2 bulan lalu kelompok bermain gw yang menamakan dirinya Cemenerz memutuskan untuk melakukan liburan singkat. Dari berbagai pilihan, gw kalah suara. Pilihan jatuh ke KL. Mengingat gw selalu mengalah, ya udah lah ikut aja.
Entah kenapa akhirnya perjalanan ini menjadi menyenangkan. Gw yang tadinya berangkat dengan setengah hati lama-kelamaan bisa menikmati. Mungkin juga karena sudah berdamai dengan orang yang pernah menyakiti gw itu dan malah dia yang selalu memandu kemana aja gw harus pergi. Biarpun dengan bodohnya kami gak bisa mencari waktu yang tepat untuk ketemu. Empat hari di KL dan gak bisa ketemuan?? Haduuuhhh bodohnya gw
Hari terakhir di sana kami harus menunggu flight yang memang jadwalnya malam sekali. Kelelahan dan kebosanan mengunjungi mal membuat kebingungan apa lagi yang mau dilakukan. Tapi ternyata toh, seperti juga kalau mati gaya di Jakarta, kami terpuruk di sebuah mal juga. Kali ini letaknya hanya di seberang hotel.
Saat duduk-duduk di food court-nya (oiya, ini mal ada Sogo-nya tapi penampakannya kelas Ramayana doang loh) gw mencoba makanan cemilan yang bernama Popiah. Gw tau sih Popiah ini rasanya mirip lumpia semarang. Yang membedakan saat itu adalah di dalamnya dicampurkan semacam kremes jadi memang cukup menggoda.
Singkat kata gw jatuh cinta kepada sang Popiah. Emang enak banget. Ndilalah tiga hari lalu kok ya gw ngidam (inget ya, bahasa Indonesia-nya ngidam, bukan nyidam) si Popiah. Mau beli dimana coba? Akhirnya nekat nyoba bikin dengan liat-liat resep di dunia maya ini.
Hasilnya? Kulit popiahnya terlalu tebal *hiks* dan gak bisa melipat dengan sempurna karena penggorengan yang gw punya terlalu kecil diameternya sehingga hanya bisa membuat kulit lingkaran kecil pula. Rasa isinya sih gak buruk sama sekali, sangat bisa dimakan, tapi tampilannya jadi berantakan karena gak bisa dilipat itu.
Ya sudahlah, yang penting gak penasaran lagi toh mencoba buat popiah. Hati senang, lidah puas, dan yang penting… gak harus jauh-jauh ke KL atau Singapura
0 komentar:
Posting Komentar