu yang diletakkan di luar, gue merasa ini pasti enak. Masuklah kami ke situ dan langsung ganas meneliti daftar menu. We need something quick! Lapaaaarrr.....
Ronde pertama dibuka dengan Chef Tri Fushion Roll, yaitu gulungan panjang sushi dipotong menjadi 6 bagian dengan isi ketimun dan crispy tempura flour dilapisi di bagian atas dengan salmon mentah dan rumput laut. Perasaan gue soal restoran ini memang benar. Sushi pertama ini enak banget,
memberi kesan segar, sampai kemudian kami memesan 1 porsi lagi. Dan tetap enak alias konsistensi rasanya terjaga.
Oiya, sebenarnya ada Gyoza yang kami pesan sebagai makanan pembuka tapi entah kenapa kok malah datang belakangan. Gyozanya juga gue rekomendasikan. Rasanya seimbang antara gurih dan asin, dengan bumbu rendaman yang menarik. Cukup enak biarpun belum bisa menandingi buatannya pemilik blog Somamiko lah.
Menu berbagi lainnya adalah King Shake Gyu Roll yang berisikan belut, salmon matang dan bagian atas dilapisi dengan lelehan mozarella dan mayonaise. Sebenarnya cukup enak, tapi tidak sesegar rasa menu pertama.
Ternyata dua sushi roll dan satu gyoza belum cukup untuk kami. Sasaran berikutnya adalah Beef Miso Ramen dengan satu versi pedas dan satu tidak pedas. Ramen ini datang dalam keadaan, menurut gue, kurang panas mengepul. Versi pedas jauh lebih enak dari non pedas karena ternyata rasa miso (tauco) dalam kuahnya terlalu kuat sehingga membuat rasanya sangat asin ketika tidak dipadukan dengan cabai. Daging sapi dalam ramen ini enak banget. Empuk, juicy dan berbumbu sedap. Rekomen juga deh untuk yang ini.
Sebenarnya dua orang diantara kami memesan Beef Nabeyaki Udon dan Shabu Wagyu tapi dikarenakan kehebohan krucil yang disebabkan tante Dian gak sengaja mengakibatkan jarinya bocah kejepit *hiks* jadinya lupa mau gerecokin nyicip.
Sebagai penutup, sebagai pecinta ogura, gue merayu yang lain untuk share 1 cup es krim ogura. Dan, nggak rugi pesan ini. Enak juga. Tingkat kemanisannya juga rendah, sesuai selera gue. Just right.
Secara keseluruhan acara makan ini menyenangkan. Makanan enak, resto sepi, ngobrol leluasa sampai bisa ngakak, harga nggak juga bikin kantong jebol. Suatu hari pasti gue balik lagi ke sini
Mika
By Dee
on |
0
komentar
Minggu lalu gue ketemuan dengan beberapa teman kuliah yang bekerja di
beberapa bagian Jakarta dan, kebetulan, kemudian sepakat memilih Kota
Kasablanka sebagai tempatnya. Beruntung gue dong ya yang tinggal
jingkring ke situ :D
Seperti biasa, gue tiba lebih dulu dan artinya gue berhak memilih tempat pertemuan. Ada satu resto yang memang sudah sejak sekitar sebulan lalu gue incar untuk didatangi; Mika.
Satu hal yang membuat gue tertarik untuk memasuki Mika adalah dekorasinya yang berkesan nyaman dengan sofa besar dan berbagai buku yang diletakkan di meja dan rak dinding sehingga membawa otak gue memikirkan enaknya menikmati waktu luang dengan duduk di situ minum kopi sambil pegang Kindle.
Sambil menunggu gue memutuskan untuk memesan Teriyaki Salad dan Iced Latte. Pelayan cukup ramah dan kembali ke meja gue untuk menghidangkan makanan dalam waktu kurang dari 10 menit. Ok, satu nilai bagus.
Waktunya mencicipi tumpukan lembaran daun rocket, lettuce dan lainnya (yang gue gak tau namanya :p) setelah disiram saus kental berwarna coklat. Oh la la... Rasa sausnya sangat segar, nggak bikin mblenger, dan merupakan perpaduan asin teriyaki dengan sedikit asam dan miso yang tipis. Dedaunan yang segar menimbulkan sensasi krenyes ketika dikunyah. Jempol. Iced lattenya, sesuai perkiraan, nggak terlalu pekat. Cukup aja lah.
Oiya, kemudian gue pesan Chawan Mushi yang datang dalam mangkuk agak besar sementara harganya hanya 15 Ribu. Enak sih, tapi nggak terlalu gue rekomendasikan.
Seorang teman kemudian tiba dan langsung memesan makanannya. Kelaparan berat mungkin ya :D Dengan dalih makan bareng, dia memesan Fish Katsu with Egg Mayo yang sebenarnya adalah fish and chips versi fushion, dan Salmon Tataki. Kedua makanan kembali disajikan dalam waktu kurang dari 10 menit. Fish Katsu ini rasanya sederhana banget tapi menurut gue justru itu yang membuatnya enak. Rasa lada dan garam yang seimbang, digoreng dengan kematangan yang pas, dimakan disertai dengan egg mayo. Dua jempol.
Salmon tataki disajikan dalam piring panjang berisi 4 buah sushi dengan topping salmon mentah dicampur dengan bumbu seperti mustard tapi tidak keras dan sesuatu beraroma miso. Ini....enak banget juga. Tiga jempol.
Menurut informasi pelayan, sebenarnya menu unggulan resto ini adalah Omu Rice tapi sayangnya waktu itu kami sama sekali tidak berminat makan nasi, jadi terpaksa harus dilewatkan dulu.
Setelah yang lain tiba dan sudah puas ngobrol, kami memesan satu menu penutup untuk dimakan bersama. Bukan pelit, perutnya udah begah. Pilihan jatuh pada Choco Lava dengan green tea ice cream. Hhhmmm... Gini ya.... Choco lava ini adalah menu yang gampang banget ditemui di berbagai resto. Hampir semua resto di mall punya menu ini. But, I have to tell you this: choco lava di Mika uenak buanget! Ketauan bahwa mereka pakai merek coklat yang bagus jadi walaupun sederhana, rasanya nendang. Langsung lima jempol!
Malam itu menjadi malam yang menyenangkan, diisi dengan obrolan dari gak penting sampai penting banget, dan ketawa-ketawa gak jelas. Makanan yang enak dan memuaskan juga jadi penyumbang kebahagiaan hehehe...
Oiya, beberapa hari setelahnya gue kembali ke KoKas bareng teman-teman 3LA. Dan, gue menggiring mereka ke Mika juga hehehe... Kali ini gue pesan spagheti Pesto (you who know me well would say, "yeah right..." :p). Overall, spaghetinya al dente dan pestonya enak. Hanya saja, gue kurang suka kacang dalam pesto itu nggak digiling terlalu halus jadi masih brindilan. Tapi bukan masalah besar lah.
Waktu itu pesan minum yang namanya My Sister's Favorite yang merupakan campuran jus strawberry, syrup granadine dan sprite. Enak sih, tapi memang lidah gue nggak suka minuman manis ya.
Kesimpulannya, resto ini menyajikan makanan yang layak untuk dicicipi. Jangan berpikir enaknya makanan di sini seperti enaknya makanan yang disajikan dengan tema fine dining. This is more like comfort food yang membuat mood langsung gembira ketika suapan pertama masuk ke mulut. Gue pun suatu hari akan balik lagi, dengan mempersiapkan diri pas lapar, untuk coba Omu Rice. Barengan yuk!
Seperti biasa, gue tiba lebih dulu dan artinya gue berhak memilih tempat pertemuan. Ada satu resto yang memang sudah sejak sekitar sebulan lalu gue incar untuk didatangi; Mika.
Satu hal yang membuat gue tertarik untuk memasuki Mika adalah dekorasinya yang berkesan nyaman dengan sofa besar dan berbagai buku yang diletakkan di meja dan rak dinding sehingga membawa otak gue memikirkan enaknya menikmati waktu luang dengan duduk di situ minum kopi sambil pegang Kindle.
Sambil menunggu gue memutuskan untuk memesan Teriyaki Salad dan Iced Latte. Pelayan cukup ramah dan kembali ke meja gue untuk menghidangkan makanan dalam waktu kurang dari 10 menit. Ok, satu nilai bagus.
Waktunya mencicipi tumpukan lembaran daun rocket, lettuce dan lainnya (yang gue gak tau namanya :p) setelah disiram saus kental berwarna coklat. Oh la la... Rasa sausnya sangat segar, nggak bikin mblenger, dan merupakan perpaduan asin teriyaki dengan sedikit asam dan miso yang tipis. Dedaunan yang segar menimbulkan sensasi krenyes ketika dikunyah. Jempol. Iced lattenya, sesuai perkiraan, nggak terlalu pekat. Cukup aja lah.
Oiya, kemudian gue pesan Chawan Mushi yang datang dalam mangkuk agak besar sementara harganya hanya 15 Ribu. Enak sih, tapi nggak terlalu gue rekomendasikan.
Seorang teman kemudian tiba dan langsung memesan makanannya. Kelaparan berat mungkin ya :D Dengan dalih makan bareng, dia memesan Fish Katsu with Egg Mayo yang sebenarnya adalah fish and chips versi fushion, dan Salmon Tataki. Kedua makanan kembali disajikan dalam waktu kurang dari 10 menit. Fish Katsu ini rasanya sederhana banget tapi menurut gue justru itu yang membuatnya enak. Rasa lada dan garam yang seimbang, digoreng dengan kematangan yang pas, dimakan disertai dengan egg mayo. Dua jempol.
Salmon tataki disajikan dalam piring panjang berisi 4 buah sushi dengan topping salmon mentah dicampur dengan bumbu seperti mustard tapi tidak keras dan sesuatu beraroma miso. Ini....enak banget juga. Tiga jempol.
Menurut informasi pelayan, sebenarnya menu unggulan resto ini adalah Omu Rice tapi sayangnya waktu itu kami sama sekali tidak berminat makan nasi, jadi terpaksa harus dilewatkan dulu.
Setelah yang lain tiba dan sudah puas ngobrol, kami memesan satu menu penutup untuk dimakan bersama. Bukan pelit, perutnya udah begah. Pilihan jatuh pada Choco Lava dengan green tea ice cream. Hhhmmm... Gini ya.... Choco lava ini adalah menu yang gampang banget ditemui di berbagai resto. Hampir semua resto di mall punya menu ini. But, I have to tell you this: choco lava di Mika uenak buanget! Ketauan bahwa mereka pakai merek coklat yang bagus jadi walaupun sederhana, rasanya nendang. Langsung lima jempol!
Malam itu menjadi malam yang menyenangkan, diisi dengan obrolan dari gak penting sampai penting banget, dan ketawa-ketawa gak jelas. Makanan yang enak dan memuaskan juga jadi penyumbang kebahagiaan hehehe...
Oiya, beberapa hari setelahnya gue kembali ke KoKas bareng teman-teman 3LA. Dan, gue menggiring mereka ke Mika juga hehehe... Kali ini gue pesan spagheti Pesto (you who know me well would say, "yeah right..." :p). Overall, spaghetinya al dente dan pestonya enak. Hanya saja, gue kurang suka kacang dalam pesto itu nggak digiling terlalu halus jadi masih brindilan. Tapi bukan masalah besar lah.
Waktu itu pesan minum yang namanya My Sister's Favorite yang merupakan campuran jus strawberry, syrup granadine dan sprite. Enak sih, tapi memang lidah gue nggak suka minuman manis ya.
Kesimpulannya, resto ini menyajikan makanan yang layak untuk dicicipi. Jangan berpikir enaknya makanan di sini seperti enaknya makanan yang disajikan dengan tema fine dining. This is more like comfort food yang membuat mood langsung gembira ketika suapan pertama masuk ke mulut. Gue pun suatu hari akan balik lagi, dengan mempersiapkan diri pas lapar, untuk coba Omu Rice. Barengan yuk!
The Playground
By Dee
on |
0
komentar
So, last night we had another meeting for coming three events and this time I jumped ahead of the others and picked the place. It's a place I eyed a month ago and had read about a couple of times.
Frankly, I haven't had a striking dish lately. Don't take me wrong, I have had delicious meals but nothing beyond imagination that makes me wanna beg to come back. I'm searching for a dish that sorta gives me a punch. Perhaps, a five Michelin dish? :p
We went to The Playground at 4th floor of Plaza Indonesia extension which, according to some recommendations, serves good food. There were 12 of us so we really tasted the whole page of the menu. Except for the four-legged section.
I ordered Queyaki Chicken which is basically a grilled chicken breast served with bbq sauce and potato croquette. The serving size is okay, but it just tastes so-so. People around me ordered Fish n chips, which is very nice -yeah a restaurant of that calibre must at least serve good fish n chips, spagheti cooked in Japanese taste with lots of chili flake (this is also so-so), and a kind of spagheti bed topped with chicken katsu. Then, there's another portion of chicken breast with pesto. Being a big fan of pesto, I automatically tried it right from my friend's plate. The pesto was mixed with yoghurt which, in my opinion, leaves a sweet after taste. Not something I fancy. I prefer the classic pesto with lots and lots of basil leaves. Two of us ordered fried Dory fish wish some kind of tangy and super-hot-with-fresh-chili sauce, and another ordered chili dog.
Apparently, I would like to differ from many other people out there who have praised this restaurant. It is a good place with good vibe to hang out, but if you're looking for foods that'll make you feel that it's worth going through the nerve-wrecking and V-power-fuel consuming traffic just to eat there, it's not the place
Raw almond milk
By Dee
on |
0
komentar
Kayanya lagi marak banget ya si raw almond milk ini. Dan, seperti biasa, gue ikutan lah heboh pingin bikin. Bukan apa-apa, rasanya "susu" almond ini emang enak banget tapi harganya mahal. Tambah deh rasa pengen taunya untuk bikin. So simple.
Bahan:
500 gram almond
Air matang
Vanilla bean
Kain penyaring
Cara:
Rendam almond sampai semua tertutup air selama minimal 8 jam. Lebih lama lebih baik, maksimal 2 hari.
Ketika akan diolah, cuci almond agar bersih dari lendir. Pakai air matang ya
Lalu, blender almond sampai halus dibantu dengan air matang dengan ukuran menutupi tumpukan almond di dalam blender plus sekitar 150cc lagi.
Saring almond yang sudah halus dengan menggunakan kain penyaring khusus.
Tambahkan vanilla bean. Siap dikonsumsi
Rempeyek Kacang
By Dee
on |
0
komentar
Cuma ada satu orang di dunia ini yang bisa bikin gue mau ngerajangin daun jeruk, kacang tanah, dan menggoreng peyek seperti ini. I know it's worth all the sweat :D
Bahan :
Kacang tanah
Tepung beras + tepung tapioka ( 5 : 1)
Santan dari kelapa tua ( 1 btr/ 500 ml air)
Telur ( 1 btr / 1 kg tepung beras)
MSG
Air
Bumbu :
Bawang putih, kemiri, ketumbar, kencur, garam, daun jeruk purut ( semua bumbu dihaluskan kecuali daun jeruk dirajang halus)
Pembuatan adonan. Telur dikocok lepas. Semua bumbu diencerkan dgn santan . Masukan kocokan telur ke dlm santan. Siapkan campuran tepung (beras +tapioka) , tuangkan santan berbumbu, aduk rata. Tambahkan air hingga adonan cukup encer.
Masukkan kacang, aduk.
Penggorengan. Siapkan wajan berisi minyak goreng, panaskan. Ciduk adonan pakai irus dan tuangkan pelan2 di pinggiran wajan. Siram2 dgn minyak panas. Dengan sendirinya adonan akan melorot ke bawah dan masuk ke minyak panas. Ulangi seterusnya hingga adonan habis. Lempengan adonan digoreng hingga matang dan kering (berwarna coklat muda). Tiriskan , siap disajikan.
Bahan :
Kacang tanah
Tepung beras + tepung tapioka ( 5 : 1)
Santan dari kelapa tua ( 1 btr/ 500 ml air)
Telur ( 1 btr / 1 kg tepung beras)
MSG
Air
Bumbu :
Bawang putih, kemiri, ketumbar, kencur, garam, daun jeruk purut ( semua bumbu dihaluskan kecuali daun jeruk dirajang halus)
Cara :
Pembuatan adonan. Telur dikocok lepas. Semua bumbu diencerkan dgn santan . Masukan kocokan telur ke dlm santan. Siapkan campuran tepung (beras +tapioka) , tuangkan santan berbumbu, aduk rata. Tambahkan air hingga adonan cukup encer.
Masukkan kacang, aduk.
Penggorengan. Siapkan wajan berisi minyak goreng, panaskan. Ciduk adonan pakai irus dan tuangkan pelan2 di pinggiran wajan. Siram2 dgn minyak panas. Dengan sendirinya adonan akan melorot ke bawah dan masuk ke minyak panas. Ulangi seterusnya hingga adonan habis. Lempengan adonan digoreng hingga matang dan kering (berwarna coklat muda). Tiriskan , siap disajikan.
Lidah saus jamur
By Dee
on |
0
komentar
Ini fotonya emang jelek, tapi rasanya enak banget suwer tekewer-kewer...
Bahan:
1 buah lidah sapi
1 ltr air
jamur merang atau champignon sesukanya
1 bawang bombay kecil, iris tipis
1 siung bawang putih, memarkan, cincang
200 ml susu putih cair
1sdm kecap manis
2 sdm lea & perrins (worcestershire) sauce
1 sdm terigu, larutkan dalam air sedikit
2 bay leaves atau daun salam
2 sdm unsalted butter,
garam dan lada
1. Bersihkan lidah. Rebus dalam air sampai empuk, kira-kira 1.5 jam. Atau pake panci presto selama 30 menit. Bersihkan bagian luar kulit, cuci bersih
2. Iris-iris lidah, jangan terlalu tebal. Iris jamur, bawang bombay, masukkan ke lidah, tambahkan daun salam, kecap, saus worchestershire, dan butter. Panaskan dan biarkan di atas api selama 10 menit.
3. Tambahkan susu, aduk sampai rata. Biarkan sampai mendidih, kira-kira 5 menit lagi. Tuangkan terigu yang sudah dicairkan tadi dan aduk supaya kental. Tunggu sampai meletup dan mengental. Tambahkan lada dan garam sesuai selera.
Bahan:
1 buah lidah sapi
1 ltr air
jamur merang atau champignon sesukanya
1 bawang bombay kecil, iris tipis
1 siung bawang putih, memarkan, cincang
200 ml susu putih cair
1sdm kecap manis
2 sdm lea & perrins (worcestershire) sauce
1 sdm terigu, larutkan dalam air sedikit
2 bay leaves atau daun salam
2 sdm unsalted butter,
garam dan lada
1. Bersihkan lidah. Rebus dalam air sampai empuk, kira-kira 1.5 jam. Atau pake panci presto selama 30 menit. Bersihkan bagian luar kulit, cuci bersih
2. Iris-iris lidah, jangan terlalu tebal. Iris jamur, bawang bombay, masukkan ke lidah, tambahkan daun salam, kecap, saus worchestershire, dan butter. Panaskan dan biarkan di atas api selama 10 menit.
3. Tambahkan susu, aduk sampai rata. Biarkan sampai mendidih, kira-kira 5 menit lagi. Tuangkan terigu yang sudah dicairkan tadi dan aduk supaya kental. Tunggu sampai meletup dan mengental. Tambahkan lada dan garam sesuai selera.
Rendang
By Dee
on |
0
komentar
Hampir 7 bulan rasanya gue gak makan rendang karena satu dan lain alasan. Nah, sejak puasa baru dimulai kok sering banget lihat foto-foto rendang bertebaran. Sepertinya ada kecenderungan orang-orang yang mau praktis saat sahur atau berbuka mencari orang-orang yang berjualan rendang supaya bisa membeli dan menyimpannya di rumah.
Lihat satu gambar masih cuek, lihat dua, tiga, empat masih cuek. Lihat lima sampai sepuluh ternyata bisa membuat air liur membasahi mulut. Gue mau rendang! Tapi bukan daging rendang yang gue mau, melainkan baby potato yang dimasak dalam kuah rendang. Nyam...
Gimana bumbu-bumbunya? Di internet sih bertebaran resep rendang tapi akan lebih yakin kalau tanya ke orang yang memang sering masak rendang. Lebih bagus lagi kalau dari daerah asalnya makanan ini. Ting! Langsung deh ketik-ketik di hp dan kirim ke Meuthia, salah satu teman yang memang tinggal dan berasal dari Padang. Dalam waktu singkat sebuah email dilayangkan. Isinya sudah pasti bumbu dan cara masak rendang yang sudah teruji :D
Ini resepnya, langsung salin rekat dari email Meuthia:
Bahan2:
Daging padat dan/atau shenkel 2kg
Santan kental dr kelapa tua 2-3kg
Cabe giling halus 300gr (ini sih gue tambahin banyak banget, tapi tetap kurang pedas)
Haluskan:
Bawang putih 8-10 bh
Bawang merah 15-18 bh
Jahe 2xjempol Kunyit 1/2jempol
Memarkan lengkuas 2xjempol
Batang serai 2bh.
Tambahan: daun kunyit 2bh, daun salam 4bh, daun jeruk 4bh, asam kandis 3-4bh
Masak santan setelah dicampur dgn semua bahan kecuali daging. Aduk teratur. Karena santan kental, probabilita pecah santan kecil sih ya. Setelah panas/mendidih masukkan daging. Aduk terus hingga daging empuk dan hingga tingkat kecoklatan yg diinginkan.
Untuk menghindari daging hancur, angkat dr kuali ketika sudah empuk. Campur dan pastikan daging panas merata di tingkat kecoklatan bumbu yang diinginkan.
Berdasar saran Meuthia juga, karena gue sukanya rendang yang kering banget karena bumbu rendang yang kering kalau dicampur nasi rasanya akan aduhai banget, ditambahkan segenggam kelapa parut yang sudah disangrai agak kering. Dan tentu saja, baby potato yang jadi sasaran ngidam kali ini ditambahkan dalam jumlah banyak.
Setelah mengaduk-aduk selama 4 jam, terciptalah rendang yang bikin ngiler. Gimana gak ngiler, selesai masak jam 1 siang, buka puasa masih 5 jam lagi. Dan baby potato itu sudah memanggil-manggil minta dicomot.
Naaahhhh.... Yang bikin sebel adalah: lupa foto hasilnya waktu sudah disajikan di piring. Asli udah kalap menjelang buka puasa jadi sibuk beresin rendang dan risol kampung pakai sambal kacang. Lupa foto :(( Cuma sempat foto waktu lagi aduk-aduk di atas kompor
Ini gambar waktu rendang baru dua jam di atas kompor. Dua jam kemudian jadinya kering dan coklat banget, tapi belum jadi hitam. Rasanya? Hadeuh... Enak banget! Resepnya Meuthia emang okeh lah :D
Lihat satu gambar masih cuek, lihat dua, tiga, empat masih cuek. Lihat lima sampai sepuluh ternyata bisa membuat air liur membasahi mulut. Gue mau rendang! Tapi bukan daging rendang yang gue mau, melainkan baby potato yang dimasak dalam kuah rendang. Nyam...
Gimana bumbu-bumbunya? Di internet sih bertebaran resep rendang tapi akan lebih yakin kalau tanya ke orang yang memang sering masak rendang. Lebih bagus lagi kalau dari daerah asalnya makanan ini. Ting! Langsung deh ketik-ketik di hp dan kirim ke Meuthia, salah satu teman yang memang tinggal dan berasal dari Padang. Dalam waktu singkat sebuah email dilayangkan. Isinya sudah pasti bumbu dan cara masak rendang yang sudah teruji :D
Ini resepnya, langsung salin rekat dari email Meuthia:
Bahan2:
Daging padat dan/atau shenkel 2kg
Santan kental dr kelapa tua 2-3kg
Cabe giling halus 300gr (ini sih gue tambahin banyak banget, tapi tetap kurang pedas)
Haluskan:
Bawang putih 8-10 bh
Bawang merah 15-18 bh
Jahe 2xjempol Kunyit 1/2jempol
Memarkan lengkuas 2xjempol
Batang serai 2bh.
Tambahan: daun kunyit 2bh, daun salam 4bh, daun jeruk 4bh, asam kandis 3-4bh
Masak santan setelah dicampur dgn semua bahan kecuali daging. Aduk teratur. Karena santan kental, probabilita pecah santan kecil sih ya. Setelah panas/mendidih masukkan daging. Aduk terus hingga daging empuk dan hingga tingkat kecoklatan yg diinginkan.
Untuk menghindari daging hancur, angkat dr kuali ketika sudah empuk. Campur dan pastikan daging panas merata di tingkat kecoklatan bumbu yang diinginkan.
Berdasar saran Meuthia juga, karena gue sukanya rendang yang kering banget karena bumbu rendang yang kering kalau dicampur nasi rasanya akan aduhai banget, ditambahkan segenggam kelapa parut yang sudah disangrai agak kering. Dan tentu saja, baby potato yang jadi sasaran ngidam kali ini ditambahkan dalam jumlah banyak.
Setelah mengaduk-aduk selama 4 jam, terciptalah rendang yang bikin ngiler. Gimana gak ngiler, selesai masak jam 1 siang, buka puasa masih 5 jam lagi. Dan baby potato itu sudah memanggil-manggil minta dicomot.
Naaahhhh.... Yang bikin sebel adalah: lupa foto hasilnya waktu sudah disajikan di piring. Asli udah kalap menjelang buka puasa jadi sibuk beresin rendang dan risol kampung pakai sambal kacang. Lupa foto :(( Cuma sempat foto waktu lagi aduk-aduk di atas kompor
Ini gambar waktu rendang baru dua jam di atas kompor. Dua jam kemudian jadinya kering dan coklat banget, tapi belum jadi hitam. Rasanya? Hadeuh... Enak banget! Resepnya Meuthia emang okeh lah :D
............
By Dee
on |
0
komentar
Ada saat seperti sekarang dimana aku hanya ingin menjadikan diriku sekecil debu
Ada saat seperti sekarang dimana aku berharap aku bisa hilang di sudut kamar
Ada saat seperti sekarang dimana aku berharap mematikan lampu dapat mematikan laraku dan bodohku
Ada saat seperti sekarang dimana aku merasa sebagai seonggok daging tak berkemampuan apapun
Selalu ada saat dimana aku memohon kepada Tuhan untuk dapat menjadi seseorang yang bisa mengetahui semua keinginanmu
Ada saat seperti sekarang dimana aku berharap aku bisa hilang di sudut kamar
Ada saat seperti sekarang dimana aku berharap mematikan lampu dapat mematikan laraku dan bodohku
Ada saat seperti sekarang dimana aku merasa sebagai seonggok daging tak berkemampuan apapun
Selalu ada saat dimana aku memohon kepada Tuhan untuk dapat menjadi seseorang yang bisa mengetahui semua keinginanmu
Pedasnya sambalku
By Dee
on |
0
komentar
Semua orang sudah tau bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dengan berbagai jenis rempah-rempah. Portugis dan Belanda aja dulu menjajah negara kita karena mau menguasai rempah-rempah itu kan?
Di tangan banyak orang kreatif rempah-rempah itu terolah menjadi berbagai makanan super lezat dan kaya unsur. Gak mungkin lah ada orang Indonesia yang nggak bangga dengan kekayaan kuliner yang sebegitu besar dari Sabang sampai Merauke.
Ada satu ciri khas yang gue temukan hampir sama di semua wilayah Indonesia yang pernah gue datangi. Apapun makanannya, pasti ada pelengkapnya. Sambal... Iya, sambal. Namanya boleh berbeda-beda di tiap daerah, tapi tetap aja bentuknya sambal. Dan gue beruntung sekali dibesarkan sebagai orang yang bisa melahap makanan sepedas apapun tanpa harus khawatir ada masalah di perut. Asal tau diri aja sih kapan harus berhenti.
Beberapa tahun lalu ketika gue ada di wilayah Mamuju (sumpah gue gak tau lagi sekarang masuk di propinsi mana kabupaten ini, yang pasti di Sulawesi, pokoknya gue ingetnya jumlah propinsi 27 aja sama kaya waktu SD :p) untuk urusan pekerjaan dan mampir di sebuah warung makan. Di mejanya tersedia sepiring kecil cabe rawit kecil-kecil. Supir yang mengantar kami mengatakan, "Mbak, makin ke timur Indonesia, makin pedas cabenya. Mbak coba cabe ini dan bandingkan dengan cabai di Jawa sana". Dengan tingkat PD yang 2 juta tingkat, gw ambil satu cabe rawit sepanjang 1cm itu dan memakannya beserta sesendok nasi. Yang terjadi detik berikutnya adalah gue menenggak segelas penuh air putih. Puedes!! Sejak itu gue berusaha membuktikan teori ini, dan ternyata makin sering gue temui kebenarannya. Cabe di wilayah Timur Indonesia memang nendang banget rasanya.
Bicara tentang aneka ragam sambal rasanya gue pengen ngobrolin beberapa macam sambal yang jadi favorit gue dan harus selalu ada menyertai makanan yang gue santap. Apa aja ya?
1. Sambal terasi
Rasanya ini sambal paling standar yang hampir pasti pernah mampir di sebagian besar dapur rumah tangga di Indonesia. Gue gak gitu yakin sih dengan saudara-saudara kita di Papua, mereka makan sambal terasi nggak. Kecuali kalau mereka makan di warung yang penjualnya pendatang, pasti sudah kenal sambal ini.
Bahan dari sambal terasi ya cuma cabai, bawang merah, bawang putih, garam, sedikit gula kalau mau, dan sang bintang... Terasi.
Ada berbagai versi yang memenangkan terasi dari Cirebon, Surabaya, Lombok dan sebagainya. Buat gue mah gak penting terasi asalnya dari mana, yang penting wuenak.
2. Sambal Bawang putih
Hhhmmm... sejujurnya lidah gue langsung basah oleh liur membayangkan ini. Di rumah gue, sejak kecil, ini sambal darurat kalo nyokap lagi malas masak. Tinggal tumis sedikit cabai, ulek bersama banyak bawang putih dan garam. Sajikan bersama nasi panas dan telor dadar. Saudara-saudara sekalian, nikmat mana lagi yang mau kita dustakan.
3. Sambal Matah
(Maaf fotonya ngambil dari internet soalnya nggak ada arsip)
Ketika mulai beranjak dewasa dan menjelajah makanan negri ini, berkenalanlah gue dengan si cantik yang bernama sambal matah ini. Matah artinya sih sebenarnya mentah. Biasanya nemu sambal ini kalau diajak makan di restoran masakan Bali. Belakangan kalau ke Bali bela-belain ke Bebek Bengil bukan karena kepengen bebeknya, tapi karena sambal matah yang menemani bebek itu enak banget. Gue bisa minta tambah satu piring sambal matah aja dan habis tuntas gue makan tanpa harus nambah nasi atau lauk lagi.
Irisan bawang merah mentah, cabe, sereh dan tetesan air jeruk nipis ini hanya butuh guyuran minyak kelapa panas untuk bisa mendapatkan rasa maksimal. Kunci kenikmatannya memang di minyak kelapa asli. Sudah beberapa kali gue makan sambal matah yang memakai minyak goreng biasa, rasanya kurang oke.
4. Sambal Mangga
Mangga muda aja udah bikin ngences sampai tumpah, apalagi ditambah sambal yang pedas. Coba bayangin ya, duduk di bawah pohon rindang, pegang Kindle, baca buku favorit, sambil nyocolin gorengan apapun ke sambal mangga. Nyaaaammm.... *elap ences*
Oiya, setelah kepedasan minumnya es pencit alias es mangga muda asam manis. Wooohhhooo..... adem deh
5. Sambal Dabu-Dabu
Gak aci deh ngomongin makanan pedas dan sambal kalo nggak ngomongin makanan Menado. Di Jakarta jagoan buat makanan Menado pasti Beautika dong ya. Gak ada yang ngalahin lah buat gue. Tapi pedasnya makanan di Beautika masih gak ada apa-apanya dibanding di tempat aslinya di Menado sana. Ampuuuunnn pedesnya sampe kulit kepala itu rasanya gatal semua biarpun baru makan sesuap. Jadi untuk yang perutnya nggak kuat banget mendingan makannya cukup sup branebon aja lah :p Nah makanan Menado nggak akan lengkap tanpa sambal dabu-dabu. Potongan tomat hijau segar, bawang merah, cabe dan irisan jeruk nipis. Ambil seujung sendok, taruh di atas sesendok nasi, tambahkan secuil lauk, suapkan ke mulut... Enak kan? Pasti lah enak!
6. Sambal colo-colo
Nah baru-baru ini gue pergi kerja di Kendari. Malam pertama gak bisa makan blas karena stres *curcol*. Baru di hari ke dua setelah lega gue bisa makan. Langsung diajak makan ikan bakar di suatu tempat bernama Alamo yang konon terkenal karena makanannya enak. Sampai di sana gue males banget rasanya makan ikan. Akhirnya 5 teman yang lain pesan ikan, gue pesan cumi dan udang. Sebelum makanan dihidangkan, pelayan mengantarkan beberapa porsi racikan sambal ke meja.
Masing-masing orang juga diberikan piring kecil untuk meracik sambal ini. Urutannya gini, ambil tomat merah dan kuning di sudut kiri dengan jumlah yang kita mau, tambahkan bawang merah mentah kalo mau (gue nggak), tuangi sambal kacang di sudut kanan, aduk. Kemudian ambil cabe rawit dan potong-potong memakai sendok sambil agak digerus supaya pedasnya merata (gue pakai 4 bibir udah jeding kepedesan). Bagian terakhir adalah memeras beberapa buah jeruk nipis dan diaduk lagi. Oiya, Kendari terkenal dengan bawang gorengnya yang enak banget (Btw, sambil nunggu gue nemu ada setoples kecil bawang goreng di meja yang memang dijadikan pelengkap. Gue cemilin aja itu bawang goreng. Habis bis bis licin satu toples penuh :)) :p ) terus gue campur sedikit bawang goreng untuk menggantikan bawang mentah yang gue gak suka. Setelah itu gue cicip untuk tau perlu tambah apa. Perfecto! That dinner was awesome dengan tambahan sambal racikan sendiri ini.
7. Sambal Roa
Gue agak ragu sebenarnya ini masuk kategori sambal beneran atau nggak mengingat dominasi ikan roa itu sendiri. Buat gue sambal roa ya udah jadi lauk tersendiri bukan kondimen seperti sambal lainnya. Coba aja deh sambal roa dimakan bareng nasi panas. Udah deh itu mah... Sebakul juga abis
8. Sambal Peda
Ini juga serupa dengan sambal roa. Sambal dari cabai hijau, terasi, bawang putih dan banyak ikan peda yang diulek halus. Campur nasi panas, telor ceplok. Maaaaaaakkkkkkk... Ada pak lurah lewat juga cuekin aja dah.
Itu memang cuma sekelumit dari berbagai jenis sambal yang ada di ranah kuliner Indonesia. Yakin banget masih banyak jenis sambal yang harus gue coba dan jelajahi.
Nyok berburu sambal...
Di tangan banyak orang kreatif rempah-rempah itu terolah menjadi berbagai makanan super lezat dan kaya unsur. Gak mungkin lah ada orang Indonesia yang nggak bangga dengan kekayaan kuliner yang sebegitu besar dari Sabang sampai Merauke.
Ada satu ciri khas yang gue temukan hampir sama di semua wilayah Indonesia yang pernah gue datangi. Apapun makanannya, pasti ada pelengkapnya. Sambal... Iya, sambal. Namanya boleh berbeda-beda di tiap daerah, tapi tetap aja bentuknya sambal. Dan gue beruntung sekali dibesarkan sebagai orang yang bisa melahap makanan sepedas apapun tanpa harus khawatir ada masalah di perut. Asal tau diri aja sih kapan harus berhenti.
Beberapa tahun lalu ketika gue ada di wilayah Mamuju (sumpah gue gak tau lagi sekarang masuk di propinsi mana kabupaten ini, yang pasti di Sulawesi, pokoknya gue ingetnya jumlah propinsi 27 aja sama kaya waktu SD :p) untuk urusan pekerjaan dan mampir di sebuah warung makan. Di mejanya tersedia sepiring kecil cabe rawit kecil-kecil. Supir yang mengantar kami mengatakan, "Mbak, makin ke timur Indonesia, makin pedas cabenya. Mbak coba cabe ini dan bandingkan dengan cabai di Jawa sana". Dengan tingkat PD yang 2 juta tingkat, gw ambil satu cabe rawit sepanjang 1cm itu dan memakannya beserta sesendok nasi. Yang terjadi detik berikutnya adalah gue menenggak segelas penuh air putih. Puedes!! Sejak itu gue berusaha membuktikan teori ini, dan ternyata makin sering gue temui kebenarannya. Cabe di wilayah Timur Indonesia memang nendang banget rasanya.
Bicara tentang aneka ragam sambal rasanya gue pengen ngobrolin beberapa macam sambal yang jadi favorit gue dan harus selalu ada menyertai makanan yang gue santap. Apa aja ya?
1. Sambal terasi
Rasanya ini sambal paling standar yang hampir pasti pernah mampir di sebagian besar dapur rumah tangga di Indonesia. Gue gak gitu yakin sih dengan saudara-saudara kita di Papua, mereka makan sambal terasi nggak. Kecuali kalau mereka makan di warung yang penjualnya pendatang, pasti sudah kenal sambal ini.
Bahan dari sambal terasi ya cuma cabai, bawang merah, bawang putih, garam, sedikit gula kalau mau, dan sang bintang... Terasi.
Ada berbagai versi yang memenangkan terasi dari Cirebon, Surabaya, Lombok dan sebagainya. Buat gue mah gak penting terasi asalnya dari mana, yang penting wuenak.
2. Sambal Bawang putih
Hhhmmm... sejujurnya lidah gue langsung basah oleh liur membayangkan ini. Di rumah gue, sejak kecil, ini sambal darurat kalo nyokap lagi malas masak. Tinggal tumis sedikit cabai, ulek bersama banyak bawang putih dan garam. Sajikan bersama nasi panas dan telor dadar. Saudara-saudara sekalian, nikmat mana lagi yang mau kita dustakan.
3. Sambal Matah
(Maaf fotonya ngambil dari internet soalnya nggak ada arsip)
Ketika mulai beranjak dewasa dan menjelajah makanan negri ini, berkenalanlah gue dengan si cantik yang bernama sambal matah ini. Matah artinya sih sebenarnya mentah. Biasanya nemu sambal ini kalau diajak makan di restoran masakan Bali. Belakangan kalau ke Bali bela-belain ke Bebek Bengil bukan karena kepengen bebeknya, tapi karena sambal matah yang menemani bebek itu enak banget. Gue bisa minta tambah satu piring sambal matah aja dan habis tuntas gue makan tanpa harus nambah nasi atau lauk lagi.
Irisan bawang merah mentah, cabe, sereh dan tetesan air jeruk nipis ini hanya butuh guyuran minyak kelapa panas untuk bisa mendapatkan rasa maksimal. Kunci kenikmatannya memang di minyak kelapa asli. Sudah beberapa kali gue makan sambal matah yang memakai minyak goreng biasa, rasanya kurang oke.
4. Sambal Mangga
Mangga muda aja udah bikin ngences sampai tumpah, apalagi ditambah sambal yang pedas. Coba bayangin ya, duduk di bawah pohon rindang, pegang Kindle, baca buku favorit, sambil nyocolin gorengan apapun ke sambal mangga. Nyaaaammm.... *elap ences*
Oiya, setelah kepedasan minumnya es pencit alias es mangga muda asam manis. Wooohhhooo..... adem deh
5. Sambal Dabu-Dabu
Gak aci deh ngomongin makanan pedas dan sambal kalo nggak ngomongin makanan Menado. Di Jakarta jagoan buat makanan Menado pasti Beautika dong ya. Gak ada yang ngalahin lah buat gue. Tapi pedasnya makanan di Beautika masih gak ada apa-apanya dibanding di tempat aslinya di Menado sana. Ampuuuunnn pedesnya sampe kulit kepala itu rasanya gatal semua biarpun baru makan sesuap. Jadi untuk yang perutnya nggak kuat banget mendingan makannya cukup sup branebon aja lah :p Nah makanan Menado nggak akan lengkap tanpa sambal dabu-dabu. Potongan tomat hijau segar, bawang merah, cabe dan irisan jeruk nipis. Ambil seujung sendok, taruh di atas sesendok nasi, tambahkan secuil lauk, suapkan ke mulut... Enak kan? Pasti lah enak!
6. Sambal colo-colo
Nah baru-baru ini gue pergi kerja di Kendari. Malam pertama gak bisa makan blas karena stres *curcol*. Baru di hari ke dua setelah lega gue bisa makan. Langsung diajak makan ikan bakar di suatu tempat bernama Alamo yang konon terkenal karena makanannya enak. Sampai di sana gue males banget rasanya makan ikan. Akhirnya 5 teman yang lain pesan ikan, gue pesan cumi dan udang. Sebelum makanan dihidangkan, pelayan mengantarkan beberapa porsi racikan sambal ke meja.
Masing-masing orang juga diberikan piring kecil untuk meracik sambal ini. Urutannya gini, ambil tomat merah dan kuning di sudut kiri dengan jumlah yang kita mau, tambahkan bawang merah mentah kalo mau (gue nggak), tuangi sambal kacang di sudut kanan, aduk. Kemudian ambil cabe rawit dan potong-potong memakai sendok sambil agak digerus supaya pedasnya merata (gue pakai 4 bibir udah jeding kepedesan). Bagian terakhir adalah memeras beberapa buah jeruk nipis dan diaduk lagi. Oiya, Kendari terkenal dengan bawang gorengnya yang enak banget (Btw, sambil nunggu gue nemu ada setoples kecil bawang goreng di meja yang memang dijadikan pelengkap. Gue cemilin aja itu bawang goreng. Habis bis bis licin satu toples penuh :)) :p ) terus gue campur sedikit bawang goreng untuk menggantikan bawang mentah yang gue gak suka. Setelah itu gue cicip untuk tau perlu tambah apa. Perfecto! That dinner was awesome dengan tambahan sambal racikan sendiri ini.
7. Sambal Roa
Gue agak ragu sebenarnya ini masuk kategori sambal beneran atau nggak mengingat dominasi ikan roa itu sendiri. Buat gue sambal roa ya udah jadi lauk tersendiri bukan kondimen seperti sambal lainnya. Coba aja deh sambal roa dimakan bareng nasi panas. Udah deh itu mah... Sebakul juga abis
8. Sambal Peda
Ini juga serupa dengan sambal roa. Sambal dari cabai hijau, terasi, bawang putih dan banyak ikan peda yang diulek halus. Campur nasi panas, telor ceplok. Maaaaaaakkkkkkk... Ada pak lurah lewat juga cuekin aja dah.
Itu memang cuma sekelumit dari berbagai jenis sambal yang ada di ranah kuliner Indonesia. Yakin banget masih banyak jenis sambal yang harus gue coba dan jelajahi.
Nyok berburu sambal...
Losts..
By Dee
on |
0
komentar
Sebagian dari kita beruntung pernah dan masih terus menerima limpahan
kasih sayang dari banyak orang. Orang tua, kakak, adik, kakek, nenek,
om, tante, saudara, tetangga, teman... Tata kehidupan di negara kita
yang masih menganut pola kekerabatan menempatkan kita pada lingkar
dukungan sosial yang sangat kuat dari orang-orang tersebut. Terkadang
ada orang-orang yang memperlakukan kita dengan sangat baik sejak kita
kecil, layaknya anak mereka sendiri. Memanjakan, memberikan apa yang
kita mau untuk menunjukkan sayang mereka. Setiap dari kita pasti
memiliki orang di luar keluarga inti yang meninggalkan kesan begitu
mendalam dikarenakan kebaikan semacam ini.
Terlahir sebagai anak pertama dari anak pertama (-nya mbah gue) dan anak perempuan dari satu-satunya anak perempuan(-nya eyang gue) yang merantau ke Jakarta membuat gue mendapat limpahan perhatian yang kadang terasa berlebih semasa kecil. Subhanallah, tidak pernah sekalipun gue merasakan yang namanya kesusahan karena selalu saja banyak tangan-tangan baik yang bersedia mengangkat gue ketika gue lemah. Segala bentuk perhatian pun dicurahkan sebagai bentuk dari dukungan dari apa yang kita kenal sebagai keluarga besar.
Berangkat dari kesadaran yang muncul ketika bokap mulai sakit, gue bertekad untuk mengembalikan budi baik yang telah ditanamkan banyak orang itu kepada gue. Sebisa mungkin sejauh kemampuan gue mencoba mengakrabi lagi hubungan keluarga besar yang sempat renggang hanya karena gue merasa sudah besar, padahal masih mencari jati diri sebagai ABG saat itu, dan mulai jarang mau diajak berkunjung ke rumah saudara.
Gue tau persis siapa saja bude-bude dan pakde-pakde, tante-tante dan om-om yang memainkan peran besar dalam memberikan gue kebahagiaan masa kecil. Kemudian datang saatnya dimana gue harus mengembalikan itu semua. Ketika usia mereka tergerus senja, gue merasa harus lebih sering mendatangi mereka sekedar duduk-duduk ngobrol sambil menikmati secangkir teh mentertawakan hal-hal di masa lalu atau mendengarkan cerita tentang perilaku bokap atau nyokap.
Sayang, gue tidak bisa melakukannya lama. Mendadak dalam dua bulan gue harus kehilangan dua pakde dan satu bude yang sedari kecil mewarnai hidup gue. Sayang, bahkan sampai detik-detik terakhir gue tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Sayang, bahkan ketika di tengah kepayahannya pakde gue meminta sesuatu, gue cuma bisa menjanjikan membawakannya tapi ternyata tak berhasil. Entah sesal atau kesal yang gue rasa. Atau gabungan keduanya. Mungkin juga merasa tak berdaya karena tidak bisa memaksakan apa yang mereka pinta. Mungkin saja rasa ingin mengamuk karena untuk satu hal kecil saja gue tidak bisa memberikannya padahal mereka begitu rela memberikan apa yang gue minta ketika gue kecil.
Tuhan tau betapa gue ingin menjawab permintaan ketiga orang yang gue hormati ini. Tapi Tuhan juga tau mungkin belum saatnya gue memberikan apa yang mereka minta.
Selamat jalan ya pakde-pakde, dan bude. Semoga tenang di sana. Salam sama bapak. Bilangin sekali-sekali main kek ke rumah.
Terlahir sebagai anak pertama dari anak pertama (-nya mbah gue) dan anak perempuan dari satu-satunya anak perempuan(-nya eyang gue) yang merantau ke Jakarta membuat gue mendapat limpahan perhatian yang kadang terasa berlebih semasa kecil. Subhanallah, tidak pernah sekalipun gue merasakan yang namanya kesusahan karena selalu saja banyak tangan-tangan baik yang bersedia mengangkat gue ketika gue lemah. Segala bentuk perhatian pun dicurahkan sebagai bentuk dari dukungan dari apa yang kita kenal sebagai keluarga besar.
Berangkat dari kesadaran yang muncul ketika bokap mulai sakit, gue bertekad untuk mengembalikan budi baik yang telah ditanamkan banyak orang itu kepada gue. Sebisa mungkin sejauh kemampuan gue mencoba mengakrabi lagi hubungan keluarga besar yang sempat renggang hanya karena gue merasa sudah besar, padahal masih mencari jati diri sebagai ABG saat itu, dan mulai jarang mau diajak berkunjung ke rumah saudara.
Gue tau persis siapa saja bude-bude dan pakde-pakde, tante-tante dan om-om yang memainkan peran besar dalam memberikan gue kebahagiaan masa kecil. Kemudian datang saatnya dimana gue harus mengembalikan itu semua. Ketika usia mereka tergerus senja, gue merasa harus lebih sering mendatangi mereka sekedar duduk-duduk ngobrol sambil menikmati secangkir teh mentertawakan hal-hal di masa lalu atau mendengarkan cerita tentang perilaku bokap atau nyokap.
Sayang, gue tidak bisa melakukannya lama. Mendadak dalam dua bulan gue harus kehilangan dua pakde dan satu bude yang sedari kecil mewarnai hidup gue. Sayang, bahkan sampai detik-detik terakhir gue tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Sayang, bahkan ketika di tengah kepayahannya pakde gue meminta sesuatu, gue cuma bisa menjanjikan membawakannya tapi ternyata tak berhasil. Entah sesal atau kesal yang gue rasa. Atau gabungan keduanya. Mungkin juga merasa tak berdaya karena tidak bisa memaksakan apa yang mereka pinta. Mungkin saja rasa ingin mengamuk karena untuk satu hal kecil saja gue tidak bisa memberikannya padahal mereka begitu rela memberikan apa yang gue minta ketika gue kecil.
Tuhan tau betapa gue ingin menjawab permintaan ketiga orang yang gue hormati ini. Tapi Tuhan juga tau mungkin belum saatnya gue memberikan apa yang mereka minta.
Selamat jalan ya pakde-pakde, dan bude. Semoga tenang di sana. Salam sama bapak. Bilangin sekali-sekali main kek ke rumah.
Tahu Petis Semarang Yudhistira
By Dee
on |
0
komentar
This is a lazy Sunday in deed and neither me or mom intended to cook any meals. Off we all went out to lunch and groceries shopping at Grand Lucky.
Dalam perjalanan menuju wilayah SCBD tiba-tiba gue teringat akan melewati wilayah Santa dimana terdapat penjual kudapan yang sudah lama nggak gue kunjungi. Sebenarnya "kisah cinta" gue dengan kudapan ini cukup aneh.
Nyokap gue berasal dari Semarang namun sayangnya waktu kecil gue jarang dibawa mudik ke sana karena eyang dari pihak nyokap meninggal waktu gue masih SD dan kebanyakan pakde bude om tante tinggal di Jakarta. Kunjungan terakhir gue ke Semarang setahun sebelum eyang perempuan meninggal. Gue masih ingat banget pada suatu malam om gue pulang ke rumah eyang dengan membawa sebungkus besar makanan. Begitu dibuka gue melihat tumpukan tahu goreng yang diisi sesuatu berwarna hitam. Saat itu baru gue ketahui bahwa ini yang disebut sebagai tahu petis. Semua orang dewasa yang hadir saat itu berusaha membujuk gue untuk mencicipinya. Dan gue sukses muntah setelah gigitan pertama. Amis!
Dalam perjalanan menuju wilayah SCBD tiba-tiba gue teringat akan melewati wilayah Santa dimana terdapat penjual kudapan yang sudah lama nggak gue kunjungi. Sebenarnya "kisah cinta" gue dengan kudapan ini cukup aneh.
Nyokap gue berasal dari Semarang namun sayangnya waktu kecil gue jarang dibawa mudik ke sana karena eyang dari pihak nyokap meninggal waktu gue masih SD dan kebanyakan pakde bude om tante tinggal di Jakarta. Kunjungan terakhir gue ke Semarang setahun sebelum eyang perempuan meninggal. Gue masih ingat banget pada suatu malam om gue pulang ke rumah eyang dengan membawa sebungkus besar makanan. Begitu dibuka gue melihat tumpukan tahu goreng yang diisi sesuatu berwarna hitam. Saat itu baru gue ketahui bahwa ini yang disebut sebagai tahu petis. Semua orang dewasa yang hadir saat itu berusaha membujuk gue untuk mencicipinya. Dan gue sukses muntah setelah gigitan pertama. Amis!
Ketika mulai bekerja di sebuah serikat pekerja negara kakek Sam, seringkali gue diharuskan melakukan perjalan ke Semarang. Suatu ketika, beberapa sejawat dari kantor membawa gue jalan kaki ke suatu tempat dan ternyata mereka membeli tahu petis. Awalnya tentu gue menolak mencoba karena trauma dengan pengalaman muntah, tapi bujuk rayu kelompok 4L (laper lagi laper lagi) memang dahsyat. Akhirnya dengan berat hati gue mengambil sebuah tahu dengan perjanjian kalau gue gak suka, harus ada yang bersedia menghabiskan sisanya. Ajaib, ketika gue menggigitnya, gue suka rasanya. Gigitan kedua makin suka. Gigitan ke tiga, gue secara resmi menganggap tahu petis Semarang sebagai salah satu kudapan wajib beli ketika bertandang ke sana.
Sayangnya pekerjaan gue di kantor tersebut harus berhenti dan pindah ke kantor lain yang wilayah kerjanya tidak termasuk Semarang. Bertahun-tahun gue harus menahan keinginan mendalam untuk makan tahu petis lagi. Sudah coba berbagai macam tahu petis di beberapa kota atau propinsi tapi nggak cocok. Tahu petis Semarang memang beda deh.
Suatu hari perjalanan hidup membawa seorang sahabat untuk memperkenalkan gue dengan sahabatnya ketika kuliah. Berawal dari seringnya ngopi-ngopi dengan orang ini dan istrinya, yang ternyata orang Semarang, tercetuslah kata bahwa gue merindukan tahu petis. Pernah tau pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba? Ini persis yang gue alami. Ternyata teman ini, namanya Wieke, baru saja memulai bisnis berjualan tahu petis Semarang di mal Ambassador. Langsung pula menjanjikan membawakan beberapa buah untuk mencoba kalau gue belum sempat ke Ambas. Well, namanya juga gue, demi makanan malas pun dihadang. Besoknya gue ke Ambas khusus untuk beli tahu ini.
Ketika itu kemasannya belum seperti ini, masih kertas coklat bertuliskan mereknya saja. Gue ingat persis gue langsung pesan tiga buah untuk dimakan di tempat. Ketika tahu-tahu itu sampai ke hadapan, rasanya gue menarik nafas panjang. This is it, the long agony of waiting is over. I'm about to savor the tahu petis again. Dan pandangan pertama gue tidak salah. Rasa tahu dan petisnya persis sis sis sis tahu petis yang ada di Semarang. Enak banget tahunya, dan petisnya juga royal sampai meleleh-leleh ke sisi tahunya. Simple pleasure...
Sejak saat itu gue mentasbihkan tahu petis yudhistira sebagai tahu petis Semarang paling otentik di Jakarta. Bukan hanya karena yang punya adalah seorang teman, tapi memang rasanya patut diberi acungan jempol. Sejak itu seringkali gue beli untuk dibawa pulang dan bokap nyokap bertanya-tanya gimana bisa anaknya yang dulu muntah karena tahu petis sekarang jadi semaniak ini. People do change :)
Hari ini gue kembali membeli sepuluh buah tahu petis diiringi pesan, petisnya yang banyak. Dan benar saja, diberikan petis sampai meleleh jatuh ke kotaknya. Dari Santa sampai SCBD gue nyetir sambil ngemil tahu ini. Anggap aja sarapan ya :D
Well, dear Wieke dan Doni, terima kasih banyak ya. Inovasi dan kerja keras kalian untuk membawa tahu petis ke Jakarta benar-benar menjadi kenikmatan tersendiri buat gue. Gak perlu jauh-jauh lagi ke Semarang, cukup ke Ambas atau Santa dan gue sudah bisa menikmati salah satu makanan to die for ini. Tujuan gue sekarang cuma satu, bikin bule-bule suka sama makanan ini. Selama ini kalau gue tawarin mereka selalu menolak karena gak tahan sama warna dan bau petisnya padahal udah gue rayu dengan bilang ini adalah makanan yang dibuat di surga :))
Langganan:
Postingan (Atom)
























