Kata-kata di atas pasti sering kita dengar dan alami, seperti juga yang baru terjadi pada gw dan seorang teman malam ini.Ceritanya, dengan maraknya penggunaan media sosial banyak sekali orang yang memanfaatkannya guna mempromosikan usaha seperti misalnya (yang terbanyak) rumah makan. Salah satu dari yang sangat berhasil memanfaatkan media sosial (Twitter dan Facebook) ini adalah sebuah restoran (layak disebut restoran nggak ya?) yang mengkhususkan diri pada steak. Sebagai orang yang selalu mengikuti perkembangan hal semacam itu, tentulah gw memaksakan diri untuk mencobanya.
Waktu pertama kali mencoba, gw memilih untuk memesan daging yang biasa. Kenapa? Kalo langsung pesan wagyu dan rasanya enak ya wajar dong. Namanya juga wagyu. Tapi kalau mereka berhasil memasak daging biasa dengan enak, bisa dipastikan wagyunya akan mencengangkan. Gw masih sangat ingat, pesanan pertama gw adalah NZ Rib Eye, well done.
Here's the issue why I asked for well done. The best way to enjoy a steak is when it is cooked medium or medium well done where it is cooked outside but still a bit pinkish inside. This way, you will still get the juice out of the meat. Saat itu gw memilih well done lagi-lagi dengan alasan untuk kepentingan perbandingan. Kalau well done aja mereka bisa bikin enak, medium atau medium well done akan lebih enak.
Dalam waktu 20 menit datanglah steak itu dengan saus BBBQ sesuai permintaan gw. Gw gak akan cerita secara detil gimana rasanya karena fokus dari tulisan itu bukan di situ. Intinya sih enak banget - ingat, ini berdasar selera gw - dan gw berjanji akan kembali. Janji ini terbukti gw penuhi dengan beberapa kunjungan berikutnya. Dan masih pengen lagi...
Secara gw punya teman yang sepertinya lidahnya lumayan sama tajamnya dalam menilai makanan, gw coba minta dia untuk makan di restoran yang sama. Sayangnya karena punya bocah lucu yang gak suka makan daging, permintaan ini baru bisa dipenuhi delapan bulan kemudian. Sebelum datang ke restoran yang ini, dua hari sebelumnya mereka sekeluarga pergi ke restoran steak yang sudah sangat melegenda di ibukota Jakarta ini. Lebay? Sepertinya nggak. Coba kalau ada yang tanya, "Apa restoran steak terkenal di Cipete Raya?" Gw yakin hampir sebagian besar warga Jakarta kelas menengah pasti tau jawabannya. Dulu pun gw sering bela-belain kesana demi bisa makan steak enak dengan harga murah.
Beda kan tampilannya? Ya iyalah jelas wong beda restoran kok :)
Setelah percobaan pertama makan di restoran yang beken karena sosial media ini, sang teman melaporkan hasilnya. Isinya: kaya karet. Hah? Kok bisa padahal dia memesan NZ rib eye juga? Pembicaraan berlanjut ke bagaimana kami masing-masing menilai rasa steak di kedua restoran tersebut. Restoran pertama, menurut sang teman, lebih bergaya Eropa, dimana saus steak disajikan terpisah dalam mangkuk kecil dan dengan side dish berupa tumis buncis dan daging steak dibumbui secara minimalis namun dapat terlihat bumbu apa saja yang ditaburkan di situ. Secara pribadi, gw bisa merasakan lada, garam, rosemarry, dan satu bumbu yang sampai sekarang belum bisa tertebak apa. Pemberian bumbu yang minimalis menghasilkan rasa yang ringan, yang buat gw memberikan kesempatan lebih besar kepada lidah untuk merasakan tekstur daging setiap lapisannya yang juicy itu. Saus yang bisa dicocol saja ternyata memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk meraba-raba sampai sebanyak apa saus yang mereka butuhkan untuk mencapai kunyahan terenak dari sepotong daging seberat 200 gram itu. Hasilnya buat gw adalah: Perfecto. Love it.
Masih atas pendapat gw, restoran steak legendaris itu sekarang sudah sedikit berubah. Ya memang harus diakui rasanya tetap enak untuk harga yang dibayarkan. Tetapi harus diingat juga, hanya di Cipete yang bisa mempertahankan rasanya. Coba ke cabangnya yang di Tebet. Minta ampun deh... Terakhir gw makan yang di Cipete sekitar 5 bulan lalu. Seperti biasa kalau di Cipete gw akan pesan NZ rib eye karena di situ satu-satunya tempat resto itu di mana gw masih bisa merasakan irisan daging yang lurus. Serat dagingnya tidak terganggu dengan potongan yang asal atau terlalu sering dibolak balik saat dipanggang. Tetapi tetap saja steak di situ, lagi-lagi buat gw, agak kurang bertekstur. Rasanya di mulut seperti mengulum sesuatu yang sulit ditebak kalau mata kita ditutup dan tidak tau apa yang disuapkan ke mulut. Itu di resto pusatnya, apalagi di cabangnya. Makanya kalau makan di cabang gw cuma makan ikan kakap. Satu lagi, peletakan sayurannya itu lho... Berantakan banget. Bisa menghilangkan appetite :)
Sementara itu, teman gw berpendapat yang benar benar terbalik. Dia tidak begitu menyukai restoran berbasis media sosial itu, tetapi sangat mencintai sang resto legendaris. Kami sempat bicara selama 10 menit mengenai resto ini begini resto itu begitu sampai kemudian gw tersadar. Selera memang tidak untuk diperdebatkan. Mau berantem seperti apapun tidak akan ada jawaban yang pasti kalau kita sudah membicarakan selera. Toh selama ini untuk banyak makanan lainnya kami seringkali setuju akan rasanya. Tetapi kali ini terpaksa kami harus mengakui bahwa kami berbeda selera :))
Penyelesaiannya? Gw bilang tadi, berarti kedudukan 1:1 untuk resto pilihan gw dan pilihan dia. Berarti kami harus bersama-sama mendatangi satu resto steak lainnya untuk menentukan apakah kami bisa menyetujui definisi dari steak enak. Restoran yang mana? Tentu saja yang menyajikan steak terbaik menurut gw. Curang ya :)) Restoran ini ada di lantai dua gedung perbelanjaan tertua di Jakarta (Pusat), di pinggir jalan utama yang sangat terkenal (halah sok rahasia :p). Resto ini langganan para orang asing yang bekerja di Jakarta, sehingga seringkali dianggap sebagai tempat yang tepat kalau mau cari pacar bule :))
Well, I'm really looking forward to the momen when I can drag this lady and her daughter to Central Jakarta and enjoy a piece of grilled meat together. 1 porsi jelas harus berbagi karena besaaaarrrrr sekali ukurannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Bwahahaha..well written and very true:D *hugs*
Posting Komentar